Andai Empress Ki Jadi Ibu Rumah-Tangga

Empress Ki adalah tokoh nyata yang hidup pada abad ke-14. Seorang perempuan persembahan asal Korea yang akhirnya naik tahta di ujung Dinasti Yuan Kekaisaran Cina.

Nggak dibilangi pun kita langsung tahu drama TV Korea yang diangkat dari kisah hidupnya nggak bakalan akurat. Sekarang mari kita pikir:

  • Tiga laki-laki paling ganteng sak-serial itu kok jatuh cintanya ke dia semua? Bukan laki-laki biasa pula; dua raja, yang satu ksatria-intelek.
  • Tiga-tiganya bukan cuma cinta mati ke dia tapi juga mengorbankan nyawa demi dia.
  • Buat perempuan yang ahli panah, kemana-mana naik kuda, sempat jadi ketua preman pasar terus ajudan polisi, bolak-balik terjun ke pertarungan dan pertempuran, kok sekujur tubuh bisa putih-mulusnya gitu, jari-jarinya lentik, wajahnya bening.
  • Dengan semua ‘aset’ tadi, dia bisa nyamar jadi laki-laki selama bertahun-tahun, nggak ketahuan!

Itu belum plotnya.

Lha iya, tiap kali ada yang omong-omongan rahasia kok mesti ada yang nguping.

Tiap kali ada yang kepepet dalam pertempuran, kok mesti ada pasukan atau teman yang loncat dari layar TV sisi sebelah kanan buat nolong.

Nggak akan kujadikan pos blog kalau nggak ada pelajarannya. Aku bahkan bukan penggemar drama Korea! Waktu teman-teman kosku tergila-gila sama Meteor Garden, aku –makan kacang sambil kalungan handuk seperti supir truk– cuma bisa bilang, “Heh??”

Ini drama Korea pertama dalam sejarah hidupku yang bisa bikin aku melek nonton maraton sampai jam 3 pagi. Nggak bisa tidur saking penasarannya; gimana si Empress Ki ini mengatasi masalah yang datangnya bertubi-tubi dan nggak sekali-dua mempertaruhkan nyawa. Meski nggak masuk akal tetap aja aku takjub.

Ini juga drama yang bikin aku mikir lamaaa, berhari-hari setelah episode terakhirnya kutamatkan.

Gini.

Pembangunan karakter di serial ini ngasih ilustrasi yang sangat bagus tentang bedanya perempuan yang mengandalkan keberanian, keahlian dan kemampuan dengan perempuan yang mengandalkan cantik, tubuh molek, status sosial-ekonomi (dapat dari bapaknya), nama besar keluarga (bapaknya) dan tipu-muslihat.

Sekarang mari kita mencoba membayangkan karakter Empress Ki seperti yang digambarkan dalam serial TV-nya sebagai ibu rumah tangga biasa, istri dari laki-laki serba rata-rata.

Empress Ki adalah seorang yang ahli di bidang yang sangat dihargai laki-laki, yaitu bela diri, strategi dan kepemimpinan. Sebagai ibu rumah tangga seperti kita-kita ini, Empress Ki mungkin ahli dalam pengelolaan keuangan. [Laki-laki punya rasa hormat yang dalam ke perempuan yang bisa mengawetkan uangnya seperti fosil, nggak berkurang sampai jutaan tahun] Dia akan memikirkan strategi untuk punya rumah sendiri dengan penghasilan UMR suaminya dan memakai keahlian kepemimpinannya untuk menjalankan strategi itu.

Sebagai empress: Mendapatkan pelatihan pertamanya sebagai pemanah dan laki-laki. Tetapi, saat dia memutuskan ikut pemilihan selir, dia bekerja sangat keras membangun keahlian selir; dua jenis pelatihan yang bagai bumi dan langit.

Sebagai IRT: Meski dapat beasiswa Fullbright untuk gelar Ph.D-nya, begitu Empress Ki memutuskan untuk tidak bekerja, dia akan mempelajari semua ketrampilan domestik. Meski harus dari Nol Besar atau nol kecil.

Sebagai Empress: Dengan kemampuan dan kapabilitasnya yang luar biasa sekalipun, saat masuk istana, Empress Ki tetap merasa perlu berguru, sangat menghormati dan mendengarkan gurunya itu.

Sebagai IRT: Hanya karena Empress Ki ibu rumah tangga berpendidikan tinggi dan sangat dihargai di lingkungan kerjanya (ketika masih bekerja), dia nggak merasa pasti sama hebatnya di wilayah domestik. Dia tahu ada langit di atas langit. Mungkin aja yang dia jadikan guru adalah pembantu tetangga sebelah yang SMA pun nggak tamat.

Sebagai empress: jelas-jelas lebih cerdas, berani dan ahli dibanding suaminya yang kaisar, tapi dia tahu kapan harus tampil di depan, kapan harus mundur ke balik layar. Dan meski dia punya kepentingan pribadi, dia tahu kapan harus mengorbankannya.

Sebagai IRT: Walau sulit, makan hati dan bikin dada sesak lihat suaminya nggak bisa tegas, Empress Ki nggak akan ambil kendali dalam segala situasi, di depan siapa saja. Dia pun nggak pernah bicara dalam bahasa perintah atau ancaman pada suaminya. Kekuatan dan pengaruhnya dia pakai untuk kebaikan suaminya tanpa kebanyakan mulut.

Sebagai empress: nggak pernah berhitung aku dapat apa suami dapat apa tiap kali bertindak. Setiap saat kepalanya berpikir dalam kerangka ini: masalah>strategi>kerja tim>solusi.

Sebagai IRT: Suami nggak mau memakai uang tabungannya untuk keperluan rumah tangga yang mendesak, dia pakai tabungannya sendiri. Suami nggak bisa membayar hutang-hutangnya, dia yang cari cara untuk melunasi meski dia nggak ikut merasakan uangnya atau diajak rembukan saat berhutang. Suami selingkuh, dia nggak cuma nangis pasrah. Juga nggak melampiaskan kemarahan ke anak-anak, pembantu dan keluarga suami, apalagi melabrak selingkuhan suaminya.

Ringkasnya, andai Empress Ki jadi ibu rumah tangga biasa di zaman kita, dia akan:

Kelewat sibuk memecahkan masalah sampai-sampai nggak sempat mengeluh, mengasihani diri sendiri, menyalahkan orang lain atau mengkhayal.

Sebegitu capable-nya dia sampai-sampai nggak perlu minta penghargaan dan pengakuan dari siapapun termasuk dari suaminya.

Sebegitu self-focused dan action-oriented-nya dia, sampai-sampai nggak sempat jengkel, marah, pusing mikiri dan ngoreksi kelemahan dan kekurangan suaminya.

Menurutku itu sangat keren.

Nggak masuk akal, tapi tetap sangat keren.

(Foto cover dari AsianWiki)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s