Bungkus Kado Kertas Nasi Bungkus: Tutorial

I don’t work for my blog. It works for me.

Sederhananya gini.

Kulihat banyak blog dan akun kreatif di Instagram yang mengada-adakan project, bikin-bikin sesuatu demi kejar tayang postingan. Andai aku milih spesialisasi kerajinan sampah untuk content blog ini, kerjaku juga jadi kejar setoran.

Nggak tertarik mbangun content kerajinan sampah. Ini hanya satu dari sekian ketrampilan yang akan kutekuni demi mewujudkan rumah tangga rendah biaya tinggi derajat.

Keputusanku jadi ibu rumah tangga harus bisa menghasilkan lebih dari kerajinan tangan.

Hayati memang suka bikin diri sendiri stres..

Jangan tanya persisnya kapan kuputuskan. Karena seingatku awalnya blog ini cuma media belajar nulis artikel ringan buat kukirim ke majalah perempuan. Entah gimana ceritanya ini blog lantas jadi alat bantuku mendefinisikan kerja rumah tangga yang berdampak dan fulfilling. Nggak muluk-muluk, buatku sendiri dan rumah tanggaku.

Jangan salah, aku girang posku di-share orang di Facebook. Aku senang lihat statistikku terus naik meski padat merayap. Aku terharu ada orang-orang yang rutin datang baca postinganku. Tapi kepuasan terbesar kudapat dari lihat efek tulisan-tulisanku terhadap rumahku, dapurku, pengelolaan keuanganku dan feedku di media sosial.

Ngaruh loh!

Bungkus kado dari kertas nasi bungkus ini misalnya. Nggak akan kepikiran bikin yang seperti ini kalau bukan karena seri 3-pos yang kutulis gara-gara galau lihat biaya yang harus kita siapkan untuk suvenir hajatan. Yang kumaksud dengan seri 3-pos: bungkus kado non-kertas kado, wadah suvenir nggak biasa sama kado tanpa bungkus. Kutulis hampir dua tahun lalu. Kalau pingin tahu sebesar apa dampak tiga pos itu, gini, 2 tahun lalu itu aku nggak bisa dan nggak percaya sanggup bikin bungkusan yang suamiku berkomentar, “Ini bungkusnya lebih mahal daripada isinya.”

Yang beli cuma selotip bolak-balik, benang toko bangunan dan lem tembak.

Dia buta-kreatif.

Nah, ini mumpung aku lagi nggarap Project Oleh-Oleh Raja Arab, project butuh, bukan project yang kuada-adakan demi kejar setoran postingan, dan aku puas lihat hasilnya, kubuatkan tutorial. Doa pertama: Semoga jadi amal jariyahku. Tolong diaminkan.

image

Fungsi

Bikin aku pe-de ngasih kerudung 20 ribuan per orang yang datang ke rumah sepulangku umrah. Mereka ini sepupu-sepupuku dari pihak ibu. Mereka biasa dapat bingkisan bagus-mahal dari adikku yang juga sponsor tunggal umrahku.

Salah satu prinsip hidupku adalah jangan menonjolkan diri tapi berusahalah pantas.

Nggak sanggup beli oleh-oleh mahal. Aku butuh bungkus yang bisa nambah nilai uang yang 20 ribu itu. Kertas kado biasa nggak bisa. Lagipula dah habis banyak buat oleh-oleh, nggak mau keluar uang lagi buat kertas kado atau kertas lain.

Sampah Yang Jadi Bahan I

image

  1. Kertas coklat buat nasi bungkus
  2. Dus susu SGM Soya 200 gram

Tip & Trik

image

Satu lembar kertas ternyata kurang panjang jadi kutambah 1/4-nya. Rekatkan dengan selotip bolak-balik. Lebih rapi. Nggak perlu segaris lebar itu diselotip. Cukup tiga garis pendek di kedua ujung kertas dan tengah. Lebarnya kukurangi 3-4 cm. Kurangkan sebelum disambung.

image

Untuk dapat visual interest, permukaan yang mengkilap hadapkan ke luar.

image

Buat lipatan di garis sambungan kertas tambahan tadi. Masih demi dapat visual interest sekaligus nyembunyikan garis sambungan.

image

Rekatkan lipatan dengan selotip. Satu garis pendek cukup.

image

Hadapkan permukaan mengkilap (kertas yang panjang, yang 4/5) ke luar.

image

Posisikan dus susu di center dulu.

image

Lipat sisi-sisi kertas menutupi dus. Nah, di bagian ini geser-geser kertas untuk menempatkan kolom yang mengkilap menyamping. Sisi kanan atau kiri nggak masalah, sama aja di tahap ini.

image

Ada teknik untuk memastikan ujung atas-bawah terlipat rapi. Sayang nggak ada fotonya. Ruwet kalau kugambarkan hanya dengan kata-kata. Yang jelas gini: rapi karena segitiganya sama kaki. Bingung kan?

image

Ini yang kumaksud dengan visual interest.

image

Tampak samping. Kalau nggak suka lihat celahnya itu, tambah selotipnya. Menurutku sih nggak perlu.

Sampah Yang Jadi Bahan II

Sekarang bagian menghiasnya. Kupakai teknik yang sederhana sebetulnya: Teknik Sabuk.

Bayangkan dus susunya itu tubuh perempuan Jepang, kertas nasi bungkusnya itu kimono. Nah, hiasan ini obi-nya. Sabuknya. Kita butuh sabuk dan buckle (kepala sabuk).

As simple as that.

image

Apa aja bisa jadi sabuk asal panjang. Satu pita atau satu tali cukup. Tapi untuk dapat kesan mewah, pastikan sabuknya terdiri dari paling sedikit 2 benda beda ukuran dan beda bahan. Lebih bagus kalau bisa beda tekstur. Untuk bungkus ini kupakai 3 benda: kertas berulir (kertas dalam kaleng Danish Cookies), pita dan benang bangunan.

Jangan ragu untuk coba-coba bahan lain seperti kertas minyak, kain dan tali rafia misalnya. Kita hanya perlu memastikan mereka berwarna serasi.

Prinsip yang sama juga berlaku untuk kepala sabuknya. Paling sedikit 3 benda. Hanya saja selain beda ukuran dan bahan, usahakan beda bentuk, pastikan beda tekstur. Makin beragam, makin bagus jadinya. Di sini kupakai kembang yang kubuat dari amplop angpao cacat (tutorialnya menyusul), karung sayuran dari plastik yang berbentuk jaring berwarna oranye terang dan ranting kering. Kupilih ranting yang bercabang banyak.

Sekali lagi, jangan ragu mencoba-coba dari bahan-bahan lain yang ada di rumah. Bunga kering, daun kering, potongan gambar kartun dari sampul buku, kain perca; kemungkinannya nggak terbatas.

Teknik penempatannya kurasa cukup dijelaskan dengan jahitan foto berikut.

image

Mungkin yang perlu kutekankan, tumpuk penempatannya.

Prinsipnya adalah: makin banyak tumpukannya, makin berlayer, makin glamor.

Jaring oranye kuselipkan gitu aja di bawah benang. Dah mapan. Kembang dan rantingnya kutempelkan ke pita dengan lem tembak.

Karena kertas Danish Cookiesnya nggak cukup panjang, nggak bisa melilit selebar badan dus. Pitanya kubuat sepanjang kertasnya. Talinya yang kupanjangkan karena harus menjuntai untuk dapat kesan mewah. Buatku sih nggak masalah punggungnya bolong seperti sundel. Perhatian orang sudah cukup disedot sama ‘kepala sabuk’-nya.

Ini teknikku untuk memastikan sabuk terpasang rapi:

  • Rekatkan selotip di ujung tengah sisi kiri dan kanan kertas Danish Cookies
  • Kelupas selotip
  • Center-kan kertas Danish Cookies di atas dus
  • Mulai dengan merekatkan sisi sebelah kiri
  • Agak tarik kertas ke arah sisi kanan untuk merapatkannya dengan dus
  • Baru rekatkan sisi yang kanan

Ulangi cara itu untuk menempatkan pita.

Setelah jadi, terasa masih ada yang kurang. Lalu terlintas untuk pakai mutiara-mutiaraan dari kalungku yang putus rantainya buat ‘melengkapi’ kembangnya. Efeknya ternyata..

image

There, you have it.

Kalau ada yang coba, lebih-lebih mau bereksperimen dengan bahan lain teknik sama, aku mau dong lihat hasilnya. Unggah fotonya ke Instagram, tag @rumahbarangtinggalan supaya aku bisa lihat.

Doa kedua: Semoga bisa jadi obat galau lihat harga bungkus suvenir dari plastik mika yang harganya bikin aku tahan napas (mengingat pasti dan segera dibuangnya).

Amin..

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s