3 Cara Menekan Belanja Alat Sekolah

Tiap tahun ajaran baru sekolah dan toko buku banca’an.

Wali murid yang pada sambat..

Bobot belajar-mengajar loh bukan di tas, buku tulis, alat tulis, seragam, rupa-rupa aksesorisnya atau kemegahan gerbang sekolah. Anak sarapan apa nggak sebelum berangkat lebih menentukan. Gurunya nyiapkan lesson plan apa nggak apalagi. Jadi: kalau mau habis-habisan, habis-habisan lah di kurikulum, textbook, kegiatan praktek atau lapangan, kegiatan ekstra-kurikuler dan segala sesuatu yang menstimuli minat dan bidang yang jadi keunggulan anak. Itu semua butuh biaya. Nggak sedikit. Harus ada anggaran terpisah.

Kalau nuruti maunya anak, tiap tahun ajaran baru kita harus nyiapkan ratusan ribu per anak untuk peralatan sekolahnya. Itu kalau mereka merasa cukup dengan tas, alat tulis dan buku tulis yang biasa-biasa saja. Kalau minta semuanya serba Princess atau Hello Kitty? Alat tulis minta yang Faber-Castell? Belanja di Gramedia bisa habis jutaan. Pensilnya aja lima ribuan satu.

Pos ini adalah rencanaku untuk Rafi; tiga hal yang bisa kita lakukan di lingkungan rumah demi menekan belanja peralatan sekolah. Buat nambah-nambah anggaran pendidikan luar sekolah.

Ruang Kerja Bersama

image
Kita harus berpikiran modern dalam memahami ‘kerja’. Nggak cuma yang dibayar. Jadi jangan mbayangkan kantor. Yang kumaksud space yang disiapkan untuk memfasilitasi kebutuhan membaca, menulis, mengoperasikan komputer, browsing, mem-print dan menyimpan semua barang yang dibutuhkan untuk aktifitas tadi. Lebih bagus lagi kalau bisa dipakai crafting; menggambar, gunting-tempel dan kegiatan kreatif lain yang nggak terlalu bikin berantakan. Yang sekiranya mengakomodasi kebutuhan kerja seluruh anggota keluarga lah.

Nggak harus satu ruangan khusus meski lebih bagus gitu. Seperti punyanya keluarga ini. Di pojokan ruang keluarga pun bisa. Nggak punya ruang keluarga? Di ruang makan jadi. Meja makan suruh multi-tasking; ya buat makan, ya buat kerja. Pinter-pinternya kita aja. Pastikan aja semua kebutuhan bekerja terorganisasi dengan baik di ruangan itu. Atau di dekatnya. Modal rak/laci/lemari bisa. Better Homes & Gardens ngasih berlimpah contoh ruang kerja yang nggak habis-habiskan uang. Cuma butuh kecerdikan dan sedikit sampai banyak kerja DIY. Boleh lihat-lihat di sini.

Dengan cara ini belanja peralatan ditentukan oleh fungsi satu ruang, bukan jumlah sekian orang. Komputer dan printer cukup satu. Gunting, cutter, stapler juga cukup masing-masing satu. Mestinya 3 bersaudara lebih bisa mengeksplor kemampuan menggambarnya dengan satu set crayon, satu set pensil warna dan satu set cat air/kuas/pallete yang dipakai bersama daripada kalau mereka punya satu set crayon masing-masing satu. Meskipun itu crayon yang kualitasnya paling bagus.

Perlu browsing dan nge-print tinggal ke ruangan itu. Lagi dipakai ya nunggu giliran. Mungkin bisa dijadwal kalau perlu. Masing-masing dijatah 1 jam. Harus bawa pensil warna ke sekolah besok, cari di sana. Besoknya, selesai pakai, kembalikan ke sana. Mama ibu rumah tangga pingin scrapbooking biar nggak edan, bisa pakai spidol warna yg kemarin si dedek bawa ke sekolah buat bikin poster di pelajaran ketrampilan. Jadi nggak Dedek butuh, beli. Kali berikut si Mas yang butuh, beli lagi. Nggak tiap tahun ajaran baru beli crayon dan pensil warna.

Selain lebih hemat –nggak perlu beli meja belajar tiga– cara ini melatih anak untuk berbagi, bertanggung-jawab atas barang yang dipakainya dan menghormati kepemilikan bersama/umum. Jangankan anak-anak, kita yang dah hampir habis dimakan umur cenderung seenaknya ke barang-barang yang kita anggap hak milik pribadi.

Fokus di fungsi, upayakan keberlengkapan ruang supaya kita bisa menekan kuantitas tanpa mengorbankan kualitas. Dalam hal ini: nggak bikin anak-anak kita merasa jadi anak paling miskin di kelasnya meski nggak dibelikan satu orang satu set crayon.

Supplies Center

Aku punya ponakan empat. Alat tulis dan perlengkapan sekolah mereka cukup buat empat kecamatan. Sepertinya mereka selalu merasa kekurangan buku tulis dan tempat pensil seisinya. Jadi nggak pernah bisa belanja alat tulis sekali saja dalam setahun, harus ping bolak-balik.

Proposal Uang Sedikit:

Buat Supplies Center.

image

Untuk yang satu ini saranku kita sendiri yang turun tangan pegang kendali. Anak tahunya beli di Indomaret, toko buku, mal dan koperasi sekolah. Padahal ada selisih yang lumayan antara harga serim kertas A4 merk Sinar Dunia di Gramedia dengan serim kertas A4 tak bermerek di agen kertas dekat Unair.

Satu: Mulai dengan nyiapkan lokasi khusus. Bisa rak, lemari, laci, kardus pun bisa. Nggak harus disembunyikan atau terkunci tapi juga jangan kelihatan seisi rumah setiap hari. Di ruang kerja bersama boleh, di kamar kita boleh. Kalau nggak bisa nebak alasannya, baca terus.

Dua: Isi Supplies Center itu tadi dengan semua yang bisa dan biasanya dipakai anak sekolah. Jangan nunggu mereka minta, jangan mepet di tahun ajaran baru. Sepanjang tahun, kalau lagi ke mal, mampir ke toko buku, cari peralatan sekolah yang diobral. Sambil antri panjang di ATM, pakai waktu dan smartphone berburu peralatan sekolah bekas di Instagram. Coba hashtag yang spesifik dulu seperti #tassekolahpreloved atau #stationarypreloved. Kalau hasilnya terlalu sedikit, coba hashtag yang lebih besar seperti #perlengkapananakpreloved atau #baranganakpreloved.

Berburu barang bekas bagus nggak bisa sebentar. Harus telaten. Jadi jangan cari barang yang kita butuh segera dengan cara ini. Saran Anita dari Live Like You Are Rich, sisihkan beberapa jam tiap minggu. Karena dia nyisir garage sale yang umumnya di Sabtu-Minggu, dia njadwal 2 jam tiap Sabtu pagi. Satu lagi yang sangat dia tekankan: kita harus tahu pasti apa yang kita cari. Jangan pakai filosofi iseng-iseng berhadiah, siapa tahu nemu barang bagus. Meski bagus tur murah kalau nggak kepakai kan tetap aja anti-hemat. Bisa disiasati dengan megang daftar barang sekolah yang dibutuhkan dalam setahun ke depan lalu mulai nyicil beli 6-3 bulan sebelumnya.

Kalau Rafi masuk umur Paud nanti mungkin daftar kebutuhannya seperti ini:

1. Baju khusus sekolah

  • celana pendek yang bahannya agak kaku
  • celana 3/4 dari bahan kaos, celana panjang
  • tee-shirt berkerah polos
  • tee-shirt bergambar lucu
  • kemeja

(bawahan satu-satu, atasan dua-dua; warnanya harus bisa dipadu-padankan)
2. Sepasang sepatu
3. Dua pasang kaos kaki
4. Dua topi beda model (jangan cuma beda warna)
5. Tas punggung
6. Kotak makan
7. Botol air/tumbler
8. Buku tulis kotak-kotak
9. Tempat pensil, pensil, penghapus, rautan
10. Crayon
11. Pensil warna
12. Celana renang

Paling telat 3 bulan sebelum masuk sekolah mulailah berburu. Sebagian –seperti baju– aku lebih suka beli baru. Kalau toh beli bekas, kuhindari cara online. Alat tulis, celana renang, kotak makan+tumbler, tas punggung, aksesoris seperti topi kuupayakan yang gratis (lungsurannya Azka), beli bekas atau beli obralan.

Nah, barang yang kita cicil satu-satu itu jangan langsung ditunjukkan ke anak. Simpan di Supplies Center. Ini jangan diterapkan sampai mereka lulus kuliah. Makin besar mereka akan makin membutuhkan kebebasan memilih. Itu berlaku juga untuk barang-barang keperluan sekolahnya.

Selagi nggarap post ini aku baca artikel bagus di Fun, Cheap Or Free tentang ini. Kalau penasaran baca sendiri di sini. Jordan menyarankan melatih anak untuk belanja keperluan sekolahnya sendiri sejak kecil. Beberapa tahun pertama mungkin harus didampingi tapi begitu mereka umur 10 tahun mestinya dah bisa dilepas sendiri. Saat tahun ajaran baru tiba, antar anak ke toko, bekali uang, tegaskan bahwa mereka harus mencukupkan uang itu untuk barang sekolah yang mereka perlu. Lebih, ambil sisanya; kurang, mama nggak akan nambah. Jordan menekankan ini HANYA untuk barang sekolah yang nempel di badan mereka; baju, sepatu, aksesoris. Menurutku ini ide brilian. [Thanks, Jordan!].

Karena anak-anak kita pakai seragam, belanja sendiri mungkin bisa diterapkan untuk tas, tempat pensil, sepatu, jaket dan aksesoris (buat anak gadis). Atau biarkan mereka putuskan sendiri jatah uang tahun ajaran baru mereka mau dibelikan apa di toko buku. Kalau mereka habiskan untuk buku tulis buatan Jepang yang eman ditulisi itu saking bagusnya, sisipkan aja pesan sponsor santai, “Di Supplies Center di rumah ada cukup buku tulis sampai lulus SMA, Nak. Apa nggak lebih baik buat beli sepatu yang kamu suka tu? Sepatumu sekarang sebentar lagi dah nggak cukup.” Andai dia bersikukuh, biarkan. Kendali orang tua semestinya makin tahun makin kendor. Pastikan aja dia tahu kita nggak akan ngasih dia uang buat beli sepatu sampai tahun ajaran baru berikutnya. Kalau harus juga beli sepatu baru, potong uang jajannya.

Nah, untuk barang yang bisa dipakai seisi rumah atau yang butuhnya dalam jumlah banyak atau akan selalu terpakai sepanjang umur sekolah, pegang dan putar sendiri anggarannya, simpan di Supplies Center. Contoh: buku tulis, buku gambar, notebook, bulpen, pensil, rautan bertuas, spidol, crayon, pensil warna, cat air, tinta printer, kertas, stapler, folder, map, binder, sampul buku, sampul plastik, kertas lipat, kertas buffalo, isolasi, gunting, lem, penggaris, jangkar, teruskan sendiri. Stock it up sebelum tahun ajaran baru.

Yang tanya: “Harus nyiapkan anggaran berapa nyetok semua barang itu???”

Jangan panik dulu. Nyetok nggak harus beli dan seperti yang sudah kuomongkan di atas: nggak perlu dalam sekali waktu.

Kumpulkan & Rubah Tampilannya

Sejak Bunda meninggal Agustus 2014, kerjaku ngumpulkan dan nyortir barang. Dari jam terbang yang >2 tahun, percayalah, kalau kita mau repot ramban [=ngumpulkan] barang yang berserak di seluruh rumah lalu mengorganisasikannya, banyak sekali yang kita nggak perlu beli. Aku punya cukup amplop untuk 7 turunan.

Saat liburan panjang, coba kumpulkan semua barang sekolah anak-anak. Tas-tas sekolah dengan isinya, yang mereka simpan di kamar, yang ada di ruang kerja bersama; kumpulkan dari seluruh rumah. Go through it one by one. Kumpulkan yang masih bisa dipakai.

Dari rumah kontrakanku yang terakhir, aku dapat sekardus TV barang sekolah punya dua ponakan yang beberapa bulan tinggal denganku. Kulihat satu-satu. Sebagian besar sudah terpakai tapi masih bisa dipakai lagi. Seperti pensil. Ada kalau 77 biji yang panjangnya masih separuh atau lebih. Yang patah atau tumpul kuserut, dan voila!, dapat 77 pensil siap pakai.

image

Buku tulis yang hanya beberapa lembar terpakai juga masih bisa dipakai lagi. Sobek aja lembaran yang sudah ditulisi. Kasih sampul kertas kado.

image

Untuk buku-buku tulis yang dah banyak terpakai, kumpulkan lembaran kosongnya. Bikinkan sampul lucu lalu bawa ke fotokopian untuk dijilid. Kalau mau repot bisa dijilid sendiri di rumah. Carikan tema atau warna yang sama untuk semua barang reuse ini biar misi hematnya nggak kelihatan seperti orang susah.

image

Pensil warna yang sudah nggak lengkap, kumpulkan. Keluarkan dari kotaknya, taruh di toples atau kaleng atau wadah lain. Makin unik wadahnya, makin bagus. Begitu juga dengan crayon, spidol warna, highlighter, marker, penggaris.

image

Karena ponakanku ninggal banyak sekali alat tulis, kubagi dalam paket-paket berdasar warnanya lalu kukemas dalam plastik. Jadi lah seperti baru.

image

Di tahun-tahun pertama, kerja ramban dan customize ini harus kita kerjakan sendiri. Jangan mereka tahu. Langsung simpan di Supplies Center begitu jadi. Jangan kelihatan mata anak-anak. Tujuannya supaya mereka merasa dapat barang baru di tahun ajaran baru. Sama seperti anak-anak lain. Biar nggak minder. Kalau mereka dah agak besar, ini bisa jadi project keluarga di liburan panjang, merubah barang-barang sekolah lama mereka jadi baru lagi dengan kerja tangan.

“Back to School with Handmade”

Keren.

Tambah acara ramban ini; bukan cuma untuk alat sekolah tapi juga peralatan kantor. Selama tinggal denganku, dua ponakan yang anak SD ternyata nggak cuma butuh buku dan alat tulis. Coba kurekap di sini: kertas HVS, kertas buffalo, stapler, lem, gunting, map, display book (untuk nyimpan kertas ulangan; bisa diganti binder 2 ring yang juga bisa jadi jurnal/clipping/planner), kertas warna-warni, penjepit kertas.
Tanpa Ruang Kerja Bersama dan Supplies Center, pasti harus dikit-dikit beli. Hari ini disuruh gurunya beli, beli. Bulan depan, disuruh beli, beli lagi. Anak tiga ya tinggal dikalikan tiga. Pada umumnya anak nggak akan punya inisiatif menyimpan barang yang bukan kebutuhan hariannya. Meski bukan barang-barang mahal, sekali beli cukup dengan 5-10 ribu, coba total dalam setahun. Lalu kalikan 16 tahun. Banyak.

Jadi wali murid di jaman kita ini harus ekstra smart-nya. Aku sudah mulai mencari-cari informasi tentang homeschool. Untuk cari tahu soal apa yang bisa kulakukan dari rumah untuk pendidikan Rafi karena aku nggak sanggup mengirimnya ke sekolah swasta. Baru tahu dari Rumah Inspirasi kalau kita bisa beli kurikulum Matematika internasional seharga 270 ribu per tahun. Kalau kita mau putar otak, ngeluarkan 270 ribu untuk pelajaran Matematika lebih impactful daripada mbelikan sepatu keren 500 ribu yang dipakai anak-anak paling keren di sekolah elit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s