4 Cara Menghemat Belanja Kebutuhan Bayi

“Ma said, ‘Life is like a box of chocolate. You’ll never know what you’re gonna get.’ ”

Betul itu! Aku setuju dengan mamanya Forest Gump.

Jadi nggak ada cemas atau takut dengan kenyataan belum hamil juga di usia 40 tahun, setelah 5 tahun menikah. Sudah sangat terlatih dalam hal expect the unexpected. Sesekali ada lah menangis karena sedih mikir peluang hamil yang makin hari makin kecil. Berangkat dari kesadaran itu aku nggak mikir 2 kali saat kesempatan ngangkat anak datang.

Kali pertama–setahun lalu–si bayi cuma 2 minggu denganku. Ibunya ternyata niat nitip bukan ngasih. Kali kedua–nggak lama setelah itu–berhenti di tahap omong-omongan. Kesediaanku mengasuh jabang bayi yang masih dalam perut ibunya itu nggak direspon. Kali ketiga–prosesnya mulai April lalu–tinggal selangkah lagi untuk dapat pengesahan pengadilan.

Proses adopsi 3 bulanan kusimpan untuk pos lain. Yang bisa kukatakan di sini, sebetulnya nggak seruwet atau se-mbulet yang diyakini kebanyakan orang. Cuma memang harus kuakui, kalau kita berangkat dengan mental orang tua angkat adalah malaikat penolong, prosedur adopsi bisa sangat menyakitkan hati.

Ya bayangkan aja, nggak ada malaikat tanya penghasilan kita berapa sebelum hamil. Ini Dinsos yang sama-sama manusianya dengan kita bukan cuma tanya penghasilan kita berapa tapi juga minta slip gaji dan Surat Keterangan Mampu yang ditandatangani RT, RW dan Kelurahan.

Aku sih mikirnya sederhana aja; kalau di urusan formalitas seperti prosedur adopsi legal aja kita dah patah arang, gimana kita bisa melalui proses dunia-akhirat membesarkan anak yang punya pikirannya sendiri, kehendaknya sendiri, karakternya sendiri, DNA-nya sendiri?

Jadi udahlah, telan aja semua keluhan. Bolak-balik seperti setrika ke Kelurahan nggak pantas disambati. Aku akhirnya jadi ngetop di Kelurahan Kepuhkiriman karena dalam sejarah kelurahan belum pernah ada warganya datang minta Surat Keterangan Mampu.

Kenalkan anak pertamaku: Rafi Ainur Raaiq.

image

Dengan lidahnya Azka jadi: Lafi Ainul Lo’iq. Dengan lidah suamiku jadi: Rafi Ainur Ro’ijjj matheni J. Meski sepertinya banyak orang harus dibantu melafalkan dan menuliskan nama belakangnya dengan benar, aku bersikukuh dengan Raaiq karena itu doaku untuknya: Yang Damai, Bersih Dan Tenang.

Ngikuti dorongan hati gitu kusiapkan kamar khusus buat anakku. Lengkap. Mulai dari crib sampai boneka-bonekanya. Termasuk kursi tinggi, car seat, kereta bayi, baju sak lemari, lemarinya sekalian. Ibu mana yang nggak kalap lihat perlengkapan bayi yang lucu-lucu itu. Untungnya dompet nggak mendukung. Karena toh bayi nggak butuh barang sebanyak itu. Kalau memang keuangan kita longgar, lebih baik dialokasikan untuk asuransi pendidikan, asuransi kesehatan dan aqiqahnya daripada dihabiskan di toko bayi.

Dengan 4 cara ini bisa kutekan belanja keperluan bayi umur 3 bulan di angka 1 jutaan (termasuk susu dan popoknya buat sebulan) tanpa mengorbankan well-being-nya. Ku-posting supaya yang merasa masih pas-pasan, nggak perlu lagi takut dibebani biaya anak.

Strategi#1: Rencanakan apa yang akan dibeli.

Ini salah satu prinsip uang sedikit: Jangan pernah pergi belanja tanpa tahu persis apa yang akan kita beli. Pribadi efisien tidak membeli berdasarkan impulse. Jadi kumulai dengan membuat Daftar Kebutuhan Bayi umur 3 bulan. Kubuat serinci mungkin. Untuk mandi misalnya, selain sabun-shampo, kutulis juga caddy untuk wadah perlengkapan mandinya, bak mandi, washlap, baskom, handuk, minyak telon, bedak, salep popok, cotton buds. Demi memastikan daftarku nggak merembet kemana-mana, ini yang kulakukan:

  1. Stick to the essentials. Dari pengalamanku momong, essential ini asalnya dari kebutuhan baju untuk menjaga tubuhnya dari kedinginan dan keringat, mandi/pipis/pooping-nya, minum susunya dan tidurnya. Jadi kubuat daftar barang untuk 4 kegiatan itu dulu. Di luar yang 4 itu sifatnya non-essential. Contoh: bermain dan traveling. Dari sini kita bisa memutuskan untuk menunda beli-beli boneka, mainan, jaket atau segala macam tas/pouch yang lucu-lucu itu.
  2. Batasi daftar untuk kebutuhan 3 bulan. Bisa juga 2 bulan kalau Si Dede pertumbuhannya seperti mobil balap. Terutama baju. Meski bagus dan murah baiknya nggak beli baju yang baru bisa dia pakai nanti entah kapan saking besarnya. Juga nggak perlu beli banyak. Baju outing cukup 2 setel yang bisa dipadu-padankan. Aksesorisnya satu set dan bisa dipakai dengan dua-duanya. Botol 120 ml-an cukup 3. Mungkin 3 bulan lagi dah nggak kepakai karena Si Dede butuh botol yang lebih besar.

Strategi#2: Brainstormingkan daftar belanja tadi dengan ibu lain.

Cari 2-3 orang ibu yang juga punya bayi atau pernah punya bayi. Tapi jangan yang bayinya lahir tahun 80-90-an; beda jaman. Lebih bagus kalau bisa nemu rekan ibu yang anggarannya lebih mepet dari kita. Orang-orang kelas bawah diberkahi dengan resilience dan kecerdikan.

Review tiap item di daftar kita dalam hal perlu atau nggaknya, bisa ditunda atau nggaknya, jumlah belinya, merk-merk yang menawarkan value dan item-item yang bisa diganti dengan produk non-bayi, yang bisa multi-fungsi termasuk harus beli dimana.

Dengan strategi ini bisa kucoret/kukoreksi sampai 10 item dari daftar. Salah satunya popok kain yang ternyata bukan untuk bayi umur 3 bulan yang geraknya dah banyak. Tadinya mau kubeli 4 lusin! Aku dan bunda partnerku juga sepakat lebih hemat membeli di toko yang lebih kecil dan (sedikit) lebih mahal tapi cuma 10 menit dari rumah daripada di toko bayi serba ada termurah se-Surabaya yang jarak tempuhnya bisa >1 jam. Dia juga yang menyarankan beli perlak berukuran besar. Alhamdulillah aku ikut sarannya. Perlak kecil mana bisa jadi alas sabunan Rafi yang lincahnya seperti bola bekel. Selain itu perlak ukuran besar akan terus terpakai sampai dia lulus Toilet Training.

Strategi#3: “Belanja” di rumah sebelum belanja di toko

Ada catatannya. Strategi ini hanya untuk mereka yang rumahnya terorganisasi dan mau repot bikin daftar kebutuhan yang detil.

Setelah mem-fix-kan Daftar Kebutuhan Bayi, kucoret barang-barang yang aku sudah punya dari daftar. Dapat banyak lho. Salah satunya karena aku hapal hampir semua barang yang ada di rumahku. Aku nyimpan beberapa washlap. Keranjang plastik yang bisa kujadikan caddy perlengkapan mandinya aku punya banyak. Salah duanya karena aku bisa fokus di fungsi. Dengan pedoman belanja untuk kebutuhan 3 bulan saja, barang Rafi nggak banyak. Nggak perlu lemari. Dua rak nganggur di rumah kufungsikan untuk menyimpan barang-barangnya. Baju-bajunya kukelompokkan dalam tas-tas tahlil berbahan tebal yang juga ada banyak.

Aku juga “belanja” di rumah adikku. Perlengkapan bayi Azka dari 6 tahun lalu kuminta dari iparku. Dapat gendong, kain alas perlak, hoodie blanket, baju-baju, kereta bayi. Crib almarhum keponakanku Hilda juga kubawa. Nggak semuanya terpakai tapi jelas sangat mengurangi belanja.

Strategi#4: Maksimalkan hadiah dari teman/tetangga/saudara

Ini mungkin sulit; nggak bisa kita terapkan ke semua orang yang datang ke rumah untuk tilik bayi. Mungkin bisa dicoba ke orang-orang yang dekat dengan kita; yang kita nggak sungkan.

Yang paling maksimal ya meminta barang yang kita butuhkan sebagai hadiah. Ke teman yang seleranya bagus, mintalah baju; ke saudara yang keuangannya kuat dan murah hati, boleh minta barang mahal seperti car seat atau kereta bayi. Mesin cuci mungkin? Kalau permintaan seperti ini terasa kurang ajar, minta saja kebutuhan bulanan Si Dede untuk hadiah. Aku minta saudara membawakan deterjen. Baju pilihannya belum tentu kupakai. Deterjen merk apapun pasti termanfaatkan di rumahku. Kurasa minta dihadiahi susu atau popok yang biasa kita pakai (ke orang-orang terdekat) masih bisa diterima.

Cara lainnya adalah dengan tidak membeli barang yang umum dijadikan hadiah. Kulihat yang biasa jadi buah tangan thilik bayi itu-itu aja; toiletries, feeding set, baju pergi, hoodie blanket, boneka, gendong jadi, bantal, tas, topi & prewalker. Rasanya jarang lihat kaos dalam, baju & celana rumahan, perlak & kain alasnya, botol susu & sikat pembersihnya, bak mandi, gendong kain, sprei untuk crib, tisu basah/tisu kering/cotton buds, bedak salisil, salep popok jadi hadiah. Kuhindari membeli yang hampir bisa kupastikan bakalan ada yang ngasih seperti feeding set.

Cara terakhir yang bisa kusarankan adalah mengumpulkan barang-barang hadiah yang nggak kita pakai dengan kotak, plastik dan labelnya. Pertahankan status barunya. Bisa diuangkan lewat Instagram. Modalnya cukup foto dan hashtag yang tepat. Asal kita nggak nafsu cari untung, banyak yang mau beli. Bagi yang nggak punya hati njual barang hadiah, simpan saja hadiah-hadiah nganggur itu baik-baik. Bisa kita putar untuk hadiah thilik bayi lagi; yang dari teman bisa buat saudara dan sebaliknya. Pastikan aja statusnya tetap baru dan jangan sampai balik ke si pemberi pertama. Kalau mau aman, buat inventaris siapa ngasih apa.

Strategi ini mungkin terasa ganjil ekstrimnya bagi kebanyakan orang kita. Aku bisa menentang arus sebetulnya bukan karena aku pribadi ngirit tapi karena nggak bisa lihat barang nggak terpakai atau terbuang sia-sia. Aku ingat begitu banyaknya hadiah thilik bayi Azka yang tergeletak gitu aja. Bahkan ada teman mamanya yang menghadiahi kereta bayi yang mutunya rendah. Nggak kepakai. Khawatir aja makainya karena nggak kuat. Bagiku ini lebih tentang menghindari kesia-siaan, bukan ngirit apalagi mengambil keuntungan dari kemurahan hati orang lain.

•*•*•*•

Aku ingat seorang yang sempat kerja di kantor yang sama meski hanya beberapa hari. Biasanya aku lupa orang-orang yang kukenal sambil lalu tapi cece itu selalu kuingat karena dia mengulang-ngulang cerita yang sama. Bahwa berkeluarga butuh modal. Karena keyakinannya itu dia memilih melajang sampai umurnya yang tembus kepala 4 karena laki-laki yang datang menawarkan pernikahan nggak menawarkan kemapanan.

Aku setuju berkeluarga butuh modal dan aku pribadi nggak menghitung cinta sebagai modal. Betul kata orang-orang tua, “Makan tuh cinta!” Tapi saat aku kenal si cece itu pun, hampir 20 tahun lalu waktu umurku masih 20-an, aku sudah merasa ada yang nggak pas dengan keyakinannya. Lebih baik nggak berkeluarga daripada   pusing mutar uang membiayai rumah-tangga?

Kalau ada orang yang hidupnya sulit setelah berumah-tangga, coba perhatikan baik-baik, apa yang bikin hidupnya sulit: pilihan sekali seumur hidup berumah-tangga dengan si Fulan atau rangkaian pilihan hariannya seperti makan, njajan dan smartphone-nya? Selama kita nggak sibuk cari pengakuan dari lingkungan sosial, berani apa-adanya, nggak berhenti mencari cara-cara yang smart, sesungguhnya modal untuk menghadapi kesulitan keuangan karena biaya rumah-tangga sudah di genggaman.

Trully hope the cece is married by now. Otherwise, she would have missed so much of life..

Advertisements

2 thoughts on “4 Cara Menghemat Belanja Kebutuhan Bayi

  1. Bu Rinda,
    Sosok wanita tegar dan enerjik. Dari ceritanya saya lihat betapa hebatnya beliau dalam mengatur mind set dan menyiapkan diri dalam keadaan terburuk sekalipun.

    Tetap semangat bu Rinda. Saya penggemar anda.
    Adek Rafi, bundamu sekarang adalah malaikatmu yang dikirim Tuhan YME.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s