Caraku Menghemat Biaya Tahlilan (Plus Printable To-Do List & Tip)

Yang namanya slametan/makan-makan bisa 2-5 kali setahun di rumah ibuku yang orang Jawa. Ibuku sangat menikmati repotnya masak besar. Dulu nggak pernah ikut-ikut. Paling cuma bantu-bantu masukkan masakan dan jajan ke kotaknya. Sampai ibuku meninggal nggak tahu sebesar apa biaya slametan. Yang menculek-culek mataku cuma repotnya.

Maka hanya bisa menghela napas setelah merekap biaya tahlilan 40 hari Bunda. Tujuh-setengah-juta. Biaya tahlilan H-1 sampai H-7 ditanggung adikku perempuan. Aku yakin dia sendiri nggak ngitung total uang keluar. Yang pasti di H-7, buat jajan kotakannya aja dia habis 2 juta lebih. Lempernya sepuluh ribuan.

Iya, masak sendiri jauh lebih hemat. Kuakui itu. Mungkin 7,5 juta tadi bisa ditekan sampai separuhnya. Kuputuskan nggak masak sendiri karena dua alasan. Satu: paling nggak bisa lihat diriku sendiri atau orang lain nggak mentas-mentas dari dapur kecuali dia koki profesional yang kerja di hotel atau restoran. Jangan tanya kenapa. Nggak punya jawabannya. Dua: kalau masak sendiri menunya itu-itu saja. Lebih jelasnya kukasih tahu nanti. Teruslah membaca.

Aku berkeyakinan nggak masak sendiri pun bisa dihemat mengingat undangannya nggak sampai 100 orang. Jadi berbekal Catatan Evaluasi yang kubuat setelah tahlil 40 hari dan 100 hari, kutantang diri sendiri untuk menghemat biaya tahlilan 1000 hari tanpa menurunkan standar.

Caraku Menghemat Biaya Tahlilan

  1. Mulai dengan menyusun Daftar Penerima Berkatan Yang Terperinci

Kutulis satu demi satu nama. Untuk golongan saudara kukonsultasikan dengan sepupu yang tinggal di kampung. Untuk golongan tetangga kukonsultasikan dengan satpam RT. Mereka yang bisa nyebut semua nama saudara di kampung dan semua nama tetangga se-RT. Nggak kukonsultasikan dengan suami atau adik.

Kudengarkan saran satpam untuk tidak memasukkan para tetangga yang rumahnya agak jauh, orang baru yang nggak kenal bapak-ibuku dan tetangga pengontrak.

Kuminta sepupu nyebut nama semua ponakan bunda. Datang nggak datang mereka kukasih berkatan. Kumasukkan juga non-saudara yang berjasa ke bapak-ibuku. Contohnya Mbak Tutik yang selalu jadi koki kepala acara masak-masak –dapurnya jadi dapur umum– tiap kali Bunda bikin acara buka puasa di kampungnya.

Ada satu lagi golongan tamu undangan: anak yatim panti persis depan rumah. Aku dikasih angka 30 anak. Yang ini nggak mungkin kuminta namanya satu-satu.

Terakhir, nama-nama lingkar dalam seperti 3 ponakanku dan Mbak Tin, ART part-time yang kerja di rumah ibuku sejak 1999.

Seterperinci itu.

Ketemu 92 nama. Kulebihkan 3 berkatan buat cadangan. Jadi pesan 95 nasi kotak dan 95 jajan kotak.

Dengan Daftar Penerima Berkatan yang disusun seksama, aku nggak khawatir berkatan kurang atau berlebih-lebih, nggak perlu banyak-banyak nyiapkan berkatan cadangan dan nggak bingung mendistribusikannya di hari-H.

Dari pengalamanku, kita nggak bisa kaku dengan Daftar Penerima Berkatan tadi. Selalu ada yang di luar perhitungan. Nggak mungkin semua datang. Harus siap kemasukan nama-nama yang wajib dikasih berkatan di detik-detik terakhir. Biasanya karena urun jajan atau karena datang meski nggak diundang. Berkat daftar nama, aku bisa bikin keputusan cepat: berkatan buat adik Mbak Tin yang nggak datang dan nggak wajib juga kujatah kualihkan untuk supir mobil sewaan saudara dari kampung yang harus nunggu dari siang, jatah ponakan kualihkan untuk anak sepupu yang meski nggak datang tapi urun jajan.

Kalau nggak mau ngepaskan jumlah berkatan karena tetap khawatir nggak cukup, bisa pakai caraku: pesan 2-3 ekor ayam/bebek goreng. Kalau memang ternyata kurang, jatah kotakan lingkar dalam dan tetangga dekat bisa disiasati dengan pesanan ekstra ini. Antarkan di piring, nasinya masak sendiri, kasih 2 potong ayam/bebek per piring.

Keuntungan cara ini adalah kalau ternyata berkatan cukup, pesanan ekstra tadi bisa buat lauk orang serumah sampai 1-2 hari setelah slametan. Berapa besar kemungkinan nasi kotakan yang berlebih-lebih dipanasi buat dimakan sendiri besoknya? Umumnya orang pasti berusaha mendistribusikan habis nasi-jajan kotakan di hari itu juga.

  1. Rampingkan Pos Pengeluaran

Hampir sama dengan Daftar Penerima Berkatan tadi: buat Daftar Pos Pengeluaran yang terperinci. Nggak usah bingung dengan anggarannya dulu. Yang penting kita punya daftar apa saja yang harus dibeli atau dibayar. Kumulai dengan mendaftar pos-pos besar dengan cara merunut kegiatan slametan. Seperti ini:

  • Bersih-bersih rumah dan mindah perabotan (Pos Upah)
  • Masak-masak menyiapkan makan siang dan/atau malam (Pos Upah)
  • Undangan keluarga besar datang (Pos Makan Siang, Minuman segar dan Suguhan Jajanan dan/atau buah),
  • Undangan tetangga berdatangan setelah Maghrib (Pos Suguhan Jajanan, Buah dan Minuman)
  • Membaca surat-surat Al-Quran dan berdoa (Pos Angpao tanda terima kasih kepada pemimpin tahlil dan undangan anak yatim)
  • Makan malam para undangan (Pos Makan Malam dan Minuman)
  • Bagi-bagi berkatan (Pos Berkatan: nasi kotak, jajan kotak, minuman botolan atau gelasan, suvenir, tas berkatan)
  • Cuci piring, membersihkan rumah dan mengembalikan perabotan (Pos Upah)

Berbekal daftar pos pengeluaran ini, kuadakan sesi brainstorming dengan Mbak Titik yang berpengalaman bikin slametan. Kutambahkan yang terlewatkan olehku, kupecah pos-pos besar jadi pos-pos kecil, kutetapkan anggaran, kucari alternatif yang lebih murah dan kujajagi pos-pos yang bisa dihilangkan.

Yang kulakukan di Tahlil 1 Tahun bapak-ibuku adalah mengadakannya di rumahku di Pacet, Mojokerto, bukan di rumah induk di Surabaya. Biayanya kutanggung sendiri jadi bebas membuat keputusan. Antara lain: nggak mengundang anak yatim, berkatan minus suvenir dan minuman botolan, bersih-bersih dan cuci piring dikerjakan ramai-ramai olehku, suami dan rombongan saudara yang pulang belakangan. Pilihan-pilihan yang menghilangkan pos angpao, mengurangi biaya pos berkatan dan menghilangkan pos upah.

Karena tahlilan 1000 hari ini sifatnya wajib bagi orang Jawa, aku harus melibatkan adik-adikku. Harus mengakomodasi tuntutan adik perempuan untuk mengadakannya di rumah induk di Surabaya, mengundang anak panti persis di depan rumah.

Point berikutnya adalah caraku memastikan biaya tahlilan bisa kutekan sembari mengakomodasi tuntutan adikku tadi.

  1. Kelola Sumbangan & Urunan

Kurasa ini umum di masyarakat kita yang komunal; biaya hajatan dikeroyok. Keluarga besar dan mungkin tetangga ikut urun dalam berbagai bentuk. Yang kulakukan adalah mengkoordinasi urunan dalam berbagai bentuk ini. Aku menghindari situasi kita beli jeruk, saudara juga beli jeruk. Aku sudah pesan jajan kotakan dan suguhan ternyata 15 sepupu datang bawa jajan semua. Jadi kuhubungi adik-adikku dan para sepupu jauh-jauh hari.

Urunan kuatur per pos dengan memperhatikan kebiasaan urunan masing-masing orang.

Adik perempuan yang suka merupakan uangnya dalam bentuk barang dan sanggup keluar uang banyak kuserahi pos suvenir dan pos angpao buat anak yatim dan pemimpin tahlil. Sepupu yang suka masak besar dan selalu urun bahan masakan kuserahi pos makan siang-es-camilan untuk rombongan saudara dari kampung. Rombongan saudara dari kampung yang pasti bawa jajan atau buah kuserahi pos jajan-buah suguhan. Aku dan adikku laki yang lebih suka urun uang ngambil pos nasi dan jajan kotakan untuk berkatan.

Urunan berupa gula, minyak dan mie bisa diuangkan. Sungguhan membantu biaya tahlilan. Itu yang kulakukan di tahlilan 40 hari ibuku. Berkilo-kilo gula, minyak dan mie selama hari ke-1 sampai ke-7 nggak habis kubagikan. Juga nggak kutumpuk di rumah buat dipakai sendiri. Setelah saudara/orang dekat yang repot rewang kebagian 2 liter minyak dan 3 kg gula per orang, sisanya kuserahkan sepupu untuk dijual di kampung dengan harga di bawah harga pasar. Aku minta uang hasil penjualan diserahkan pada saat tahlilan 40 hari. Terkumpul 750 ribu.

  1. Belanja Suguhan 2-3 Jam Sebelum Acara

Meski sudah dikoordinasi tetap aja ada yang di luar perkiraan.

  • Sumbangan jajan dari bawahan adik ipar yang lumayan banyak padahal istri adikku dah beli tahu sutra 20 bungkus dan pesan gorengan.
  • Saudara dari kampung ternyata bawa jajan semua, nggak ada yang bawa buah.
  • adikku perempuan datang bawa air mineral hanya beberapa jam sebelum acara padahal aku dah beli 4 karton paginya.

Jadi tunda belanja jajan dan minuman suguhan. Khususnya yang akan disajikan selama acara. Tunggu sampai semua urunan masuk.

Kalau acaranya Ba’da maghrib, jam 5 sore mestinya sudah kita terima semua.

Takut kemepetan? Kalau situasinya sama denganku, sama sekali nggak ada alasan untuk takut.

Pertama, Almarhum ibuku dan aku nggak pernah sekalipun harus beli atau bikin semuanya sendiri untuk slametan. Setiap kali pasti ada yang urun dan banyak.

Dua, jarak antara rumah ibuku dengan penjual buah, gorengan, roti, segala macam jajanan hanya hitungan menit bersepeda motor. Kalau mau bahkan nggak perlu keluar perumahan.

Tiga, panti depan rumah jual air mineral galon dan gelasan.

Dan tolong diingat, jajan-minuman suguhan nggak perlu diperlakukan seperti nasi dan jajan berkatan; harus sama persis, semua harus dapat. Nggak semua undangan suka semangka atau onde-onde. Nggak perlu khawatir jumlahnya nggak cukup kalau belinya mepet. Untuk undangan sampai 100-an orang kita nggak butuh beli banyak.

Yang harus disiapkan jauh-jauh hari itu Daftar Suguhan. Satu, supaya belanjanya bisa kita delegasikanDua, untuk menghindari asal beli jajan karena terburu-buru.

Buat daftar yang meng-cover berbagai selera. Ada jajanan gurih seperti lemper, jajanan manis seperti pukis, roti-rotian seperti roti gulung, buah favorit seperti semangka dan gorengan seperti tahu sutra. Boleh ditambah jajanan renyah seperti stick bawang.

Untuk undangan nggak sampai 100 orang tulis jumlah beli yang sekiranya pantas ngisi 2-3 piring saji. Di daftar pastikan tertulis juga alternatif untuk tiap jenis jajanan (jangan saklek “Pokoknya harus ada lemper!”), tempat beli dan jumlahnya.

Yang kritis: siapkan Daftar Suguhan yang bisa dibeli di sekitar rumah supaya belanjanya nggak makan waktu lebih dari satu jam.

Nah, setelah semua urunan masuk, cross-check daftar tadi dengan jajan yang sudah ada. Kalau ada yang nyumbang donat banyak, nggak perlu lagi beli jajanan manis. Kalau semua urun jajan pasar, beli roti-rotian. Pastikan ada buah favorit, banyakkan jumlah buahnya. Pendek kata, belanja di jam-jam terakhir bukan cuma bisa bantu-bantu menekan biaya tahlilan tapi juga memastikan suguhan kita menggugah selera semua tamu undangan.

  1. Gabung Dua Slametan Dalam Sekali kerja

Menggabungkan dua slametan menghemat biaya sampai separuhnya. Memang nggak bisa diterapkan di semua orang dan situasi. Tapi kalau memang bisa, lakukan.

Yang kulakukan adalah menggabungkan tahlilan 1000 hari bapak dan ibuku. Orang tuaku meninggal di tahun yang sama. Selisih 18 minggu. Kucari bulan tengah antara meninggalnya Ayah dan meninggalnya Bunda. Kupilih hari Minggu. Aku dan dua adikku bukan praktisi slametan dan nggak ngambil keyakinan orang Jawa tentang Alam Kubur. Rangkaian tahlilan ini kutunaikan karena orang tuaku yang minta. Jadi adik-adikku asik-asik aja. Yang keberatan itu keluarga besar dari pihak ibuku dan orang-orang dari kampung ibuku. Untungnya nggak ada yang berani ngomong di depanku atau adik-adikku.

Kalau kita bisa melampaui ekspektasi, orang biasanya mikir dua kali untuk ngatur, menghakimi atau berkomentar.

Aku dan dua adikku bisa melampaui standar tahlilan. Kerja gabungan antara kemampuanku mengorganisasi + uang dan selera bagus adikku perempuan + hubungan baik Ayah-Bunda dengan panti asuhan depan rumah yang diteruskan oleh adikku laki. Tamu undangan dan semua orang dari kampung ibuku pulang bawa kesan bagus tentang kami bertiga. Bahkan suamiku sangat terkesan.

Adikku perempuan beli sarung untuk suvenirnya. Bukan sembarang sarung; sarung mutu tinggi dalam warna-warna lembut seperti semu merah muda, hijau pupus dan ungu muda. Warna yang nggak umum untuk sarung. Untuk anak yatim dikemas dalam kotak tebal cantik yang pantas untuk seserahan, untuk saudara dalam paperbag tebal cantik bermotif sama. Jangan tanya berapa uang yang dia keluarkan. Aku nggak tahu. Yang jelas dia nggak akan semurah hati itu kalau kami harus bikin 2 tahlilan 1000 Hari dalam jarak 18 minggu.

Bapak-ibuku punya hubungan sangat baik dengan anak-anak yatim dan pengelola panti asuhan depan rumah. Adikku laki salah satu donatur tetapnya. Ibuku dan adikku itu pelanggan tetap unit usaha panti (jual pulsa, air mineral dan gas elpiji). Adikku perempuan sangat murah hati dengan angpao yang dia serahkan ke anak-anak yatim dan pemimpin tahlilan setiap kali tahlilan.

Hasilnya tahlilan di rumah diperlakukan istimewa. Mengerahkan semua anak panti. Sebisa mungkin pengasuh panti sendiri yang turun memimpin tahlil. Pak Dimas sangat fasih dan disegani di lingkungan kami. Selalu beliau sempatkan ceramah sebentar. Doanya mantap. Tahlilan untuk bapak-ibuku jadinya bukan sekedar acara menggugurkan kewajiban ngebut baca Yasin. Kami semua mendadak diingatkan akan kedua mendiang, kebaikan mereka semasa hidup. Sungguh-sungguh mendoakan. Khidmat.

Catatan Evaluasiku

Secara keseluruhan aku merasa cukup puas dengan tahlilan 1000 hari bapak-ibuku. Uang yang aku dan adikku laki keluarkan total ada di angka 3-4 juta (nggak tahu kalau adikku perempuan). Yang berarti 1-1,5 juta lebih hemat dibanding biaya yang kukeluarkan di tahlilan 40 dan 100 hari. Bisa kulakukan tanpa menurunkan standar atau menghilangkan salah satu pos pengeluaran besar yaitu: angpao anak yatim, nasi kotak-jajan kotak, suvenir dan jajan suguhan.

Tapi kalau ada yang bisa kurubah, ada satu: ngasih instruksi yang lebih jelas dan lebih “ngatur” di urunan jajan.

Semua ingin urun tapi maunya urun jajan untuk kotakan. Memang itu yang biasa dilakukan ibuku dulu tiap kali bikin tahlilan. Beli kotak jajan ukuran besar, pesan 1-2 macam jajan aja untuk kotakannya, dipenuhkan dengan jajan urunan saudara dari kampung. Kebiasaan yang kuteruskan di tahlilan 40 dan 100 hari ibuku. Nggak kuulangi di tahlilan 1000 hari karena cara itu nggak memperhatikan selera lingkungan kota khususnya anak yatim yang doa dan ridhanya kucari.

Demi dapat manfaat sedekahnya, sungguh-sungguh kuusahakan pilihan nasi kotak dan jajan yang disukai orang banyak terutama anak yatim. Pernah kukonsultasikan dengan pengasuh panti soal nasi kotak ini. Anak-anak bosan lahir-batin dengan nasi kotakan standar. Mereka suka –lebih tepatnya minta– Nasi Bebek dan Nasi Ayam Bu Hendi yang marung di bunderan perumahan Rewwin, Waru, Sidoarjo. Rumahnya cuma 100 m dari rumah induk. Nggak cuma anak yatim. Adikku beli Nasi Ayam Bu Hendi itu untuk tambahan di tahlil 40 hari ibuku. Saudara-saudaraku dari kampung yang biasa jadi tim rewang masak semasa ibuku hidup ternyata pada milih nasi itu timbang nasi kotakan standar yang kupesan.

Untuk jajan kotakan, kucarikan roti yang bisa tahan sampai 2-3 hari. Bukan jajan standar seperti Lemper atau Kue Sus yang harus segera dimakan. Anak-anak yatim pasti dah kenyang makan nasi kotakan dan jajan suguhan. Roti bisa mereka makan besoknya atau lusa tanpa perlu dimasukkan kulkas. Kupilih roti yang nggak biasa di lingkungan perumahan kami: Roti Bludder dari spesialis roti bludder di Gresik.

Karena itulah aku minta saudara-saudaraku dari kampung untuk tetap urun jajan/buah seperti biasanya tapi bukan untuk diisikan di kotakan. Jajan/buah dari mereka kusiapkan untuk suguhan selama tahlilan.

Hasilnya: jajan suguhan melimpah-ruah tapi nggak disentuh sama undangan tetangga dan anak yatim. Nggak ada satu pun yang urun buah padahal dulu-dulu selalu ada yang urun jeruk. Lagi-lagi adikku perempuan yang paling ada di antara kami itu yang turun tangan dengan caranya. Dia beli berkilo-kilo anggur impor. Kurasa habis jutaan buat anggur thok.

Seharusnya kusampaikan ke saudara-saudara untuk:

  • Menyiapkan jajan dalam jumlah sedikit saja, nggak perlu sebanyak biasanya, cukup 10-30 buah per jajan.
  • Menyediakan daftar tertulis buah dan jajan yang kusarankan (dengan memperhatikan kebiasaan urun mereka).
  • Menunjuk satu saudara untuk mengkoordinasi jajan-buah urunan dari saudara-saudara di kampung.

Atau:

Menyiapkan kotak jajan kosongan ukuran besar. Atau tas plastik warna-warni karena tas berkatan sepertinya disiapkan untuk nampung satu nasi kotak dan satu jajan kotak saja. Memenuhinya dengan jajan urunan. Lalu menambahkan jajan ekstra ini ke berkatan untuk golongan saudara. Jadi tetangga dan anak yatim dapat Roti Bludder, saudara dapat Roti Bludder+jajan urunan.

Ya Allah, kenapa baru kepikiran sekarang? Sampai hari ini aku masih merasa sangat nggak enak ke saudara-saudara yang sudah repot-repot bikin/pesan jajan harus lihat sendiri jajan hasil jerih-payahnya itu disuguhkan dan nggak ada yang ngambil. Nggak kuat saingan dengan anggur impor.

image
Almarhum Ayah yang orang Aceh di hari pernikahanku. Nggak genap 3 tahun sebelum meninggalnya.

Sebagai ibu rumah tangga baiknya belajar mengorganisasi event rumahan seperti slametan dengan prinsip low cost high output dari sekarang. Jangan nunggu salah satu anggota keluarga meninggal. Itu satu keahlian yang sangat membantu keuangan rumah tangga.

Sudah kubuatkan To-Do List Slametan Berkesan yang bisa di-printBisa diterapkan di acara rumahan lain yang jumlah undangannya 100-an orang (kusarankan bukan kita sendiri yang turun tangan masak-masak). Yasinan RT misalnya. Kalau masak sendiri baiknya tunjuk orang lain jadi EO. Banyak keputusan yang harus diambil, nggak bisa disambi masak besar. Silakan di-print dan disebarluaskan di Facebook.

Yang ingin tanya tentang tahlilan atau punya cara jagoan nekan biaya event rumahan yang aku nggak tahu tolong tulis di Comment.

Untuk terus dapat ide-ide berhemat demi rumah-tangga-rendah-biaya-tinggi-derajat dariku, sentuh aja kotak kecil di pojok kanan bawah smartphone. Atau ikuti @rumahbarangtinggalan di Instagram.

Advertisements

2 thoughts on “Caraku Menghemat Biaya Tahlilan (Plus Printable To-Do List & Tip)

  1. Makasi mbak tipsnya… Suatu saat pasti berguna buatku. Jadi ingat, ibuku nggak pinter masak tp pinter kalo urusan jadi EO selametan/arisan/ pengajian
    Kebalikannya ibu mertua pintar masak tp tiap acara selametan waktunya habis buat di dapur ngurusi berkat, dan esensi acaranya jadi hilang…

    1. Aku deh yg makasih deh, Mbak Mona. Senang sekali hatiku kalau ada yg bilang tulisanku berguna..

      Kulihat kebanyakan IRT sibuk nunjukkan betapa hebatnya dirinya di dapur, menghabiskan banyak sekali waktu dan energi buat masak/bikin kue, jadi abai sama yg lain termasuk yg lebih penting dari masak dan makan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s