Bungkus Permen Coklat: Tutorial

Dengan umrah kemarin total dua kali aku-suami ke luar negeri. Yang pertama ke Kuala Lumpur nggak lama setelah nikah. Harus kutegaskan di sini: pergi ke luar negeri sebelum naruh DP rumah bukan keputusan yang smart. Meski ke KL dulu cuma tiket pesawat dan oleh-oleh dari Indonesia yang harus kupikir –nginap, makan, transportasi termasuk oleh-oleh dari KL ditanggung pakdhe, budhe dan 2 adik budhe– tetap nggak kuanjurkan sebelum kita naruh DP rumah.

Ini soal test-case.

Kemampuan ekonomi kita separuh ditentukan oleh jumlah penghasilan kita dibandingkan secara relatif dengan penghasilan rata-rata lingkar sosial kita (kecil buat kelas menengah kan besar buat kelas bawah). Separuhnya lagi ditentukan kemampuan mengelola penghasilan tadi. Masuk dalam kemampuan mengelola ini adalah kesanggupan membuat prioritas. Penting sekali bagi keuangan non-PNS seperti keuangan rumah tanggaku untuk memprioritaskan DP rumah begitu menikah karena itu uang besar pertama yang butuh kemampuan mengelola penghasilan. Makan sehari-hari, tagihan PLN & PDAM, pulsa dan buwuh bisa diatasi dengan punya penghasilan tetap, nggak perlu kemampuan mengelola penghasilan. Asal dapat gaji dah ketutup. Tapi berapa orang yang bisa punya talkshow rating tinggi seperti Tukul atau Corbuzier? Sanggup beli 10 rumah sekaligus, tunai? Sebagian besar orang pasti harus kerja otak, gimana caranya supaya penghasilan rutinnya nggak langsung habis, bisa disisihkan untuk dikumpulkan buat DP rumah.

Dan ternyata kemampuan mengelola lebih dari sekedar kemampuan berhemat. Mungkin bisa diilustrasikan oleh-oleh permen coklat yang kubeli di Mekkah. Ngandalkan kemampuan berhemat, kubagi aja satu orang satu. Bisa buat 75-an orang. Masalahnya, yang datang ke rumah bawa minyak goreng 2 liter dan gula sekilo pasti mengharapkan lebih dari sebiji permen coklat. Biarpun permen coklatnya dari Arab juga.

Jadi yang kulakukan:

image

Fungsi

Mengemas permen coklat supaya tampil meriah dan layak dibagikan sebagai (salah satu) oleh-oleh ke saudara dan mereka yang datang ke rumah bawa minyak goreng dan gula.

Sampah Yang Jadi Bahan

image

  1. Kantong plastik bungkus kartu undangan mantenan ukuran kecil (sisa dari mantenanku dulu).
  2. Kertas karton tebal untuk latar kantong plastik (kudapat dari kardus kue, piring kertas dan paper bag).
  3. Rupa-rupa tali (tali tas berkatan, tali paperbag, tali guling).
  4. Kertas karton yang tipis untuk cut-out hati (kudapat dari kartu lebaran almarhum bapakku dan sisa kertas latar).

Tip & Trik

Kumulai dengan menghitung berapa paket yang kubutuhkan dan berapa yang bisa kubuat. Yang sekiranya pantas. Ketemu di 5 permen per paket.

Kukelompokkan lima-lima berdasar keserasian warna. Jangan acak karena ini patokan menentukan warna kertas yang melatari kantong plastik. Kusarankan kerja di permukaan yang luas. Harus siap beberapa kali bongkar-pasang untuk bisa nemu paduan warna yang pas untuk semua permen.

Kubuat master kertas latarnya. Kugunting kotak gitu aja pakai perasaan. Kumasukkan dalam plastik untuk mastikan lebar kertas lebih kecil dari lebar plastik supaya plastik bisa ‘ngembang’ begitu permen masuk.

Langsung kuuji. Kutata 5 permen dalam plastik yang sudah dilapisi master kertas latar tadi. Setelah puas lihat hasilnya baru kertas latar kuperbanyak dengan cara ngeblat seperti di foto berikut.

image

Teknik ngeblat seperti ini lebih hemat waktu daripada ukur-ukur dengan penggaris.

Memanfaatkan bahan sampah harus siap terima hasil akhir yang nggak identik. Mauku kertas latar warna emas dan hitam saja. Ternyata bahannya nggak cukup. Akhirnya kutambah kertas warna merah. Kupilih warna yang kontras/menonjolkan warna permen.

Setelah semua paket dapat kertas latar, baru kutata dalam plastik. Kupastikan dulu jumlah paket yang berlatar emas, merah dan hitam imbang. Itu satu cara menyiasati hasil akhir yang nggak identik.

image

Buat sebagian orang, seperti yang di foto di bawah ini mungkin sudah cukup representatif. Menurutku masih bisa lebih meriah lagi. Kalau memang merasa cukup dengan kertas latar dan plastik, kertas latar guntinganku ini kepanjangan. Sengaja kulebihkan buat ‘dudukan’ hiasan.

image

Masih ingat Teknik Sabuk? Kalau lupa boleh baca lagi di sini karena nggak kuulang di pos ini. Kucarikan 2 macam tali dan hati dari kertas untuk tiap paket. Kutata seperti ini sebelum kupasangkan demi memastikan keserasian tampilan dan keseimbangan jumlah desain yang beda-beda. Jenis tali, warna tali, bentuk hiasan hati, ukuran hati dan warna hatinya nggak sama. Kalau nggak seksama hasil akhirnya kacau, semburat.

image

Setelah semua dapat jatah tali dan hati, aku merasa hasilnya masih agak kacau. Harus nambah satu elemen yang sama. Akhirnya kutambah pita emas yang stoknya cukup untuk semua paket. Hati yang berukuran kecil kuganti dengan hati yang ukurannya sama tapi kutempel di kertas persegi untuk ‘mbesarkan’ ukurannya. Kubuat dari sisa-sisa kertas latar. Itu cukup untuk nawar kesan semburatnya.

image

Setelah semua paket dapat jatah tali, pita, hiasan kertas dan puas lihat keseluruhannya, baru pasangkan satu-satu. Kalau nggak gitu bisa-bisa 2-3 kali bongkar-pasang.

Begitulah.

image

Yang pasti bikin anak kecil langsung kepingin. Sepertinya bungkus ini bisa ngangkat permen apapun. Nggak harus coklat. Nggak harus naik Qatar Airways dari Saudi Arabia.

Jadi kurasa kemampuan mengelola penghasilan diukur dari kemampuan mencapai tujuan-tujuan keuangan yang kita tetapkan sendiri, bukan dari berapa banyak yang bisa kita hemat. Kalau permen-permen ini penghasilan suamiku, maka pengemasan seperti ini mengantarnya ke tujuannya. Sayang belum bisa ngasih tutorial di bidang pengelolaan penghasilan. Aku sendiri masih gagap. Kalau toh aku nulis tentang keuangan, itu karena banyak pelajaran yang bisa kuambil dari kesalahan-kesalahan (fatal) mengelola keuangan rumah tanggaku 6 tahun ini. Bukan karena aku lebih tahu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s