Rencana Keuangan Koboi

Setelah empat tahun menikah, jungkir-balik berhemat, mengumpulkan jam lembur nyupir forklift dan jam ngajar Bahasa Inggris, rumah tanggaku nggak punya apa-apa selain satu smartphone ASUS, satu rak lepas-pasang, empat container plastik, satu kipas, satu printer, dua mangkok plastik, satu sendok sayur, satu panci kecil, dua wajan teflon-teflonan dan satu kasur spring yg bagian tengahnya melengkung saat ditiduri. Berasa tidur di mangkok. Well, apa yang bisa kita harapkan dari kasur spring 800 ribu.

Kalau ada yang mbatin, “Dah tahu pas-pasan kok beli smartphone.”

Suamiku nggak kenal konsep mengelola-uang. Buat dia penghasilan ya buat dibelanjakan, dinikmati, wong sudah kerja susah-payah. Yang ada di kepalanya tentang masa depan: Yang penting sehat [uang bisa dicari]. Sejak menikah semua uangnya dia serahkan padaku dan aku ‘menindas’ keyakinannya itu. Jadi waktu dia bilang pingin beli smartphone ASUS dengan uang THR-nya, kuputuskan untuk nggak bawel. Aku takut dia ‘memberontak’.

Kembali ke topik.

Sedihnya lagi, dengan uang warisan 50 juta pun (kami dapat di tahun ke-2), nggak bisa beli rumah. Uang segitu tandas dalam waktu kurang dari tiga tahun. Separuh buat ngontrak rumah tiga kamar; separuhnya terpakai sedikit demi sedikit. Separuh dari yang separuh tadi nggak terlacak perginya kemana. Pendeknya, sebagian besar penghasilan kami berdua habis buat ngontrak dua rumah petak sekotak korek, urusan perut, njajan, jalan-jalan, bensin/perawatan motor, pulsa, buwuh dan biaya sosial lain. Dan itu pun masih defisit. Buktinya uang warisan kepakai juga buat biaya hidup sehari-hari. Cicilan asuransi jiwa kami berdua terlalu kecil jumlahnya untuk menawar perasaanku gagal total mengelola keuangan rumah tangga.

Juga merasa Mas Ga-Tot sepertiku?

Kalau jawabnya iya, boleh coba caraku ngatur uang yang sudah kujalani dua tahunan ini. Harus kuingatkan, mereka yang nggak bisa tidur kalau nggak pegang uang tunai atau masuk rumah sakit kalau saldo rekening tabungannya nol besar baiknya nggak coba-coba. Karena buatku yang gampang merasa cukup, brutally apa adanya, hampir kebal sama tuntutan gaya hidup, nyaris nggak peduli sama omongan orang, bisa bertahan hidup tanpa bedak dan pelembab, cara ini masih menguji kekuatan mentalku. Gimana nggak? Gaji habis di minggu pertama. Nggak tahu tiga minggu berikutnya harus makan apa. Jangan tanya berapa kali aku nangis dalam seminggu; merasa hidupku soro ra karu-karuan. Secara keseluruhan aku diselamatkan oleh pemahamanku akan konsep rizki. Jadi yang pemahaman rizkinya sangat matematika, cara ini mungkin nggak rasional, caranya orang terbelakang.

Ini bukan soal budgeting. Nyerah dah dengan cara budgeting. Bisa ngendalikan pengeluaran tapi nggak bisa bikin punya apa-apa. Ini soal nyali. Makanya kunamakan Rencana Keuangan Koboi.

Mulai dengan ambil pinjaman untuk pembelian/pembiayaan investasi.

Ya, target pertama dan utama rencana keuangan koboi adalah keadaan ‘nggak punya apa-apa’. Jadi kuatkan hati: beli atau biayai sesuatu yang punya nilai investasi dengan uang hutang atau dengan cara mengangsur. Jangan nunggu tabungan jangkep. It never will. Sudah kucoba cara itu. It just did not work.

Pastikan itu sesuatu yang nilainya makin tinggi seiring waktu. Saranku: jangan buat modal usaha yang belum pasti untungnya. Juga jangan tergiur dengan segala sesuatu yang menjanjikan untung besar dalam waktu singkat seperti jual-beli saham atau bisnis MLM yang nggak jelas produknya apa. Jangan sekali-kali pakai uang hutang untuk barang konsumen seperti springbed atau kulkas atau TV layar datar 40″. Lebih baik nggak punya apa-apa timbang punya perabotan pepek [=lengkap] dengan uang hutang.

Pilih investasi yang relatif aman seperti emas mulia atau emas perhiasan, tanah kavling, tanah sawah, rumah mungil, mobil bekas (mobil baru harga jualnya jatuh). Yang punya ide lain boleh tambah di bagian Comment.

image

Nggak harus beli sesuatu. Kalau memang nggak berani hutang banyak. Cari pengeluaran yang punya nilai investasi yang nilainya dalam keberanian kita berhutang. Contoh: Aku pingin punya rumah di Sidoarjo tapi nggak berani hutang buat DP. Nggak kuat mbayarnya. Belum cicilan rumahnya. Lagian bank juga nggak akan mau minjami. Jadi yang kulakukan adalah menambah nilai jual rumah warisanku. Hutang 31 juta dan tabungan emas 4 juta kupakai buat nambah kamar dan merenovasi teras. Dana 3 juta (bukan hutang; kukeluarkan dalam 2 tahap) untuk meratakan tanah pekarangan, menyingkirkan dua bongkahan batu besar dan nanam kembang. Hutang 7 juta (sudah lunas) kupakai untuk balik nama mobil warisan. Mobil ini yang jadi agunan pinjaman. Kalau masih dalam nama Ayah selain nilai jualnya lebih rendah juga nggak bisa kujadikan agunan. Dana 9 juta kuangsur 5 kali untuk ngurus sertifikat tanah pekarangan rumah itu. Yang ini juga bukan uang hutang.

Uang kukeluarkan hanya untuk yang menambah nilai jual rumah meski nggak ada niat njual. Ini hanya untuk memastikan soro-ku berbuah, hutang tadi nggak sia-sia. Karena kalau nuruti perasaan, total 51 juta tadi dah kuhabiskan buat ngecat rumah, beli lampu gantung dan bikin taman. Nyenangkan mata dan hatiku tapi nilai investasinya dah kecil, turun luar biasa cepat pula. Dalam setahun cat dah nggak kelihatan baru, taman juga nggak karu-karuan bentuknya kalau nggak nyiapkan anggaran perawatan tiap bulannya.

Semua itu bisa kutunaikan dengan gaji suami yang rata-rata 4,5 juta/bulan berkat Rencana Keuangan Koboi. Andai aku nggak ada rumah warisan, pilihanku adalah emas dan tanah kavling 20 jutaan di manapun yang penting bersertifikat. Emas dengan cara ngangsur di Penggadaian, tanah dengan uang hutang.

Sekarang mari kita bicara soal teknisnya.

Buat daftar kewajiban pembayaran sebelum gajian.

Ini gantiku untuk budgeting. Penting sekali untuk menyusunnya sebelum gajian. Jadi begitu kuterima uangnya, aku bisa bikin kalkulasi cepat: cukup nggak buat nutup yang besar-besar; kalau kurang, seberapa banyak kurangnya; andai nggak bisa nutup semua, mana yang harus dikeluarkan dulu, mana yang bisa ditunda. Kalau nggak gitu, sulit mengendalikan keinginan beli-beli atau makan di luar atau njajan nyenangkan diri, anak dan ponakan begitu dapat transferan karena merasa uangnya ada padahal dah habis.

Yang kutaruh di urutan atas ya yang punya nilai investasi. Dalam kasusku: cicilan hutang yang kuomongkan tadi dan asuransi.

Prioritas berikutnya adalah kewajiban/biaya bulanan atau tahunan yang besarnya tetap seperti tagihan PLN & PDAM, gaji pembantu part-time, iuran RT, perawatan mobil-motor, pajak mobil/pajak motor/PBB.

Belanja bulanan sembako ku-figure out dari sisa uang gaji. Kudulukan susu dan popok Rafi. Kalau sisa gaji 500 ribu atau suami dapat uang lembur >1 juta. Buat yang harus punya anggaran untuk perawatan kecantikan, beli baju, nge-mall dan traveling, aku bisa bilang apa, this blog will depress you beyond belief.

Langsung bayarkan kewajiban-kewajiban tadi begitu gajian meski itu menghabiskan gaji.

Jangan ditunda. Aku menunda 1-2 kewajiban pembayaran (biasanya premi asuransi) hanya karena dua alasan: Satu, buat biaya dokter/obat/rumah-sakit; dua, buat menghasilkan uang lain. Misal buat bayar sewa pick-up untuk ngantar perabotan dari garage sale-ku. Mati-matian kuusahakan TIDAK menunda pembayaran cicilan hutang. Ingat bahwa rencana keuangan ini nggak menyisakan uang lebih. Sama sekali. Jadi sekali aja kita nunda, akan sangat membebani. Lebih aman nggak pegang uang buat makan tapi semua kewajiban pembayaran lunas daripada pegang uang makan 3 bulan tapi nunggak cicilan. Kalau toh terpaksa nunda cicilan, sebisa mungkin jangan ngandalkan gajian bulan berikutnya untuk nutup.

Nguji nyali kan?

Sebetulnya nggak cuma modal nekad. Tetap pakai perhitungan. Kalau jelas-jelas pemasukan cuma dari gaji suami, terima sebulan sekali, mungkin aku nggak akan seberani ini.

Suamiku dapat ceperan. Nggak setiap hari. Jumlahnya juga nggak tetap. Dia pegang sendiri uangnya. Buat dia itu Duik Lanang. Habis buat bensinnya, makan siangnya dan kesenangannya: nraktir istri dan ponakannya njajan dan makan di luar. Kuamati baik-baik. Meski nggak tahu persis jumlahnya, dengan hitung-hitunganku, ceperannya itu cukup buat makan kami berdua sebulan. Menu sederhana tapi cukup. Jadi aku mulai memaksanya ikut mikir mutar penghasilannya.

Nggak butuh waktu lama. Cuma butuh kejujuran dan kesediaan untuk setting examples. Aku nggak punya simpanan rahasia. Nggak punya rekening bank. Uangku asalnya darimana, besarnya berapa, dia tahu. Kupakai buat apa dia tahu. Sejak menikah hampir 100% uangku kupakai untuk kepentingan rumah-tangga kami. Uangku bukan untuk kesenanganku atau untuk kebutuhan perempuan. Gajinya buat apa aja dia tahu. Dompetku lebih sering kosong daripada dompetnya tapi aku nggak pernah minta. Aku cuma bilang dengan suara datar, “Untuk mbayar Mbak Tin minggu ini nggak ada,” kalau dia dah mulai pamer uang ceperannya.

Andai suamiku ngotot itu Duik Lanang dan menolak untuk kooperatif? Kukembalikan uang gaji. “Pegang sendiri gaji. Kasih aku 20 ribu tiap hari buat makan. Aku yang mutar. Kita makan seadanya. Tapi jangan suruh aku mikir uang kontrakan, listrik, air, buwuhan. Aku nggak mau tahu. Kita punya rumah apa nggak, pensiun nanti makan dengan uang apa, kalau ada yang harus opname bayarnya dengan uang apa, itu tanggung-jawab suami.” Habis itu nangis sampai hari Rabu. Bukan supaya dia luluh; supaya utekku nggak buthek karena mangkel.

image

Anyhow, yakinlah, kalau niat kita demi kemandirian rumah-tangga kita, kehidupan yang layak untuk anak, kesejahteraan di masa pensiun, ayemnya hati orang tua/mertua lihat anaknya mapan, dengan atau tanpa kerjasama/kontribusi suami, pertolongan akan datang. Itu berkahnya perempuan yang mengabdikan hidupnya untuk rumah tangganya.

Cari penghasilan tambahan sekecil apapun itu.

Meski suami ada uang masuk harian seperti ceperan, rencana keuangan ini tetap butuh ibu rumah-tangga yang bisa cari uang. Hemat aja nggak cukup. Kita hidup di jaman yang minta lebih dari sekedar bisa makan 3x sehari untuk hidup layak. Masih banyak pengeluaran kecil yang harus kita tutup selain makan sehari-hari. Di rumah kontrakanku yang terakhir iuran RT aja 80 ribuan per bulan. Jadi lakukan apa yang kita bisa dengan memanfaatkan rumah, waktu di rumah dan keahlian domestik yang jadi keunggulan kita.

Ibu sahabat baikku nggak pernah minta uang dari suaminya sejak menikah. Beras, minyak, gula dan kebutuhan bulanan dibelikan Bapak tiap gajian. Untuk belanja lauk tiap harinya Ibu cari uang sendiri; terima pesanan nasi kotak dan jajan, terima jahitan, ngerias manten di lingkungan tetangga. Sepupuku juga nggak pernah minta uang dari suaminya. Dikasih diterima, nggak dikasih dia harus cari sendiri karena suaminya nggak punya penghasilan tetap. Mulai dari terima kreditan, jual pulsa, terima katering makan siang sampai ngekoskan 1 dari 3 kamar di rumahnya. Semuanya kecil-kecilan. Aku terima terjemahan yang nggak perlu peras otak, ambil kelas TOEFL jangka pendek sampai menjual barang-barang tak terpakai di rumahku via Instagram. Juga kecil-kecilan.

Jadi yang kubicarakan di sini bukan penghasilan dari profesi atau pekerjaan full-time atau bahkan part-time tapi sumber pemasukan yang menjadikan rumah, waktu kita di rumah dan keahlian domestik sebagai modal. Kurang lebih sih. Kenapa gitu? Karena potensi penghematannya luar biasa lho, Bund, kalau kita cari uang modal rumah (nggak perlu sewa kantor/toko/tempat), waktu kita di rumah (bisa kapan pun) dan keahlian domestik (bisa menambah nilai pekerjaan rumah tangga).

Gini konkretnya: kumanfaatkan rumah untuk showcase, display dan studio foto barang-barang bekas yang kujual di Instagram. Aku bisa ambil foto pagi-siang-malam, selonggarku. Share foto di Instagram bisa kusambi ngeloni Rafi. Nah, milihi barang yang akan kujual terus nyimpannya kan sama aja dengan nata rumah. Aku harus bikin rumahku menarik untuk ngangkat pamorku sebagai bakul barang bekas dan nambah nilai barang bekas yang kujual. Kerja bersih-bersih bukan cuma buat mbersihkan dan merapikan. Naik kelas jadi kerja men-styling dan me-streamlined rumah.

Udah gitu nggak perlu nyiapkan uang transport dan makan siang. Nggak perlu baju kerja, bisa kita lakukan dengan daster dan tanpa make-up. Jadi meski dapatnya jauh lebih sedikit dibanding kerja profesi atau full-time atau part-time yang mengharuskan kita keluar rumah, pengeluarannya juga jauh lebih keci. Tapi yang menurutku paling menguntungkan dari kerja rumahan: bisa kita lakukan sampai tua, nggak ada usia pensiun, nggak perlu resign karena sakit atau hamil. Sounds good?

Dan ternyata, selama hampir 2 tahun ini, uang yang kuhasilkan bukan cuma kepakai buat makan. Juga bisa nutup tagihan gas dan air, beli token listrik, bayar upah mingguan Mbak Tin; singkat kata, pengeluaran-pengeluaran <300 ribu di 2-3 minggu sebelum gajian, gantian dengan uang ceperan. Sepupu yang kuceritakan tadi bisa nyicil motor, beli manekin dan lemari kaca buat majang jualannya, beli laptop Axio buat anaknya, ngasih bulekku di kampung sampai nyediakan uang 3 juta buat nyusuk’i tanah warisan Mbah. Makannya sekeluarga nunut catering makan siang <10 orang karyawan Alfamart yang diambilnya. Penghasilan ibu sahabatku tadi yang buat makan sehari-hari setelah Bapak pensiun. Waktu Wenny nikah, nggak perlu bayar catering, dekorasi dan perias manten. Diatasi sendiri sama Ibu. Baju pengantin Wenny Ibu jahit sendiri.

Sounds good?

Master the art of make-do.

Sejauh ini mestinya sudah sangat jelas, uang buat makan aja masih harus cari, apalagi buat yang lain-lain. Harus kuakui ada kebutuhan selain makan yang nggak bisa sampai sulit kita abaikan. Yang sudah kusinggung di atas: biaya sosial dan biaya kesehatan. Ternyata bukan cuma itu.

Dapur bisa berfungsi hanya kalau peralatan masaknya ada. Sesekali pasti kedatangan tamu. Butuh kursi buat duduk. Paling nggak tikar. Boleh lah tanpa meja. Suguhan bisa ditaruh di lantai. Tapi apa iya minumnya disuguhkan dalam gelas plastik bekas Teh Poci? Ngetik di lantai, bersila atau tengkurap, nggak akan bisa jam-jaman. Harus di meja, kitanya harus duduk di kursi. Hidup butuh peralatan, rumah butuh perabotan. Itu belum yang nempel di badan.

Aku bisa hidup tanpa make-up dan perawatan perempuan. Mandi cukup buatku. Bisa hidup nggak manut tren fashion. Ya tetap butuh 1-2 baju untuk acara istimewa. Daster 30 ribuan 6 biji cukup buat baju rumah tapi kan nggak mungkin lemari isinya cuma daster 6 biji. Nerima tamu, belanja, arisan RT, ngurus-ngurus di kelurahan baiknya nggak pakai daster kan? Bahkan meski belum ada anak (yang dah pasti nggak akan dengan enteng mau diajak hidup hemat soro) kita harus siap memenuhi tuntutan hidup modern.

Proposalku dalam hal ini adalah:

1. Nggak semua harus beli atau bayar
2. Nggak semua harus beli baru
3. Nggak semua dijawab dengan yang bagus (yang biasanya mahal)

Empat prinsip yang sama bule dikenal dengan siasat make-do. Bagiku lebih tepat disebut Seni Make-Do because when you have it, you have it; when you don’t, you don’t. Nggak semua orang bisa meski diajari.
Contoh: sebelum beli rak TV, coba pikir dulu, lihat seisi rumah, ada nggak yang bisa difungsikan sebagai rak TV. Fokus di tuntutan TV: penyangga yang kuat, tingginya memposisikan TV di eye level, permukaannya rata. Fungsi itu bisa dipenuhi oleh meja, rak serbaguna dari logam, bufet, kotak kayu (dibalik). Nggak harus beli. Di kontrakanku No.2 container plastik yang kujadikan rak TV. Orang Amerika malah suka pakai lemari yang kita pakai nyimpan baju buat naruh TV di ruang tamunya.

Teman baikku yang setali tiga uang denganku –harus hemat soro; harus nahan nafsu njajan– pakai bahan seadanya di kulkas, nggak manut resep, buat bikin Brownies Kukus. Ya enak tuh. Anaknya suka. Aku bisa mengolah mie goreng instant dalam 4 cara yang berbeda. Dengan sedikit tambahan bahan, pantes buat nyuguhi tamu. Bisa jadi tombo njajan juga. Modal kol dan tepung dah bisa bikin gorengan buat camilan nonton TV.

At any given time, yang kupakai dari ujung kepala sampai kaki selalu padu-padan dari berbagai sumber. Rok beli baru, atasan dan kerudung punya almarhum ibuku, arloji dikasih adik, tas lungsuran Budhe, dompet nemu di tumpukan barang nganggur ponakan, sepatu beli diskonan.

Baskom plastik wadah berkatan kukumpulkan. Butuh banyak buat ngupas, motong-motong, nyuci bahan untuk dimasak. Juga kupakai nyimpan bahan/makanan di kulkas. Kerjanya nggak sebaik wadah-wadah Tupperware memang but it will do. Barang pecah belah hadiah dari Indomaret, hadiah promosi, suvenir mantenan, buah tangan kenduri, buah tangan tilik bayi termasuk kado mantenanku kuseleksi. Yang warnanya sama atau serasi kukumpulkan. Yang warnanya nyempal kukasihkan orang atau kujual. Dengan cara ini aku ngisi rak piringku. Meski hasil ngumpulkan dari sana-sini, nggak kelihatan semburat, pantes-pantes aja dipakai buat tamu, dipakai sehari-hari bagus. Memang butuh waktu untuk bisa ‘ngumpul’ tapi bisa kupastikan kalau toh kita beli peralatan makan lengkap-istimewa buat tamu begitu menikah, nggak akan kepakai di 5 tahun pertama. Kepakai pun belum tentu setahun sekali.

image

Prinsipnya adalah: optimalkan uang tunai untuk pengadaan rumah, pelayanan kesehatan, pendidikan anak dan kesejahteraan di masa pensiun.

Karena sepertinya, dengan sifat uang yang bisa ditukar dengan apa saja, secara alamiah kita cenderung membelanjakan uang untuk yang bisa langsung kita nikmati.

(Semua gambar kudapat dari Pinterest)

Advertisements

One thought on “Rencana Keuangan Koboi

  1. Proposalku dalam hal ini adalah:

    1. Nggak semua harus beli atau bayar
    2. Nggak semua harus beli baru
    3. Nggak semua dijawab dengan yang bagus (yang biasanya mahal)

    yang perlu ditambahin lagi tuh, Nggak semua harus didengarkan !!
    Karena ini nih biang permasalahan yang kadang ga keliatan, Gengsi, takut dibilang ketinggalan jaman, ga ada kemajuan, itu hal yang sering saya temui ketika ketemu relasi, teman, saudara yang ga sekedar ber opini, tapi kadang merendahkan bahkan sok ngatur. Yah kasih saran tidak jadi soal/ masalah, tapi kebanyakan orang menilai apa yang terlihat dari luar.

    Postingan kali ini sangat menginspirasi !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s