Clengkunik Center


Aku harus berterimakasih ke Mbak Inda Sari dari Catering Dapur Bunda yang sudah membuatku berpikir serius menjajaki kemungkinan Clengkunik Center.

Clengkunik.

Apa artinya? Nggak tahu. Tapi mari kita rumuskan.

Kalau Ayah masih hidup mungkin bisa mendefinisikannya. Seperti waktu aku kelas 3 SD di pulau kecil di tengah Samudra Pasifik sana. Guru Bahasa Indonesiaku tanya mana yang benar, nasihat atau nasehat. Karena nggak seorang pun bisa jawab jadi lah PR.

Buat anak TK dan SD, nggak ada yang lebih pintar dari ayahnya. Aku tanya lah ke Ayah.

Jawab Ayah, “Nasihat dari kata ‘nasi’ sedangkan nasehat asalnya dari kata ‘sehat’. Kata-kata yang baik membuat kita sehat. Jadi yang benar adalah nasehat.”

Besoknya, guru Bahasa Indonesiaku mengulang pertanyaannya. Anaknya kapolres Serui ini langsung ngacung, mengulang jawaban bapaknya, persis sama, meski di belakang kepalanya ada suara kecil yang protes, merasa ada yang nggak beres dengan jawaban itu.

Si guru Bahasa Indonesia bilang, “Betul!”

Pesan moral cerita ini adalah: kalau anak tanya, jangan asal jawab. Apalagi kalau orang sepulau (pulau kecil di tengah Samudra Pasifik yang andai diterjang Tsunami satu pulau habis) kenal anakmu sebagai anaknya kapolres. Karena guru Bahasa Indonesia setempat nggak akan berani ngoreksi jawabannya anak kapolres. Meski reasoning jawabannya sesat. Kalau nggak tahu ya bilang aja nggak tahu.

Kembali ke clengkunik.

Andai ponakanku Hilda dan Azka dengar ‘clengkunik’ dari mulutku, mereka pasti tergelak-gelak. Azka nggak bisa berhenti tertawa dengar aku nyebut ‘uleg-uleg’; Hilda terbahak-bahak dengar Bunda ngomong dalam Bahasa Jawa dengan Yu Sri penjual sayur keliling langganan Bunda. Dengar logatku orang selalu tanya, “Mbak orang mana?”

Ketika di seluruh wilayah Luar Jawa (ya, termasuk Betawi dan Pasundan), tak seorangpun mempertanyakan identitas Jawaku.

Ganjil, janggal, aneh, nggak umum, anomali itu sudah biasa buatku. I have lived it all my life. Tapi baru-baru ini aja kuputuskan untuk meng-embrace anomali. Hobi anehku ngumpulkan barang-barang sampah sekarang “kujual”. Seleraku ke barang-barang yang nggak umum juga.

Sejauh ini sudah kuhasilkan:

Produk#1: Kembang dari tas berkatan

Agak terobsesi dengan kembang. Di album foto smartphone-ku nggak akan nemu selfie, foto kembang (kembang hidup maupun tutorial bikin kembang dari pita, kain dan kertas) ada kalau 500-an biji.

Dalam keadaan stress berat, dorongan naluriahku adalah bikin kembang. Produk#1 ini bukan hasil riset atau perencanaan. Nemu nggak sengaja. Pikiran lagi kusut sekusut-kusutnya. Dalam kondisi auto-pilot, tanganku ambil salah satu Koleksi Barang Sampahku–tas berkatan–terus gunting, terus dompet alat jahit. Gunting, gunting, gunting. Tahu-tahu jadi kembang. Nggak tidur sampai jam 2 pagi. Besoknya kuulangi lagi. Waktu bikin nggak tahu mau buat apa. Aku cuma butuh menyibukkan tangan supaya kepalaku diam.

Hasil kerja on and off selama 2 mingguan. Ada hari-hari aku nggethu bikinnya sampai tanganku kram. Ada hari-hari malesku kumat.
Varian 2, kerja on and off selama 2 mingguan. Ada hari-hari aku nggethu bikinnya sampai tanganku kram. Ada hari-hari malesku kumat.

Produk#2: Amplop kado dari kertas alas kaki tempat cuci mobil

Kembang-kembangnya dari tas berkatan. Ini varian pertama kembang tas berkatanku. Lebih kecil, nggak sepenuh Varian 2.
Kembang-kembangnya dari tas berkatan. Ini varian pertama kembang tas berkatanku. Lebih kecil, nggak sepenuh Varian 2.

Amplop-amplop ini sudah pernah kuomongkan di beberapa pos lawas. Dapat inspirasinya dari bungkus kado non kertas kado yang kukumpulkan dari Pinterest. Hiasannya kubuat persis sama dengan yang kulihat di Pinterest, berlayer. Elemennya juga sama; kembang, daun dan pita. Pitanya kuganti dengan tali dan sisa tas berkatan. Amplopnya yang entah darimana kudapat idenya. Begitu lihat kertas alas kaki yang kukumpulkan dari tempat cuci mobil yang satu sisinya polosan coklat, tiba-tiba aja kepingin bikin amplop. Kubuat 4 varian tapi memang yang di bawah ini yang paling mengesankan.

Aku yakin amplop ini sangat menjual. Yakin dudukan foto di sebelahnya itu bakal jadi rebutan begitu ku-listing. Mbleset.
Aku yakin amplop ini sangat menjual. Yakin dudukan foto di sebelahnya itu bakal jadi rebutan begitu ku-listing. Mbleset.

Produk#3: Kantong kertas dari kalender

Ini juga bukan hasil mikir. Seingatku bukan karena pikiran yang lagi kusut. Lagi bosan sebosan-bosannya. Nggak kerja, nggak ada anak, nggak suka keluar rumah, nggak gitu suka ngobrol (di dunia maya atau dunia nyata) dan sudah sangat fed up dengan Facebook. I have quit TV a looong time ago. Belum hooked on Instagram waktu itu.

Hampir sama seperti tadi, dalam kondisi auto-pilot, aku ambil salah satu Koleksi Sampahku–kalender–terus gunting, terus selotip bolak-balik, terus bulpen dan penggaris. Kursi TK dari masa kecilku dulu kutarik ke pojok kamar. Ngukur terus bikin garis. Ambil cutter. Garis-garisnya kugores dengan cutter. Lipat, lipat, lipat. Jadi kantong kertas. Dari Dhuhur sampai lewat Ashar nggak berhenti. Besoknya kuulangi lagi. Waktu bikin juga belum tahu mau buat apa.

Ini hasil kerja menghias pertama. Di upaya kedua kembangnya kuganti dengan yang lebih besar dan penuh. Lebih impresif. Sayang nggak ada fotonya.
Ini hasil kerja menghias pertama. Di upaya kedua kembangnya kuganti dengan yang lebih besar dan penuh. Lebih impresif. Sayang nggak ada fotonya.

Dapat 2 varian. Separuh kukasih hiasan kembang tas berkatan dan tali rafia. Berbulan-bulan kubiarkan gitu aja. Sempat masuk dalam kotak, kusimpan di lantai oven [=lantai atas yang panasnya Masya Allah], turun lagi ke bawah, naik lagi. Sampai kira-kira sebulan lalu, setelah roda Toko Insta-ku mulai berputar. Kugarap ulang dan kutuntaskan menghiasinya. Makan 2 hari.

Untuk wajah kucingnya ngguntingi kertas satu-satu, nempeli satu-satu. Lama. Dari kardus Dunkin Donuts dan Wafer Richeese.
Untuk wajah kucingnya ngguntingi kertas satu-satu, nempeli satu-satu. Lama. Dari kardus Dunkin Donuts dan Wafer Richeese.

Niatku buat wadah party favor. Buat njual keranjang-keranjang plastikku yang nggak dilirik orang. Ceritanya mau coba kujual sepaket: perlengkapan bufet jajan pesta ultah anak. Terdiri dari keranjang plastik buat wadah penganannya, kantong kertas buat wadah bingkisan buat dibawa pulang sama anak-anak yang datang dan bunting/garland buat hiasan meja jajannya sekalian. Mau kukasih nama Paket Ultah Anak dari Barang Bekas.

Yakin nggak akan ada yang mau beli.

Seminggu lalu nemu ide pemanfaatan yang lebih bagus: buat kemasan barang-barang kecil yang laku dari tokoku. Ini isinya word puzzle yang kujual 25 ribu. Dibeli teman. Pembelian pertama. Harus ngasih kesan yang dalam.

Menyenangkan teman di pembelian pertamanya dengan "You Are Awesome".
Menyenangkan teman di pembelian pertamanya dengan “You Are Awesome”.

Produk#4: Bungkus kado dari kardus

Ada 4 kubuat. Dua karena memang butuh buat ngirim barang. Dua lagi terjadinya hampir sama seperti tadi. Cuma kali ini ditambah bertujuan; untuk endorsement di Instagram.

Setelah kutunda-tunda beberapa hari, aku ingat, malam itu lagi sendirian. Suami lembur, ponakan umur 5 tahun yang datang tiap hari lagi absen. Ada urusan dengan Adik Haris katanya. Lagi, dalam kondisi auto-pilot, tanganku ambil kardus rusak yang tadinya mau kurombeng, gunting, cutter, bulpen dan penggaris. Selotip bolak-baliknya kuganti staples. Dalam waktu satu jam jadi dua kotak sak foto-fotonya sekalian. Cepat karena kembangnya dah tinggal tempel. Hiasan kertas di kembang putih juga sudah jadi sejak Pebruari. Kubuat dari undangan mantenanku, bungkus permen coklat dan sisa kertas foto. Pas bikinnya 4 bulan lalu itu juga nggak ainul yaqin mau dibuat apa.

Sengaja kubuat kotak bertutup supaya mbukanya nggak perlu ngerusak, bisa dipakai lagi.
Sengaja kubuat kotak bertutup supaya mbukanya nggak perlu ngerusak, bisa dipakai lagi.

Dua dari 4 kotak ini kukirim lewat JNE. Di tangan penerima, rupa packaging ala Rumah Barang Tinggalan ini nggak sama dengan di tangan pengirim. Ada tangan JNE yang harus ngurus kirimannya orang banyak. Untuk memastikan bentuknya nggak berubah aku harus beli kertas tebal untuk hiasannya atau layanan kurir yang lebih mahal. Dua-duanya sama-sama nggaknya bagi tokoku yang berusaha menetapkan harga jual di bawah 50 ribu untuk sebagian besar barangnya.

Di tangan penerima kertas crepe yang kujahit jelujur lalu kutarik untuk membuatnya berkerut, dan kembangnya, kempes. Ajaibnya, ranting yang kutambah di menit-menit terakhir nggak lepas.
Di tangan penerima, kertas crepe yang kujahit jelujur lalu kutarik untuk membuatnya berkerut, dan kembangnya, kempes. Ajaibnya, ranting yang kutambah di menit-menit terakhir nggak lepas.

Produk#5: Mood-booster di meja kerja

Di pos Toko Insta: Ketika Hemat Tak Lagi Cukup, aku ada bilang soal barang dagangan yang berevolusi. Setelah 8 bulanan jualan barang bekas di Instagram (dari total 15 bulan jualan barang bekas sejak ibuku meninggal Agustus 2014), aku mulai meng-upgrade produk barang bekasku.

Oktober 2014 aku ke Bali nemui Pakde sekeluarga yang datang berlibur dari Australia. Pulang bawa dudukan foto lucu. Niatku buat kupakai sendiri. Karena kebanyakan barang lalu pindahan, lupa kalau punya. Setelah mulai sortir barang, persiapan masa ngontrak yang mau habis, baru lihat lagi. Masih terbungkus plastik jadi kupikir lebih menguntungkan kalau dijual. Kupos di Instagram, di Facebook, kuulangi lagi di Instagram. Laku?

Orang tanya aja nggak ada.

Standard Operating Procedure toko Instaku adalah: kalau setelah di-listing 2-3 kali masih nihil respon, jual dalam bentuk lain atau gratiskan.

Kuputuskan untuk menjualnya dalam bentuk lain. Tetap sebagai dudukan foto tapi kutempel di alas kayu dan kutambah botol You-C 1000 yang juga the proud member of Koleksi Sampahku. Bukan tanpa alasan.

Toko Instaku mulai menunjukkan tanda-tanda naik kelas. Yay! Alhamdulillah..
Toko Instaku mulai menunjukkan tanda-tanda naik kelas. Yay! Alhamdulillah..

Pertama: alas kayu membuat dudukan foto ini jadi kokoh; nggak ngguling meski mengapit foto ukuran besar atau lebih dari satu foto. Bisa ditambah kertas yang isinya kutipan inspirasi atau kalimat yang bisa mendongkrak semangat.

Kedua: botol You-C 1000 bisa buat vas daun/bunga. Juga bisa nampung satu bulpen. Kalau mau, taruh permen yang ber-handle, tombo sugar attack.

Ketiga: ditambah alas kayu dan botol, ukurannya jadi lebih besar, lebih terlihat mata. Lebih sanggup berfungsi sebagai hiasan meja dibanding dudukan foto sendirian.

Keempat: aku bisa menjualnya dengan harga lebih tinggi.

Tamatkan fotonya untuk memverifikasi pernyataanku. Charm di leher botol kubuat dari tali tas berkatan dan manik-manik dari kalung/gelang/ikat rambut rusak/nganggur (nganggur karena kelihatan murahan). Alas kayunya dari kayu sisa di tempat kerja suamiku. Untuk menghaluskan kayu kupakai sobekan kertas pasir yang aku sendiri nggak tahu kudapat dari mana. Yang pasti bukan beli. Sudah ada di Koleksi Sampahku sejak aku nggak ingat persisnya kapan. Lemnya pun nggak beli; lem kayu dapat dari tempat kerja suami, lem PVC dapat nemu di rumah ibuku.

Everysingle thing is a proud member of my cast-off collection.

Ayah yang meski logika berpikirnya kadang bikin anak tertuanya ngowoh tapi sangat kucintai itu sudah nggak ada. Clengkunik harus kuartikan sendiri.

Clengkunik: kata benda barang-barang kecil hasil kerja tangan yang sulit diklasifikasikan dalam satu kategori tertentu yang terbuat dari berbagai macam barang tak terpakai atau barang yang pada umumnya dibuang seperti sisa-sisa plastik, kertas, kain, tali, kemasan produk pabrik termasuk barang-barang alam seperti kayu, batu dan ranting kering.

Rumah Barang Tinggalan sedang merintis jalannya menuju Clengkunik Center bagi pasar ibu rumah tangga hemat bermartabat.

Masalahnya adalah: dengan cara kerjaku yang nggak bisa dijadwal itu, ide datang sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan atau pamit, produktifnya harus nunggu pikiran kusut atau bosan, apa aku bisa menjalankan Clengkunik Center yang bisa diandalkan? Yang bisa menggarap 1000-an bungkus kado??

Mbayangkannya aja tanganku sudah kram.

Harus kupikirkan siasat.

Makasih, Mbak Inda!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s