Zero Social Cost

Ini bukan pos baru. Sudah kupublikasi beberapa bulan lalu di blogku yang lain. Kupublikasi ulang karena sebentar lagi Lebaran.

Lebaran.

Apa cuma aku yang pusing dengan besarnya biaya Lebaran? Kenapa Lebaran–terutama setelah menikah–selalu membuatku merasa miskin dan kurang? Ada 12 bulan dalam setahun. Hanya bulan Syawal yang bisa membuatku merasa seperti itu. Eh, nggak juga sih, musim kawin juga.

Tulisan ini meluruskan perspektifku tentang berhubungan sosial. Cukup membantuku mengatasi perasaan miskin dan kurang di hari-hari menjelang Lebaran ini. Aku yakin banyak jiwa-jiwa gelisah sepertiku. Sebelum mengeluh, mengasihani diri sendiri atau berhutang, baca tulisanku ini dulu. Lebaran bukan soal mudik, baju baru, makan-makan, Nastar, bagi-bagi uang kertas baru, tebar amplop, parcel atau kulak’an sajadah, peci dan rukuh. Yang pantas berpikiran seperti itu hanya anak-anak yang belum akil balig; yang akalnya belum sempurna.

Semoga bisa meringankan beban.

(Foto dari Better Homes & Gardens)
(Foto dari Better Homes & Gardens)

Sebulan setelah menikah, aku dan suami keluar dari rumah orang tuaku–rumah 2 lantai berkamar 9–untuk tinggal di rumah petak. Tidak terlalu menganggu. Sangat yakin kurang dari 5 tahun kami bisa mencicil rumah sendiri. Kenyataannya, ketika sewanya habis, harus menggadaikan perhiasan emas demi memperpanjang sewa yang 4,5 juta. Jumlah yang bisa kuhasilkan dalam sebulan sebelum menikah. Mulailah kenyataan pahit itu mengendap di kepala.

Pilihan pekerjaanku dan pilihan menikah dengan laki-laki berpenghasilan UMR memaksaku mengganti gaya hidup yang diajarkan orang tua. Juga gaya hidupku sendiri sebelum menikah. Yang meski sudah hemat ternyata tidak cukup hemat.

Yang paling sulit adalah merubah kebiasaan ajaran orang tua yang berhubungan dengan bagaimana harus menempatkan diri di hadapan sanak-saudara dan lingkungan sekitar. Harus kutinggalkan karena makan biaya luar biasa. Dengan keuanganku setelah menikah, sama saja dengan mengubur rumah tanggaku dalam lubang hutang.

Berikut prinsip-prinsip bersosialku yang baru. Sedikit-banyak adalah anti-thesis dari ajaran ibuku, modifikasi overhaul dari ajaran bapakku.

Kemurahan hati yang impactful. Rumah Zakat pernah punya program mengawetkan dan mengalengkan daging kurban. Ini memungkinkan penyebaran daging kurban yang lebih luas, bukan cuma di sekitar wilayah penyembelihan. Juga memungkinkan pemanfaatan yang lebih besar. Pengadaan pangan dan perbaikan gizi di kantong-kantong kemiskinan misalnya. Meski gaungnya tidak sekencang event bagi-bagi Zakat Fitrah dan Zakat Maal untuk ribuan orang di rumah-rumah orang kaya-raya yang tiap Ramadhan selalu makan korban jiwa, it’s a start. Kuganti bagi-bagi uang ke sanak-saudara dan anak-anak dengan menjadi donatur lembaga amil zakat, sekecil apapun uang yang bisa kuberikan, tanpa menunggu Lebaran atau rizki lebih.

Berkata “Tidak” pada tuntutan sosial yang tidak bermanfaat. Yang pertama kutolak adalah tuntutan menyediakan pinjaman. Kerasnya upayaku menjaga diri dari hutang menjadikanku sangat judgemental pada orang-orang yang gemar berhutang.

Yang kedua adalah tuntutan sosial atas segala macam slametan, syukuran dan perayaan kecuali perayaan pernikahan. Satu lagi: skalanya harus dikecilkan. Tradisi kita seperti mengundang ribuan orang, mencatat uang buwuhan, norma “mengembalikan buwuhan” membuatku prihatin.

Yang ketiga adalah tuntutan gaya hidup yang larinya ke prestis. Aku tidak memakai perhiasan emas apalagi berlian atau akik. Tidak memakai barang-barang branded. Tidak berlibur ke luar kota apalagi luar negeri (meski tiket dibelikan). Menjauhi mal. Kritis terhadap tren di bidang hidup apapun.

Lingkungan sosial yang dibentuk oleh pribadi-pribadi yang tidak manfaat menghasilkan tuntutan-tuntutan sosial yang juga tidak manfaat. Kekayaan dan kedudukan tidak menunjukkan manfaat seseorang. Cukuplah Donald Trump dan Setya Novanto sebagai bukti.

Semua yang punya nilai bisa jadi sedekah. Aku mengartikan sedekah sebagai memberikan segala sesuatu yang punya nilai ekonomi tanpa dibayar atau dengan imbalan di bawah nilai pasar.

Di kampung ibuku ada seorang penjual Nasi Jagung. Dia tak menaikkan harga meski harga bensin atau sembako naik. Ibuku pernah bertanya apa dia tak rugi. Jawabnya: dia ingin bersedekah. Nasi Jagungnya adalah masakan beli paling murah sekampung.

Ketika pemulung yang lewat depan rumah kita menemukan kertas koran dan botol beling tertata rapi di kardus, di depan tempat sampah, tidak dicampur dengan sampah lain, dia bisa mengumpulkan lalu menjualnya ke penadah rombeng. Apa itu bukan sedekah? Sedekah barang dan sedekah memudahkan orang lain. Kita menghindarkannya dari mengoret-ngoret sampah.

Teladan dan kepemimpinan adalah sedekah utama. Kebutuhan manusia bukan cuma sandang, pangan dan papan. Layanan pendidikan dan kesehatan juga kebutuhan dasar. Kalau kita mau jujur, yang paling kita butuhkan di dunia yang makin hari makin materialistis ini adalah orang-orang yang bisa menjadi contoh dan memotivasi orang-orang di sekitarnya; dalam banyak hal; gaya hidup yang bermartabat tapi terjangkau orang banyak, mobilisasi sosial dengan keahlian, ilmu yang memecahkan masalah, kesuksesan yang diukur dengan kemanfaatan bagi sesama, kerja politik yang amanah dan berkah.

Ketua RW perumahanku adalah teladan. Di bawah kepemimpinannya ada balai RW yang bisa disewa untuk perayaan pernikahan, ada lapak relokasi pasar kaget (yang tadinya menghalangi lalu lintas), ada panggung untuk acara lomba, taman bermain anak, sentra warung dan penjual makanan; bunderan yang tadinya cuma buat Shalat Id sekarang jadi fasilitas komunitas dan rekreasi. Beliau melakukan semua itu tanpa dibayar.

Selama kita menunjukkan teladan dan kepemimpinan dalam bersaudara, bertetangga dan bermasyarakat, sesungguhnya kita sedang bersedekah!

Membangun jaringan rumah tangga berbasis saling-menolong dengan keahlian dan perniagaan. Kuhentikan gaya patron-matron bapak-ibuku dalam membangun hubungan baik. Kujauhi saudara yang–diam-diam atau terang-terangan–mengharapkan uang dariku. Tak perlu menjauh dari mereka yang baik pada keluargaku karena kedudukan bapak dan adik iparku yang perwira polisi (orang-orang ini menjauh dariku dengan sendirinya). Begitu juga dengan semua orang–saudara atau teman–yang mengukur hargaku dari kelas sosial-ekonomi suamiku. I steer clear from these people.

Yang kudekati adalah mereka yang membawa dirinya sebagai keluarga (=melibatkan suami/istri/anak-anak/orang-tuanya dalam bersilaturahim). Mereka yang membawa dirinya sebagai individu kurang bisa menghargai batasan yang harus kuhormati setelah bersuami. Baik-baik kujaga hubungan dengan orang-orang yang mengenalku sebagai guru Bahasa Inggris. Mereka sangat menghargai keahlianku. Kukencangkan ikatan dengan saudara, tetangga, siapapun yang selama ini sudah membantu atau meringankan beban dan kesulitanku, apapun bentuknya, without any string attached. Karena ada juga yang baiknya dengan syarat dan ketentuan berlaku. Perubahan status sosial-ekonomiku membuatku peka pada orang-orang seperti ini. Perhatian baruku setelah menikah adalah orang-orang yang punya usaha kecil atau usaha rumahan yang produk-produknya membantuku berhemat.

Lima prinsip ini yang akan terus kupraktekkan demi zero social cost. Tolong jangan diartikan sebagai tidak mau mengeluarkan uang dalam membangun hubungan baik dengan saudara, tetangga, teman dan dalam bermasyarakat. Bukan itu. Karena tak mungkin juga. Kecuali kalau kita hidup di jaman dan masyarakat yang tidak mengenal alat tukar uang.

-Rinda-

Advertisements

3 thoughts on “Zero Social Cost

  1. Aku udah baca post ini di blog satunya dan masih suka baca lagi sekarang. Tradisi nya sama mbak dg keluargaku. Karena sama2 jawa mungkin ya… ngrasa banget perbedaan saat masih lajang dan menikah. Sebelumnya (saat ini masih sih, hehehe) aku kesulitan adaptasi dengan kondisi yg baru, and this post really help me!!
    Dari pada maksa-maksa mengikuti arus, lebih baik memanfaatkan hal yg sudah ada ya mbak!

    Thanks sharingnya! 😀

    1. Aku cari-cari Tentang kemarin buat dapat gambaran persamaan-persamaan penting kita. Karena dengan pribadi bijakku, dengan pengalaman hidup yang nggak lempeng-lempeng aja sejak kecil, dengan umurku dah kepala 4 pun hari-hariku terus terang makin tahun nggak makin gampang. Pingin kenal orang-orang yang tahu rasanya ada di posisiku. Lihat gimana orang lain yang situasinya sama denganku menghadapi kesulitan-kesulitannya. Karena aku tahu seseorang yang situasinya sama denganku dan memilih untuk menyerah, pasrah dengan keadaan. Mindernya yang menjadi-jadi. Sampai mempengaruhi kesehatan mental. Bukan gila atau stress tapi jiwa dan mental yang lemah. Takut lihatnya, Nina. Seri Jaringan Rumah Tangga itu hasil merenungkan hidup ibu tadi dan anak-anaknya di hari tuanya.

      1. Udah Aku tulis Mbak Rinda tentangnya… hehehe, tp ya masih belum oke kayaknya. Kmrn masih blm bisa bedain antara page and post, bedain tentang dan about me, mereka terlihat sama… wkwkwk… disetiap post udah aku sisipin about me soalnya…

        Oh ya, back to the topic..
        aku seneng beginian mbak, karena setelah wira-wiri blogwalking, aku blm menemukan niche kaya gini. Rata2 blogger mapan yang sepertinya kok punya segalanya, bisa jjs keluar negeri, dll…

        Meski aku bukan anak perwira, rumahku tidak berkamar 9, dan masih kepala 2, tapi tetep lho mbak info kayak gini penting banget. Adaptasi situasi sebelum dan sesudah menikah itu bisa menggoncangkan kewarasan seseorang. Apalagi yg terbiasa hidup sakarepe dewe kaya saya.

        Dan saya pun berhenti melihat keatas. Hehehe. Wes dijalani dengan tetap keren aja… Salam Rock mbak… 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s