Mempekerjakan Uang Receh Untuk Berhemat

Ini soal uang receh.

Secara genetis aku ini sangat terorganisasi. Di dompet, uang kukelompokkan berdasarkan nilainya. Naruhnya urut mulai dari nominal paling besar sampai paling kecil. Posisinya kusamakan: wajah para pahlawan menghadap depan. Uang kertas yang kusutnya bikin sumpek kusetrika. Uang receh rumahnya di kantong ber-resleting-nya dompet. Nggak kubiarkan uang besar atau kecil gemlethak di saku, tas, kamar, sofa, meja; berserak di seluruh rumah.
Yang ingin kukatakan adalah: kalau dari dulu (kelihatan) nggak ngecilkan arti uang receh, itu karena aku ini pribadi rapi. Nah, setelah ngerasakan mumetnya mutar keuangan rumah tangga UMR, baru lah ngerasakan pertolongan uang receh.

Di pos ini aku ingin membagi cara yang selama hampir 6 tahun ini kupakai dan kukembangkan untuk membesarkan manfaat koin. Salah satu yang membantuku sanggup matok anggaran makan kurang dari separuh gaji suami. Banyak lho yang buat makan aja habis 3/4 gaji. Suamiku misalnya. Tanpa faktor istri, gajinya habis buat makan, jajan, pulsa dan bensin, berapapun gajinya.

Langkah#1: Siapkan wadah khusus koin. Satu taruh dalam tas agar katut kemana pun kita pergi. Kusarankan dompet khusus koin yang bagus sekalian biar uang receh naik derajat di tangan kita. Jangan di plastik es lilin. Satu lagi taruh di rumah, di lokasi yang kelihatan semua orang. Bukan di celengan. Juga jangan wadah bertutup. Tujuannya dua. Satu, supaya nggak bikin pengemis-pengamen nunggu lama di pintu pagar kita. Dua, supaya kita bisa men-sourcing koin dari suami, anak-anak, pembantu cuci-setrika (yang nemu uang receh waktu cuci baju). Mangkok beling paling ideal untuk dua tujuan tadi. Naruh koin jadi sangat gampang, tinggal cemplung. Ngambilnya juga gampang, tinggal raup.

Langkah#2: Secara rutin pilah-pilah koin yang terkumpul di dompet dalam tas kita maupun yang terkumpul di mangkok. Aku melakukannya hampir tiap hari karena aliran masuk koin dari suami lumayan deras. Keluarkan koin 500 dan 1.000-an dari mangkok, taruh dalam dompet. Gitu juga dengan koin 100 dan 200-an; dari dompet lompat ke mangkok. Jangan semua. Sisakan beberapa keping uang 100 dan 200-an dalam dompet.

Langkah#3: Pastikan kita tahu jumlah total recehan di dompet at all times. Nggak perlu angka persisnya. Cukup angka kasarnya; 20 ribu? Sampai 50 ribu? Kalau iya sampai 50 ribu itu bukan solusi korat-koret lagi namanya. Itu nyelengi. Lain lagi ceritanya.

Aku hampir tiap hari merapikan isi dompet jadi selalu tahu berapa uang tunai –besar dan kecil– yang ada di tangan. Percaya nggak percaya ini kebiasaan yang sangat membantuku cermat membelanjakan uang. Berdasarkan Ilmu Titen, mereka yang:

  • uangnya berceceran
  • isi dompetnya campur aduk
  • uang kertasnya jadi buntelan-buntelan kecil
  • uang receh dibuang-buang
  • nggak pernah benar-benar tahu berapa uang tunai di tangannya

biasanya –biasanya lho ya, nggak mutlak– nggak suka dan/atau nggak bisa berhemat. Jadi kalau masih suka asal menempatkan uang, rubah dulu kebiasaan naruh-naruhnya, baru bisa belajar soal mutar penghasilan pas-pasan.

Sekarang kita masuk ke teknik pemanfaatan receh.

Teknik#1: Sedekahkan koin 100 dan 200-an

Pengemis dan pengamen nggak peduli kita ngasih koin 1.000-an satu atau 100-an 10. Bagi mereka nggak ada bedanya. Sama-sama 1.000. Mereka juga nggak akan ngitung dulu koin dari kita sebelum beranjak pergi. Dikasih 300 pun mau. Tapi ngasih 10 koin 100-an ke kasir Indomaret, cukup merepotkan dan makan waktu. Kitanya ngambil satu-satu dari dompet, kasirnya mungut satu-satu dari permukaan counter, nahan antrian. Pernah antri di bank dan orang di depan kita bawa uang sekardus mi receh semua? A big no no.

Sedekahkan aja 3/4 koin 100 dan 200-an yang masuk ke kas rumah tangga kita. Pecahannya terlalu kecil for everyone convenience. Di jaman kita ini nominal 100 dan 200 dah nggak ada nilainya. Beli cabe rawit pun nggak bisa. Pengemis dan pengamen satu-satunya yang masih menghargai nominal 100 dan 200 rupiah. Jadi aku lebih milih nahan perasaan jengkel, memindahtangankan koin 100 dan 200-an ke pengemis yang sama yang ndodok pintu pagar kontrakanku TIAP minggu (kadang 2 kali seminggu dan menurut tetangga kakinya sebetulnya nggak pincang) atau pengamen yang nyanyinya nggak niat, daripada lihat koin-koin itu menuh-menuhi dompet atau nganggur berserak di seluruh rumah. Sambil berdoa mereka memanfaatkannya untuk makan, bukan rokok.

Bagi mereka yang berat ngasih ke pengemis dan pengamen karena menganggapnya sama aja dengan men-support etos kerja yang lemah, gimana kalau sedekahnya dialihkan ke Polisi Cepek? Setelah >10 tahun nyetir sendiri di jalanan Surabaya, aku berani bilang separuh dari Polisi Cepek sangat membantuku. Dan karena sibuk kerja -di jalan lagi- mereka nggak akan ngitung koin yang mereka terima dari kita. Atau pecahannya.

Di mobil, koin 100 dan 200-an kupisahkan tempatnya dari koin 500 dan 1.000-an. Satu di bawah setir, satu di pintu supir. Yang 100-200 di mana, yang 500-1.000 di mana tergantung mana yang lebih banyak:  golongan pengemis dkk atau tukang/loket parkir dkk. Koin 100 dan 200-an nggak kueman-eman tetapi koin 500 dan 1.000-an sebisa mungkin nggak kupakai untuk tujuan sedekah.

Teknik#2: Pakai koin 500 dan 1000-an untuk bayar-bayar

Ada orang-orang yang girang dibayar dengan uang receh. Jeli lah mencari. Di catatan mentalku tertulis dua tempat yang ramah-receh. Satu: yang peredaran uang di tempat itu didominasi uang besar sementara per orang bayarnya

Dua tempat itu yang jadi sasaranku menghabiskan uang pecahan 500, 1.000 dan 2.000-an. Di sini lah perlunya selalu tahu jumlah receh di tangan. Supaya bisa dengan cepat ngeluarkan beberapa pecahan yang berbeda dari dompet. Yang kuusahakan adalah memasukkan koin dalam setiap pembayaran. Nggak peduli itu di toko kelontong rumahan punya tetangga atau supermarket yang di parkirannya mobil semua. Habis 23 ribu, kuserahkan pecahan 5/10/20 dan koin 500-an. Kalau kita nggak tahu berapa uang di tangan, dalam pecahan apa aja, apalagi kalau dompet nggak tertata, dorongannya pasti pakai pecahan yang lebih besar dari tagihan. Habis 11 ribu, keluarkan 20 ribu; habis 57 ribu, keluarkan 100 ribu. Sebentar aja uang-uang besar di dompet dah jadi pecahan kecil dan receh. Mendadak butuh 400 ribu untuk dokter dan obat anak harus narik dari ATM. Iya nggak?

Mengikut-sertakan pecahan kecil dan receh dalam setiap pembayaran mengendalikan laju pecahnya uang besar di dompet. Menjaga kita dari dikit-dikit ke ATM dan ketidakcerdasan yang menjengkelkan orang lain, yaitu: awal bulan bayar parkir 5 ribu dengan pecahan 50 ribu, masuk tengah bulan beli token listrik 200 ribu dengan pecahan 20+10+5 ribuan, akhir bulan harus ngutang untuk buwuh 50 ribu.

Kalau cara itu terlalu merepotkan, aku ada satu cara lagi. Kumpulkan aja koin 500 dan 1.000-an. Begitu jumlahnya dah sampai 10 atau 20 ribu, habiskan dalam sehari. Favoritku adalah membelanjakannya di tukang sayur langganan untuk belanja sayur-lauk buat makan hari itu. Atau untuk bayar tol. Ke Gresik dari rumah orang tuaku di Waru, Sidoarjo full tol habis 25 ribu. Bisa kira-kira bedanya bagi keuangan rumah tangga antara bayar 25 ribu itu dengan koin 500 dan 1.000-an hasil kumpul-kumpul seminggu dengan mecah 50 ribu di pintu tol pertama?

Jangan lupa untuk selalu tanya “Uang kecil nggak papa?” dulu ke kasir/bakul saat membayar dengan koin semua. Ke bakul langganan sekalipun. Aku belum pernah dapat jawaban “Nggak boleh!”

Teknik#3: Ambil kesempatan “menggenapkan” uang receh

Di minimarket, supermarket, hypermarket, saat Mbak/Mas Kasir tanya, “Ada 100?” atau 200 atau 1000, kasih. Aku bahkan nggak nunggu ditanya. Belanja habis Rp46.100, kuserahkan selembar 50 ribu+koin 1000+koin 100 ke si kasir. Ada sesama pembeli atau penjual yang minta tukar uang, selama aku ada, kukasih. Beberapa kali aku yang menawarkan diri. Kalau uang recehku lagi turah-turah.

Gini lho.

Lihat uang 1000 dan 100, apa yang terlintas di kepala? Paling-paling pengemis, pengamen, peminta sumbangan keliling, tukang parkir. Titik. Tapi kalau 1.100 tadi kukasihkan Mbak Kasir supaya kembalianku genap 5.000, apa yang kupikirkan? Tahu Sutra Bu Kasmuri. Lima ribu dapat dua kantong, sepiring. Bisa buat camilannya tamu. Bisa buat teman makan Tumis Kangkung.

Coba kita hitung. Anggap aja kita ke minimarket seminggu dua kali. Tiap kali transaksi kita setor 200 untuk digenapkan jadi 1.000. Sebulan ngumpul delapan koin 1.000-an. Sekarang bandingkan dengan pilihan nolak permintaan kasir untuk nambah 200. Setelah sebulan ngumpul 6.400 dalam pecahan 100, 200 dan 500. Antara 8 koin 1.000-an dengan koin (100×8)+(200×8)+(500×8), mana yang lebih mungkin terpakai untuk kebutuhan rumah tangga? Kalau ada yang ketawa ngenyek sambil mbatin, “Kebutuhan rumah-tangga apa yang cuma 8.000??”

Di Pacet iuran sampahnya 5.000 per bulan.

Makin besar pecahan uang, makin besar juga manfaat yang bisa kupikirkan. Sepuluh ribu=telur 1/4 sampai 1/2 kg, tergantung harga pasar. Dua puluh ribu=iuran kematian RT. Lima puluh ribu=arisan RT. Seratus ribu=bensin mobil sekali jalan nyambangi mertua di Probolinggo.

Sungguh, ini kantong koin yang sangat mengesankan. Seperti ngomong, “I maybe cheap but I’m no cheapskate.” (Maaf, nggak bisa ngasih credit ke sumber pertama)

Jadi begitu lah, uang receh kuberdayakan untuk belanja lauk-pauk harian demi memastikan setiap rupiah yang kudapat, receh dapat nemu di seluruh rumah atau bahkan di jalan sekalipun, punya kontribusi dalam keuangan rumah tangga. Coba kumpulkan recehan seperti yang kuomongkan di atas. Tunggu sampai 1-2 minggu. Pasti kaget-kaget sendiri tahu jumlah total koin yang berserak di rumah, tas, mobil..

Kubaca tulisanku ini berulang-kali dan aku sendiri kesulitan untuk nggak dapat kesan ‘seperti orang susah’. Tapi kalau kuingat teman dan saudara yang hidupnya dari satu hutang ke hutang berikutnya, yang nggak pernah bisa punya dana untuk kebutuhan-kebutuhan besar seperti opname, biaya kuliah anak, mantu (harus ngutang untuk nutup kebutuhan-kebutuhan uang besar), yang berapa pun penghasilannya habis di biaya hidup sehari-hari, baru kelihatan perlunya pola pikir ‘seperti orang susah’. Ada orang-orang yang cobaannya bukan di uang. Mereka nggak pernah ada dalam situasi nggak bisa ganti oli sampai lewat 1.000 km karena harus ndulukan susu anak. Pola pikir orang susah-ku pasti sangat sulit mereka pahami. Tapi untuk kebanyakan orang, belajar lah jadi ‘orang susah’. Itu pola pikir yang bisa menjaga kita dari hutang dan uang haram.

Catatan Penutup: ada situasi yang mensyaratkan uang receh. Pernah kena tilang dan datang sendiri ke pengadilan nggak minta bantuan calo? Pegawai pengadilan yang nerima uang tilang kita nggak suka disuruh nyediakan kembalian. Harus uang pas dan ngasih tahunya pakai jengkel. Dia lebih ramah kalau denda yang 37.500 itu kita bayar dengan pecahan 1.000 dan 500-an daripada pecahan 50 ribu.

Kelola uang receh yang seperti nggak ada nilainya itu. You’ll never know..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s