Rencana Menghemat THR: Catatan Lebaran 2016

Selesai sudah hiruk-pikuk hari raya. Sekarang mari kita lihat dompet.

Punyaku kosong, bersih, kering. Sisa uang receh.

Itu di dompet. Di laci lemari, dalam lipatan buku rekening Tabungan Emas Penggadaian, tersimpan 1,3 juta yang belum kusetorkan dan memang sengaja nggak kubawa mudik karena aku tahu persis uang tunai nggak betah lama-lama dalam dompetku.

Jadi kabar bagusnya adalah: Lebaran tahun ini nggak sampai defisit seperti tahun-tahun kemarin. Alhamdulillah. Kalau toh 1,3 juta itu habis terpakai juga, bisa kupastikan nggak ada hubungannya dengan belanja Lebaran atau biaya hidup sehari-hari. Aku sedang ada dalam proses adopsi yang butuh biaya. Buat materai aja dah makan hampir 100 ribu.

Yang aku baru sadar–paling nggak untuk kasusku–menghemat Lebaran butuh lebih dari perencanaan dan budgeting seksama yang beberapa bulan lalu kurancang di sini.

Pos ini laporanku.

Eksekusi#1: Meng-out-sourcing urusan belanja, masak dan takjil

Kuputuskan untuk menyerahkan uang belanja ke Mbak Tin yang membantuku cuci-setrika seminggu tiga kali. Di luar Ramadhan pun aku rantangan di Mbak Tin. Cuma selama puasa uang rantangan kutambah. Dari 165 ribu jadi 265 ribu per minggu. Aku minta tambah gorengan buat berbuka dan bahan mentah buat sahur. Ajaibnya, masakan untuk berbuka cukup buat makan sahur sekalian. Nggak perlu nambah bahan mentah buat sahurku. Sebelum Mbak Tin libur, kuserahkan uang 100 ribu. Nitip belanja bahan mentah buat makan selama cuti nasional.

I can’t say enough of how she has helped me save.

Aku nggak akan bisa nyukupkan uang 265 ribu buat belanja makan berbuka, makan sahur dan beli camilan selama seminggu. Apalagi 100 ribu buat seminggu. Mungkin hematnya bisa kujelaskan.

Satu: Mbak Tin belanja di pasar yang nggak akan kudatangi. Jauh. Walau bertekad belanja di pasar, ujung-ujungnya aku pasti milih belanja di warung Pak Jon. Cuma 100 meter dari kontrakan. Dekat, lengkap tapi lebih mahal.

Dua: Mbak Tin belanja seminggu sekali untuk kebutuhan makan sehari-harinya 4 keluarga. Beli dalam jumlah banyak di pedagang pasar langganan pasti jatuhnya jauh lebih murah. Belanjaku cuma buat 2 orang. Dengan kulkasku yang nggak dingin, nggak bisa nyetok sayur-sayuran dan buah-buahan buat seminggu.

Tiga: Mbak Tin bisa bikin 5 menu yang berbeda modal telur. Aku cuma bisa bikin dadar. Jadi kalau aku sendiri yang belanja, macam bahannya harus banyak. Tahu, tempe, ayam, jeroan, kerang, udang, daging, telur kubeli semua buat seminggu. Mbak Tin nggak perlu belanja seberagam itu.

Empat: ketika orang yang lagi puasa beli camilan atau minuman di saat-saat menjelang berbuka, yang ada pasti lapar mata. Rasanya semua mau dibeli. Dengan memasrahkan uang belanja ke Mbak Tin aku nggak perlu keluar rumah. Selamat dari impulse beli-beli jajan dan minuman. Atau makan di luar.

Kebanyakan orang, almarhum bapak-ibuku misalnya, biasanya menuntut acara makan yang istimewa selama puasa. Di situlah peluang menghemat yang pertama. Lepaskan kebutuhan mengistimewakan acara makan selama Ramadhan. Salah satu caranya dengan membiasakan diri berpuasa di luar Ramadhan.

Cara lainnya: jangan belanja dan masak sendiri. Serahkan ke orang lain. Percayakan perencanaan menu padanya. Termasuk pengadaan camilan dan es. Jauhkan diri dari beli-beli makanan di menit-menit menjelang berbuka.

Eksekusi#2: Mengandalkan baju yang teruji pantas dan serasi 

Kata kuncinya ‘teruji’. Itu artinya bukan baju baru.

Aku ingat Lebaran beberapa tahun lalu almarhum ibuku beli beberapa potong baju untuk Hari Raya. Salah satunya blus kerah Sabrina dengan rimple lebar. Itu bukan baju untuk ibu-ibu umur kepala 5. Padahal ibuku punya puluhan setel baju dari batik sutra yang bisa bikin perempuan separuh baya kelihatan sangat anggun. Suamiku akan selalu memilih sarung baru dan baju koko baru ke shalat Id meski warna sarung dan kokonya tabrakan. Ngotot pakai baju koko baru biarpun putih bersihnya bikin dia jadi Pangeran Kegelapan. Pokoknya baru.

Istrinya menghindari memakai baju yang belum pernah dipakainya sebelumnya ke acara pesta atau Hari Raya. Hanya kalau terpaksa.

Nah, kenapa?

Karena isi lemariku bekerja sebagai tim yang tugasnya mengangkat penampilan maka anggotanya benar-benar pilihan, terseleksi dengan ketat. Tiap kali beli baju, sepatu, tas atau aksesoris baru, bisa habis jam-jaman di depan kaca. Terkadang kupakai tidur. Kalau dah nggak suka dengan yang kulihat di kaca, meski itu daster, nggak  akan kusimpan apalagi kupakai. Ini seleksi tahap pertama.

Seleksi berikutnya adalah memakainya  ke luar rumah. Semua baju yang nggak mantesi, yang sangat nggak nyaman, cepat atau lambat akan keluar dari lemari. Nggak peduli itu baju bagus atau mahal, kalau nggak pantes ya nggak pantes, harus keluar dari tim. Ini juga berlaku untuk baju rumah.

Nggak lantas tampilanku jadi bak Syahrini dengan cara ini. Yang jelas sangat membantu mengatasi perasaan nggak punya baju walaupun isi lemariku dikit. Mbak Tin sampai nanya, “Baju Kakak cuma ini??” Makin tambah umur makin jarang beli baju (belum tentu setahun sekali dan pastinya bukan di bulan Ramadhan) karena sudah sangat terlatih memakai hanya yang teruji mantesi.

Pengetahuanku tentang warna dan kecenderungan ke gaya klasik juga sangat meringankan beban THR suami. Barang-barangku tetap bagus dipakai 10 tahun dari sekarang. Pilihan warnanya kupastikan yang bagus dipadu-padankan dengan coklat–warna yang bikin kulitku terlihat bersih. Skill padu-padan ini juga yang membantuku memilih pasangan baju untukku dan suami dari yang sudah ada di lemari. Tetap terlihat serasi meski nggak persis sama bahan kain atau warnanya.

Jadi hadapkan wajah ke pantes dan serasinya. Jangan ke barunya. Beli baju baru tiap Lebaran nggak nolong kita nguliahkan anak.

Eksekusi#3: Mengganti bagi-bagi uang/makanan/baju/alat shalat dengan bentuk ‘hadiah’ lain

Jangan salah, aku masih tetap tukar uang 2000-an baru, 25 lembar, tapi nggak semua anak kecil kukasih. Hanya anak-anak saudara yang orang tuanya harus berjuang untuk biaya hidup sehari-hari. Jumlahnya juga nggak kusamakan. Seorang sepupu suami yang baru masuk SMK kuserahi 50 ribu. Dia enteng dimintai tolong. Bapak-ibunya nggak punya penghasilan tetap. Jelas aja kulebihkan.

Untuk anggota keluarga lainnya, aku lihat apa yang mereka butuh atau apa yang bikin mereka senang. Suami mandikan bapak dan bawa jalan-jalan dengan mobil setiap hari selama 4 hari kami di sana. Itu jauh lebih berarti bagi bapak mertua daripada uang 10 juta dengan kondisinya sekarang. Bapak mertuaku meneteskan air mata saat suami pamit kembali ke Surabaya.

Mbak iparku adalah seorang yang hanya mau memakai barang-barang yang dia beli dengan hasil keringat sendiri. Begitu aku paham itu, kucoret pemberian baju/barang/uang. Dia senang ngasih masakan dan jajan buatannya sendiri. Memuji masakan dan jajan pemberiannya sudah membuatnya sangat senang.

Kami memberi tumpangan ke seorang tante yang hidup sendiri tanpa anak-suami saat mudik dan seorang sepupu yang membawa 2 anak saat balik.

Kita semua punya kebutuhan dan kesenangan kita sendiri. Ada orang-orang yang nggak butuh atau senang dengan pemberian uang atau baju. Mempertimbangkan itu saat ingin tebar hadiah di Hari Raya bukan cuma soal menghemat tapi lebih ke soal dampak. Bukankah sangat menyenangkan bila setiap kali hiruk-pikuk Hari Raya usai hubungan kita dengan sanak-kerabat semakin baik? Mana yang lebih bisa memastikan itu: tebar hadiah yang menunjukkan status sosial-ekonomi kita atau tebar ‘hadiah’ yang menunjukkan semangat kekeluargaan, kepekaan dan rasa peduli?

Banyak (sekali) orang yang berharap kita bagi-bagi uang atau baju baru di Hari Raya. Sejujurnya, aku nggak ingin berurusan dengan mereka.

Eksekusi#4: Menyiapkan camilan dan minuman cepat saji untuk tamu

Tamuku nggak banyak. Nggak perlu nyiapkan 13 toples kue kering, 3 kardus air mineral dan 3 krat soft-drink seperti ibuku dulu. Untuk tamu-tamu di rumah mertua–tujuanku mudik–urusan sajian dan jajanan hari raya kuserahkan adik ipar yang tinggal dengan mertua.

Jadi Lebaran kali ini stop beli kue kering, kue kalengan dan sirup. Yang kubeli yang nggak ada di mini atau supermarket: Tahu Sutra dan Sosis Bakar beku. Dan yang nggak khas Hari Raya, yaitu: mie instant, kopi sachet, Milo 3 in 1 sachet dan Teh Tong Tji daun. Aku juga sedia tepung bakwan racikan, mayonnaise, saus tomat dan sambal botolan. Idenya adalah begitu tamu datang, aku si nyonya rumah turun ke dapur bikin minuman hangat dan temannya seperti mie goreng, Martabak Mi, Bakwan, Sosis Bakar dan Tahu Goreng. Makannya dicocol saos, disiram mayonnaise. Cepat, gampang, semuanya favorit keluarga. Berani kupastikan habis tandas. Yang punya rumah doyan.

Seperti Tahu Sutra dan Sosis Bakar yang kugoreng di rumah mertua buat dimakan sendiri sama-sama. Yang aku yakin aja sambutannya nggak akan sebagus itu andai aku bawa Opor Ayam, Nastar dan Kastengel buat tamu.

Sosis Bakar memang lumayan mahal; 75 ribu per pak. Tapi, karena dia makanan beku, bisa kubeli sebulan sebelumnya dengan gaji bulan itu, bukan dengan uang THR. Senangnya lagi: bisa buat lauk. Gitu juga dengan mie instant dan kopi/teh/Milo. Bisa ditanggung gaji bulan sebelumnya. Kalau toh nggak habis di Hari Raya, bisa ngurangi belanja bulanan di bulan depannya. Semua yang kusebut tadi selalu ada di daftar belanja bulananku karena bisa ngurangi nafsu njajan. Kue kering dan kue kalengan nggak bisa.

Eksekusi#5: Menyebar agenda silaturahim dengan keluarga besar ke sepanjang tahun

Silaturahim melapangkan rizki dan memanjangkan umur. Itu sunnatullah. Tapi kenapa setelah seminggu intensif bersilaturahim orang normal pada sambat sempit? Ya sempit uang, sempit waktu, sempit tenaga. Karena kitanya maksa; maksa serentak sepulau Jawa-Madura, maksa di bulan Syawal, maksa tuntas dalam seminggu, maksa meng-cover eyang, saudara kandung eyang dan turunannya, pakde-bude dan turunannya, tetangga sekampung, teman kantor, teman TK sampai kuliah.

Aku belajar untuk lebih strategis dengan silaturahim. Kalau kerangka kerjanya adalah menumbuhkan kasih-sayang dan memperkuat persaudaraan, kita nggak bisa datang setahun sekali. Mungkin bisa kalau kita menginap beberapa hari dan pastinya bukan di hari-hari si tuan rumah sibuk dengan puluhan tamu lain. Kita harus berhenti melihat kunjungan setor muka dan asal salaman sebagai silaturahim.

Jadi sebelum dan setelah Ramadhan kucari-cari kesempatan ‘sekali mendayung dua pulau terlampaui’. Jadi penguji di sebuah in-company training di Gresik, pulangnya mampir rumah Pakde yang cuma 10 menit dari situ. Ke Pacet buat nengok rumah, pulangnya mampir ke rumah bude yang kita lewati. Butuh truk buat boyongan, sewa truk sepupu di kampung Bunda di Mojokerto. Datang langsung ke rumahnya buat ngatur segala sesuatunya sambil nyambangi pakde yang habis operasi dan sepupu yang melahirkan. Dengan cara ini silaturahim di Hari Raya bisa kukhususkan untuk orang-orang tertentu yang kecil sampai nol kemungkinannya kukunjungi selain di Hari Raya. Seperti tetangga sebelah rumah ibuku yang kupanggil Pakde-Bude.

Begitu kita berhenti melihat silaturahim sebagai kewajiban moral Hari Raya, beban THR menanggung biaya transport/oleh-oleh/nyangoni juga berkurang banyak. Bisa dibagi dengan penghasilan di bulan-bulan lain selain Syawal. Juga bisa sungguh-sungguh diupayakan untuk menumbuhkan kasih-sayang dan memperkuat persaudaraan.

There IS a better way to do it. Find it.

Advertisements

3 thoughts on “Rencana Menghemat THR: Catatan Lebaran 2016

  1. Bismillah. Ninggali pesen “Bangga Sekali Berteman Denganmu mi, byk cerita bikin terharu dan kembali semangat menjalani hidup.” Mendeklarasikan diri bahwa kita bukan “Desperate Housewives”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s