Rencana Keuangan Hemat ala Koboi

Setelah 4 tahun menikah, jungkir-balik berhemat, mengumpulkan jam lembur nyupir forklift dan jam ngajar Bahasa Inggris, rumah tanggaku nggak punya apa-apa. Tabungan pun nggak punya.

Sedihnya lagi, dengan uang warisan 50 juta (kami dapat di tahun ke-2) masih nggak bisa beli rumah. Tandas dalam kurang dari 3 tahun. Separuh buat ngontrak rumah 3-kamar; separuhnya terpakai sedikit demi sedikit. Separuh dari yang separuh tadi nggak terlacak perginya kemana. Pendeknya, porsi besar penghasilan kami berdua habis buat ngontrak 2 rumah petak sekotak korek, urusan perut, jalan-jalan, bensin/perawatan motor, pulsa, buwuh dan biaya sosial lain. Itu pun masih defisit. Buktinya uang warisan kepakai juga buat biaya hidup sehari-hari. Cicilan asuransi jiwa kami berdua terlalu kecil jumlahnya untuk menawar perasaanku gagal total mengelola keuangan rumah tangga.

Merasa sepertiku?

Kalau jawabnya iya, boleh coba caraku ngatur uang yang sudah kujalani 2 tahunan ini. Harus kuingatkan, mereka yang nggak bisa tidur kalau nggak pegang uang tunai atau masuk rumah sakit kalau saldo rekening tabungannya nol baiknya nggak coba-coba. Karena buatku yang gampang merasa cukup, brutally apa adanya, hampir kebal sama tuntutan gaya hidup, nyaris nggak peduli sama omongan orang, bisa bertahan hidup tanpa bedak dan pelembab, cara ini masih menguji kekuatan mentalku. Gimana nggak? Gaji habis di minggu pertama-kedua. Nggak tahu 2-3 minggu berikutnya harus makan apa. Jangan tanya berapa kali aku nangis dalam seminggu, merasa hidupku soro ra karu-karuan. Secara keseluruhan aku diselamatkan oleh pemahamanku akan konsep rizki. Yang pemahaman rizkinya sangat matematika mungkin menganggapku orang terbelakang.

Ini bukan soal budgeting. Nyerah dengan cara budgeting. Bisa ngendalikan pengeluaran tapi nggak bisa bikin punya apa-apa. Ini soal nyali. Makanya kunamakan Rencana Keuangan Koboi.

Target pertama dan utama rencana keuangan koboi adalah keadaan ‘nggak punya apa-apa’.

Jadi kuatkan hati: beli atau biayai sesuatu yang punya nilai investasi dengan uang hutang atau dengan cara mengangsur.

Jangan nunggu tabungan jangkep. Sudah kucoba cara itu. Nggak pernah bisa jangkep.

Pastikan investasi kita nilainya makin tinggi seiring waktu.

  1. Jangan buat modal usaha yang belum pasti untungnya.
  2. Jangan tergiur dengan segala sesuatu yang menjanjikan untung besar dalam waktu singkat seperti jual-beli saham atau bisnis MLM yang nggak jelas produknya.
  3. Jangan sekali-kali pakai uang hutang untuk barang konsumen seperti springbed atau kulkas atau TV layar datar 40″.

Lebih baik nggak punya apa-apa timbang punya perabotan lengkap dengan uang hutang.

Pilih investasi yang relatif aman seperti emas mulia atau emas perhiasan, tanah kavling, tanah sawah, rumah tipe kecil di lokasi strategis dan/atau mobil bekas terutama merek Toyota. Yang punya ide lain boleh tambah di bagian Comment.

image

Nggak harus membeli barang atau properti. Yang kulakukan adalah menambah nilai jual dan nilai sewa rumah warisanku. Hutang 31 juta dan tabungan emas 4 juta kupakai buat nambah kamar dan merenovasi teras. Dana 3 juta untuk meratakan tanah pekarangan, menyingkirkan dua bongkahan batu besar dan nanam kembang. Dana 9 juta untuk ngurus sertifikat tanah pekarangan.

Uang kukeluarkan hanya untuk yang menambah nilai jual dan sewa rumah meski nggak ada niat njual. Kalau nuruti perasaan, total 47 juta tadi dah kuhabiskan buat ngecat rumah, beli lampu gantung dan bikin taman. Nyenangkan hati tapi nilai investasinya turun luar biasa cepat. Dalam setahun cat dah nggak kelihatan baru. Taman juga nggak karu-karuan bentuknya kalau nggak nyiapkan anggaran perawatan tiap bulan.

Semua itu bisa kutunaikan dengan gaji suami yang rata-rata 4,5 juta berkat Rencana Keuangan Koboi. Andai aku nggak ada rumah warisan, pilihanku adalah emas dan tanah kavling 20 jutaan di manapun yang penting bersertifikat. Emas dengan cara ngangsur di Penggadaian, tanah dengan uang hutang.

Sekarang mari kita bicara soal teknisnya.

Buat daftar kewajiban pembayaran sebelum gajian.

Ini gantiku untuk budgeting. Penting sekali untuk menyusunnya sebelum gajian. Jadi begitu terima uangnya, aku bisa bikin kalkulasi cepat: cukup nggak buat nutup yang besar-besar; kalau kurang, seberapa banyak kurangnya; andai nggak bisa nutup semua, mana yang harus dikeluarkan dulu, mana yang bisa ditunda. Kalau nggak gitu, sulit mengendalikan keinginan beli-beli/makan di luar/njajan begitu dapat transferan karena merasa uangnya ada padahal dah habis.

Kewajiban pembayaran ini kuurut sesuai nilai investasinya. Dalam kasusku: cicilan hutang yang kuomongkan tadi dan asuransi. Prioritas berikutnya adalah kewajiban/biaya bulanan atau tahunan yang besarnya tetap seperti tagihan PLN & PDAM, gaji pembantu part-time, iuran RT, perawatan mobil-motor, pajak mobil/pajak motor/PBB.

Belanja bulanan kutentukan dari sisa uang gaji setelah dikurangi kewajiban-kewajiban pembayaran di atas. Kudulukan susu dan popok Rafi. Kalau sisa gaji <500 ribu, ya beli susu dan popok buat persediaan 2 minggu dulu. Dua item itu jauh lebih hemat beli langsung banyak. Kebutuhan lain seperti beras, minyak, gula dan perlengkapan mandi nggak kumasukkan belanja bulanan, beli ngecer, kalau dah habis, merk dan jumlahnya disesuaikan dengan uang di kantong. Cukupnya beli sabun batangan 2000-an 2 biji, ya nggak beli sabun cair. Cukupnya beli minyak 1 liter, ya jangan ambil yang 2 liter meski lagi ada diskon.

Selain susu-popok Rafi, semua yang dampaknya sangat kecil sampai nihil terhadap perasaan punya apa-apa, kalau betul-betul nggak bisa kutiadakan, kuambilkan dari sisa gaji tadi. Termasuk dalam pengeluaran ini adalah biaya yang berkenaan dengan teman dekat, rekan kerja, tetangga dekat dan anggota keluarga besar yang nggak mungkin kita hindari tanpa menimbulkan prasangka buruk dan merusak hubungan baik seperti buwuhan mantenan, mantu, sunatan dan sumbangan saat ada yang opname atau meninggal.

Pada prinsipnya belanja bulanan dan makan harus jadi anak bawang dalam Rencana Keuangan Koboi. Kemampuan kita mengencang-kendorkan 2 pos ini pengaruh sekali ke porsi penghasilan yang bisa kita investasikan. Urusan senang-senang seperti makan di luar hanya kalau ada rizki durian runtuh, misalnya aku dapat kerjaan terjemahan yang honornya >500 ribu atau suami dapat uang lembur >1 juta. Buat yang harus punya anggaran untuk perawatan kecantikan, beli baju, nge-mall dan traveling, aku bisa bilang apa, this blog will depress you beyond belief.

Langsung bayarkan kewajiban-kewajiban tadi begitu gajian meski itu menghabiskan gaji.

Jangan ditunda. Aku menunda 1-2 kewajiban pembayaran (biasanya premi asuransi) hanya karena dua alasan: Satu, buat biaya dokter/obat/rumah-sakit; dua, buat menghasilkan uang lain. Misal buat bayar sewa pick-up untuk ngantar perabotan dari garage sale-ku. Mati-matian kuusahakan TIDAK menunda pembayaran cicilan hutang. Ingat bahwa rencana keuangan ini nggak menyisakan uang lebih. Sama sekali. Jadi sekali aja kita nunda, akan sangat membebani. Lebih aman nggak pegang uang buat makan tapi semua kewajiban pembayaran lunas daripada pegang uang makan 3 bulan tapi nunggak cicilan. Kalau toh terpaksa nunda cicilan, sebisa mungkin jangan ngandalkan gajian bulan berikutnya untuk nutup.

Nguji nyali kan?

Sebetulnya nggak cuma modal nekad. Tetap pakai perhitungan. Kalau jelas-jelas pemasukan cuma dari gaji suami, terima sebulan sekali, mungkin aku nggak akan seberani ini.

Suamiku dapat ceperan. Nggak setiap hari. Jumlahnya juga nggak tetap. Dia pegang sendiri uangnya. Buat dia itu Duik Lanang. Habis buat bensinnya, makan siangnya dan nraktir istri dan ponakannya njajan dan makan di luar. Meski nggak tahu persis jumlahnya, dengan hitung-hitunganku, ceperannya itu cukup buat makan kami berdua sebulan. Menu sederhana tapi cukup. Jadi aku mulai memaksanya ikut mikir mutar penghasilannya.

Nggak butuh waktu lama. Cuma butuh kejujuran dan kesediaan untuk memulai dari diri sendiri. Aku nggak punya simpanan rahasia. Nggak punya rekening bank. Uangku asalnya darimana, besarnya berapa, dia tahu. Kupakai buat apa dia tahu. Sejak menikah 99% uangku kupakai untuk kepentingan rumah-tangga kami. Gajinya buat apa aja dia tahu. Dompetku lebih sering kosong daripada dompetnya tapi aku nggak pernah minta.

Andai suamiku ngotot itu Duik Lanang dan menolak untuk kooperatif? Kukembalikan uang gaji. “Pegang sendiri gaji. Kasih aku 20 ribu tiap hari buat makan. Aku yang mutar. Kita makan seadanya. Tapi jangan suruh aku mikir uang kontrakan, listrik, air, buwuhan. Aku nggak mau tahu. Kita punya rumah apa nggak, pensiun nanti makan dengan uang apa, kalau ada yang harus opname bayarnya dengan uang apa, itu tanggung-jawab suami.”

Habis itu nangis sampai hari Rabu. Bukan supaya dia luluh; supaya utekku nggak buthek karena mangkel.

image

Yakinlah, kalau niat kita demi kemandirian rumah-tangga kita, kehidupan yang layak untuk anak, kesejahteraan di masa pensiun, ayemnya hati orang tua/mertua lihat anaknya mapan, dengan atau tanpa kerjasama/kontribusi suami, pertolongan akan datang. Itu berkahnya perempuan yang mengabdikan hidupnya untuk rumah tangganya.

Cari penghasilan tambahan sekecil apapun itu.

Meski suami ada uang masuk harian seperti ceperan, rencana keuangan ini tetap butuh ibu rumah-tangga yang bisa cari uang. Hemat aja nggak cukup. Kita hidup di jaman yang minta lebih dari sekedar bisa makan 3x sehari untuk hidup layak. Di rumah kontrakanku yang terakhir iuran RT aja 80 ribuan per bulan. Jadi lakukan apa yang kita bisa dengan memanfaatkan rumah, waktu di rumah dan keahlian domestik yang jadi keunggulan kita.

Ibu sahabat baikku nggak pernah minta uang dari suaminya sejak menikah. Beras, minyak, gula dan kebutuhan bulanan dibelikan Bapak tiap gajian. Untuk belanja lauk tiap harinya Ibu cari uang sendiri; terima pesanan nasi kotak dan jajan, terima jahitan, ngerias manten di lingkungan tetangga. Sepupuku juga nggak pernah minta uang dari suaminya. Dikasih diterima, nggak dikasih dia harus cari sendiri karena suaminya nggak punya penghasilan tetap. Mulai dari terima kreditan, jual pulsa, terima katering makan siang sampai ngekoskan 1 dari 3 kamar di rumahnya. Semuanya kecil-kecilan. Aku terima terjemahan yang nggak perlu peras otak, ambil kelas TOEFL jangka pendek sampai menjual barang-barang tak terpakai di rumahku via Instagram. Juga kecil-kecilan.

Jadi yang kubicarakan di sini bukan penghasilan dari profesi atau pekerjaan full-time atau bahkan part-time. Dan ternyata, selama hampir 2 tahun ini, uang yang kuhasilkan bukan cuma kepakai buat makan. Juga bisa nutup tagihan gas dan air, beli token listrik, bayar upah mingguan Mbak Tin; singkat kata, pengeluaran-pengeluaran <300 ribu di 2-3 minggu sebelum gajian, gantian dengan uang ceperan.

Master the art of make-do.

Sejauh ini mestinya sudah sangat jelas, uang buat makan aja masih harus cari, apalagi buat yang lain-lain. Harus kuakui ada kebutuhan selain makan yang nggak bisa kita abaikan. Yang sudah kusinggung di atas: biaya sosial dan biaya kesehatan. Ternyata bukan cuma itu.

Dapur bisa berfungsi hanya kalau peralatan masaknya ada. Ngetik di lantai, bersila atau tengkurap, nggak akan bisa jam-jaman, harus di meja, kitanya harus duduk di kursi. Hidup butuh peralatan, rumah butuh perabotan. Itu belum yang nempel di badan.

Aku bisa hidup tanpa make-up dan perawatan perempuan. Ya tetap butuh 1-2 baju untuk acara istimewa. Bahkan meski belum ada anak (yang dah pasti nggak akan dengan enteng mau diajak hidup hemat soro) kita harus siap memenuhi tuntutan hidup modern.

Proposalku dalam hal ini adalah:

1. Nggak semua harus beli atau bayar
2. Nggak semua harus beli baru
3. Nggak semua harus dijawab dengan yang bagus (yang biasanya mahal)

Contoh: sebelum beli rak TV, coba pikir dulu, lihat seisi rumah, ada nggak yang bisa difungsikan sebagai rak TV. Fokus di tuntutan TV: penyangga yang kuat, tingginya memposisikan TV di eye level, permukaannya rata. Fungsi itu bisa dipenuhi meja, rak serbaguna dari logam, bufet, kotak kayu (dibalik), nggak harus beli. Di kontrakanku No.2 container plastik yang kujadikan rak TV. Orang Amerika malah suka pakai lemari yang kita pakai nyimpan baju buat naruh TV di ruang tamunya.

At any given time, yang kupakai dari ujung kepala sampai kaki selalu padu-padan dari berbagai sumber. Rok beli baru, atasan dan kerudung punya almarhum ibuku, arloji dikasih adik, tas lungsuran Budhe, dompet nemu di tumpukan barang nganggur ponakan, sepatu beli diskonan.

Baskom plastik wadah berkatan kukumpulkan. Butuh banyak buat ngupas, motong-motong, nyuci bahan untuk dimasak. Juga kupakai nyimpan bahan/makanan di kulkas. Kerjanya nggak sebaik wadah-wadah Tupperware memang but it will do. Barang pecah belah hadiah dari Indomaret, hadiah promosi, suvenir mantenan, buah tangan kenduri, buah tangan tilik bayi termasuk kado mantenanku kuseleksi. Yang warnanya sama atau serasi kukumpulkan. Yang warnanya nyempal kukasihkan orang atau kujual. Dengan cara ini aku ngisi rak piringku. Meski hasil ngumpulkan dari sana-sini, nggak kelihatan semburat, pantes-pantes aja dipakai buat tamu, dipakai sehari-hari bagus. Memang butuh waktu untuk bisa ‘ngumpul’ tapi bisa kupastikan kalau toh kita beli peralatan makan lengkap-istimewa buat tamu begitu menikah, nggak akan kepakai di 5 tahun pertama. Kepakai pun belum tentu setahun sekali.

image

Kalau Rencana Keuangan Koboi harus kupadatkan dalam satu kalimat:

Optimalkan penghasilan suami untuk pengadaan rumah, pelayanan kesehatan, pendidikan anak dan kesejahteraan di masa pensiun.

Karena sepertinya, dengan sifat uang yang bisa ditukar dengan apa saja, secara alamiah kita cenderung membelanjakan uang untuk yang bisa langsung kita nikmati dan bikin kita senang.

(Semua gambar kudapat dari Pinterest)

Advertisements

One thought on “Rencana Keuangan Hemat ala Koboi

  1. Proposalku dalam hal ini adalah:

    1. Nggak semua harus beli atau bayar
    2. Nggak semua harus beli baru
    3. Nggak semua dijawab dengan yang bagus (yang biasanya mahal)

    yang perlu ditambahin lagi tuh, Nggak semua harus didengarkan !!
    Karena ini nih biang permasalahan yang kadang ga keliatan, Gengsi, takut dibilang ketinggalan jaman, ga ada kemajuan, itu hal yang sering saya temui ketika ketemu relasi, teman, saudara yang ga sekedar ber opini, tapi kadang merendahkan bahkan sok ngatur. Yah kasih saran tidak jadi soal/ masalah, tapi kebanyakan orang menilai apa yang terlihat dari luar.

    Postingan kali ini sangat menginspirasi !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s