Toko Insta: Kerja Jualannya


Setelah beberapa bulan lekat-lekat mengamati prilaku preloved shop yang bertaburan di Instagram, ada satu toko yang bikin aku pingin nulis e-book tentang jualan online. Si pemilik akun yang kelihatannya masih sangat muda ini men-share barang yang sama, dalam urutan yang sama, dengan caption yang sama, setiap hari. Terkadang sampai dua kali sehari. Setelah 3 hari hapal barangnya: bingkai foto, dompet dan tas.

Ya, barangnya cuma 3 itu.

When you do the same thing but expect different result: you are crazy.

Ini psikologi pasar yang sangat sederhana: dengan men-share barang yang sama dalam foto yang sama setiap hari (tanpa sedikit pun upaya menjadikan feed-nya menarik) dia menkonfirmasi bahwa barangnya itu-itu aja, dagangannya nggak laku, tokonya sepi pembeli. Justru menurunkan daya jual dan pamor tokonya, bukan?

Jualan di Instagram memang membebaskan kita dari berhadapan muka dengan pembeli tapi nggak lantas membebaskan kita dari kerja jualannya. Bagi mereka yang pemalu atau kesulitan untuk jadi persuasif atau merasa nggak punya daya tarik seorang SPG, jualan online sangat menolong. Aku bukan pemalu, tapi tumbuh-besar di lingkungan dominasi PNS sepertiku, selling doesn’t come naturally. Dengan toko Insta semua kelemahan itu bisa dikompensasi dengan kreatifitas. Jadi jangan berpikir jualan online cukup dengan modal foto dan upload. Apalagi foto asal foto.

Berikut rutinitas yang kupelajari dari toko-toko insta Barat. Secara keseluruhan rutinitas inilah yang kumaksud dengan kerja jualan. Kalau dijalankan sungguh-sungguh beban kerjanya sama dengan kerja full-time. Nggak semuanya harus dilakukan tiap hari. Ada yang sebulan sampai beberapa bulan sekali cukup. Kalau keseringan malah ngerusak konsistensi yang harus kita jaga demi citra bisa diandalkan di mata follower dan pelanggan.

Rutin#1: Rencanakan item yang akan di-listing [=dijual]

Siapkan barang yang akan kita jual. Untuk barang preloved sebaiknya dalam jumlah banyak sekali listing. Perencanaan ini bisa seminggu sekali buat yang rajin dan tekun. Jadi foto-fotonya sekali seminggu, upload-nya dibagi-bagi supaya bisa buat 5-7 hari. Yang biasa produktif di menit-menit terakhir sepertiku mungkin bisa bikin perencanaan malam sebelumnya atau pagi-pagi setelah bangun tidur sebelum upload harian. Termasuk dalam perencanaan disini: mikir styling-nya. Mau pakai prop apa untuk membaguskan foto. Mungkin kembang dari depan rumah atau selendang mama. Be creative.

image
Yang kuusahakan adalah foto listing yang nggak rame prop tapi juga nggak polosan.

Kucoba me-listing minimal tiga item per hari. Lebih bagus kalau bisa dalam satu kategori. Boneka semua misalnya. Kalau nggak bisa dalam satu kategori spesifik, pikirkan satu kategori besar misalnya barang anak. Jadi bisa satu boneka, satu buku cerita, satu kotak makan. Listing seperti ini lebih menjual daripada listing campur-aduk. Menjual 1 selimut bayi, 1 tas bayi dan 1 baju bayi jelas lebih gampang daripada njual 1 selimut bayi, 1 bungkus kripik kentang dan 1 novel best-seller.

Khusus toko barang bekas sepertiku, ada satu lagi yang butuh perencanaan: re-listing. Barang-barang yang belum laku harus diapakan. Kita nggak bisa berharap semua barang laku dengan sekali upload foto. Apa di-listing ulang [=di-upload lagi]? Kalau iya, apa fotonya harus diganti, dibuat lebih menarik? Apa di-listing dalam kategori yang berbeda? Contoh: aku sudah me-listing semua boneka. Nah, boneka yang belum juga laku, apa di-listing lagi dengan barang anak lain? Atau kebaya yang sudah di-listing dalam rombongan baju tapi nggak laku-laku juga. Di-listing lagi dengan barang-barang kebutuhan mantenan mungkin? Sebetulnya inilah kerja jualan utamanya. Bukan foto-foto dan upload.

Rutin#2: Ambil foto

Baiknya kita punya spot tetap untuk ambil foto per item. Cari tempat yang cukup dapat cahaya matahari. Yang modalnya smartphone–bukan kamera–cahaya sangat menentukan kualitas foto. Dan bagi toko baru, nggak ada yang lebih penting dari foto yang bagus. Apalagi kalau yang kita jual barang yang gampang didapat dari toko konvensional atau toko online lain. Jadi kalau rumah kita agak gelap, lebih baik acara foto-fotonya di luar. Lantai semen, tembok batu bahkan rumput bagus kok dijadikan backdrop.

Foto yang terpampang di galeriku biasanya adalah pilihan dari minimal 3 jepretan.
Foto yang terpampang di galeriku biasanya adalah pilihan dari minimal 3 jepretan.

Jangan malas mengambil foto dari sudut yang berbeda-beda demi dapat tampilan yang paling menjual.

Rutin#3: Edit foto

Mengedit bukan untuk mengelabui mata. Jadi sebisa mungkin jangan sampai merubah warna barang. Dalam kasusku yang modal smartphone, editing perlu untuk memperbaiki pencahayaan. Foto jadi lebih terang. Kalau pakai filter Instagram, cobalah untuk konsisten mengaplikasi satu filter saja untuk semua foto di galeri kita.

Untuk yang berlatar putih, semua foto kubuat lebih terang dengan Filter S7 Photogrid.
Untuk yang berlatar putih, semua foto kubuat lebih terang dengan Filter S7 Photogrid.

Rutin#4: Tulis caption

Kita nggak bisa berasumsi foto menjelaskan segalanya. Mungkin nggak perlu semua detil ditulis. Caption yang panjang bikin orang malas baca. 3-5 kalimat sepertinya cukup. Pilih saja info yang menambah nilai barang yang kita jual.

Tas Kain-Kertas Coklat Rp5.000 | Dapat dua-duanya | Yg besar bisa dilipat rapi. Nggak perlu dibuntel lantas diikat karet gelang.
Di caption kutulis: Tas Kain-Kertas Coklat Rp5.000 | Dapat dua-duanya | Yg besar bisa dilipat rapi. Nggak perlu dibuntel lantas diikat karet gelang.

Caption juga bisa difungsikan untuk memastikan semua pos kita in-brand, terkait dengan dagangan kita. Setiap hari Senin aku ikut hashtag #moveitupmonday. Ini hashy-nya komunitas gaya interior farmhouse yang dimotori blog Small Town Girl Life dari Amerika. Pingin cari perhatian bule. Demi memastikan pos #moveitupmonday-ku ini kerja dengan jualanku, kupos foto interior kontrakanku atau caraku memanfaatkan barang bekas atau cerita di balik moving sale-ku. Di caption kutulis kalau yang ada di foto barang bekas semua. Biar orang tahu aku nggak cuma jual, aku sendiri pengguna setia barang bekas dan bisa bikin barang bekas nggak kelihatan murahan.

Manfaatkan caption!

Rutin#5: Cari ide untuk filler post

Yang kumaksud ‘filler post’ adalah pos selain foto barang dagangan. Karena nggak mungkin aja men-share foto barang dagangan setiap hari. Bikin bosan follower. Juga bikin galeri jadi monoton.

Galeri toko Insta Barat biasanya terdiri dari sebagian atau semua pos-pos ini:

  • pos barang dagangan yang difoto per item (lihat @unpolishedandpretty)
  • pos barang dagangan yang difoto dalam konteks (lihat @gablelanecrates)
  • pos kata mutiara (lihat @thesweetmint)
  • pos inspirasi (lihat @keystonejewelry)
  • pos kegiatan toko (lihat @farmhousefrocks)
  • re-pos dari pos pembeli/sesama toko Insta (lihat @harperarrowmarketplace)
  • pos personal (lihat @be_the_bag)

Dengan catatan: semua pos filler ini in-brand, saling berkaitan, ada hubungannya dengan jualan kita. Ini obat bosan yang manjur. Follower nggak bosan dengan pos-pos kita, kita sendiri juga nggak bosan memposting hampir tiap hari. Sangat membantu melewati bulan-bulan pertama yang nggak mungkin aja langsung ramai respon apalagi ramai pembeli.

Rutin#6: ‘Poles’ galeri

Akan ada orang-orang yang mampir lihat galeri kita. Instagram kan domain publik. Nggak semuanya niat beli tapi yang prospektif pasti ngecek galeri kita dulu sebelum ambil keputusan membeli atau mem-follow. Yang nggak peduli sama tampilan galeri kita cuma mereka yang ingin narik kita sebagai follower/pembeli, bukan sebagai influencer/penjual. Jadi pastikan galeri kita menarik secara keseluruhan. Foto yang bagus sendiri-sendiri belum tentu menghasilkan galeri yang sama bagusnya. Disini ini pentingnya punya spot foto yang tetap dan backdrop yang sama. Bikin galeri kita terlihat kompak. Galeri seperti ini, ditambah konsistensi postingan, ngangkat daya jual toko kita.

image
Sangat puas dengan galeri yang kuhasilkan dengan backdrop kayu ini. Pas dengan gaya natural yang kugadang-gadang untuk asas murah nggak murahan.

Aku selalu men-cek tampilan galeriku setiap hari. Yang kuhapus bukan cuma foto-foto barang yang sudah laku tapi juga foto-foto yang nggak membaguskan galeriku. Nggak jarang barang yang sama kufoto sampai 3 kali hanya supaya galeriku sedap dipandang. Harus diingat bahwa pengguna loyal Instagram pada umumnya adalah orang-orang yang visual, yang matanya mencari-cari keindahan.

Rutin#7: Respon komentar, hargai liker dan follower baru

Toko-toko yang followernya ribuan, sudah punya pasar sendiri, kurasa nggak perlu menjalankan rutinitas ini. Kulihat banyak dari mereka yang nggak ngerespon komentar atau pertanyaan di Instagram. Mereka umumnya juga nggak berinteraksi dengan akun lain. Selain toko Insta yang sudah mapan, ada satu tipe akun toko yang biasanya menerapkan kebijakan non-responsif/non-interaktif ini, yaitu mereka yang akun Instanya berfungsi sebagai media jualan sekunder. Biasanya mereka punya toko betulan dan juga sudah sangat mapan.

Nah, yang mengandalkan akun Insta buat jualan, yang tokonya virtual, yang followernya masih 3 digit, harus mau repot kerja membangun postur ramah dan interaktif; jadi bagian dari komunitas Instagram. Bukan cuma ke calon pembeli tapi juga ke sesama toko Insta, ke akun-akun yang mempengaruhi kita, ke follower.

Ini kebijakanku:

• Me-like pos yang memang benar-benar kusuka meski aku tahu like-ku nggak akan berbalas

• Berkomentar memuji dan mengagumi secara jujur meski aku tahu komentarku nggak akan dibaca

• Untuk mereka yang rutin dan konsisten me-like posku, I like them back

• Merespon semua komentar di posku meski nggak penting kecuali komentar-komentar generik seperti ‘Nice page!’ dari akun-akun non-toko yang jelas-jelas cuma pingin menjadikanku follower.

• Kalau si komentator punya minat yang sama denganku, biasanya aku akan mengembalikan kesediaan mereka mengomentari posku dengan mengomentari pos mereka.

• Menjawab semua pertanyaan tentang item yang kujual dengan kalimat lengkap meski jawabannya sudah ada di caption.

• Merespon liker dari akun tak kukenal dan follower baru dengan mengunjungi galeri mereka untuk memutuskan follow back atau nggak. Aku nggak menerapkan kebijakan follow-for-follow. Akun-akun yang di-setting private biasanya nggak ku-follow.

Rutin#8: Bangun followship

Makin banyak follower kita berarti makin besar peluang menjual, makin tinggi juga tingkat kepercayaan calon pembeli. Sempat nggak merasa perlu nambah follower karena aku ingin pembeliku teman-teman sendiri. Waktu sign-up di Instagram otomatis dapat 193 follower dari Facebook yang notabene teman-temanku sendiri. Masalahnya, pasar teman ini minatnya terbatas di perabotan. Barang-barang kecil nggak laku di pasar teman.

Aku nggak menerapkan strategi tertentu untuk menambah follower meski sebaiknya begitu. Sementara ini kurasa cukup dengan mengintegrasikan blog dengan toko Instaku, memastikan galeriku sedap dipandang dan konsisten menjual ide ngirit tapi keren dengan barang-barang yang ku-listing dan pos-posku.

Khusus untuk pasar preloved, ada satu lagi yang memperbesar peluang penjualan selain jumlah follower, yaitu: hashtag yang tepat. Sekitar 1/5 penjualan yang kuhasilkan kudapat dari orang-orang yang nemu tokoku dari pencarian dengan hashtag tertentu. Hashtag apa saja itu? Kusimpan untuk pos lain.

Rutin#9: Buat program

Sama seperti toko konvensional, pembeli pasti senang masuk dan belanja di toko yang ‘makmur’; yang ramai pembeli, yang ngasih banyak pilihan, yang display-nya menarik, yang punya program sale, yang ngasih layanan gratisan, yang penjaga tokonya membantu tanpa menguntit.

Sama juga, toko Insta yang ramai respon, liker-nya banyak, ownernya helpful, galerinya menarik, ngasih diskon/bonus/gratisan, pasti lebih disukai calon pembeli. Jadi pikirkan program yang pro-pelanggan, pro-calon pembeli dan pro-follower. Nggak harus diskon (harga barang bekas sudah kebanting; rasanya nggak masuk akal aja kalau bikin program obral seperti Matahari). Aku pernah lihat mulai dari subsidi ongkir, gratis ongkir selama periode tertentu, gratis ongkir untuk jumlah pembelian tertentu, beli satu gratis satu, beli ini dapat bonus itu. Yang kulakukan adalah ngasih bonusan ke langganan dan menggratiskan barang-barang yang bermanfaat tapi agak sulit dijual. Untuk barang yang sepi respon, setelah beberapa lama, biasanya kujual dalam paketan, harga kuturunkan.

image
Paket Anak yang kujual seharga Rp45.000. Pertama ku-listing harganya total Rp65.000, kujual sendiri-sendiri.

Rutin#10: Review profile picture, profile, galeri, caption dan hashtag

Akun-akun yang mengundang minat dan rasa ingin tahu, mau itu toko atau bukan, punya satu ciri yang sama. Hanya dengan melihat 9 foto pertama dan membaca profilenya kita bisa langsung bikin kesimpulan. Kalau itu akun toko, apa yang dia jual; kalau itu akun personal, minatnya apa; kalau itu akun blog, tema besarnya apa; kalau itu akun perusahaan, bidang usahanya apa. Fitur-Fitur khasnya, produknya, spesialisasinya, keunggulan kompetitifnya dan target pasarnya jelas kelihatan tanpa kita perlu membaca captionnya satu demi satu.

Ilustrasinya seperti ini:

Seorang gadis mencari calon suami. Yang dia cari bukan sembarang lelaki. Maka, dia harus pastikan dia menarik perhatian tipe lelaki yang dia inginkan, bukan? Gayanya berpakaian, bahasanya, gerak-geriknya harus in-tune dengan preferensi golongan laki-laki yang diharapkannya. Kalau ketampanan sangat penting buat dia, mau nggak mau sexual appeal-nya kan harus tinggi. Tidak harus cantik tapi mutlak harus sangat menarik–physically–di mata laki-laki. Dengan begitu dia nggak perlu kesana-kemari bawa papan bertuliskan ‘Mencari suami ganteng’.

image
Setelah 8 bulanan pakai foto diri untuk profile picture, kupakai foto ruang tamuku yang lebih masuk dengan nama Rumah Barang Tinggalan dan profile ‘… Jual solusi murah nggak murahan untuk rumah tangga keren.’

Begitu juga dengan akun toko Insta. Profile, foto dan hashtag harus menarik orang yang tepat: orang yang mau membeli. Paling nggak orang yang mau mempertimbangkan membeli meski itu masih suatu hari nanti entah kapan. Disinilah pentingnya postingan yang rutin dan konsisten.

Jadi kaji ulang profile, profile picture, relevansi pos-pos kita, foto-foto di galeri, caption dan hashtag setiap beberapa bulan. Sudahkah semuanya bekerja-sama, saling mendukung, menjual dagangan kita? Menarik orang yang tepat untuk mem-follow? Mempertahankan follower yang membeli atau minimal berniat membeli? Kalau toko kita sangat sepi respon, review-nya harus lebih sering. Jelas harus ada yang dirubah.

Sebetulnya banyak toko Insta lokal yang–dengan standarku–digarap cukup asal tapi laku. Terutama preloved shop. Hampir semua. Dari begitu banyak akun yang kuikuti, baru nemu satu yang mendekati standar Barat seperti yang kugambarkan di atas (lihat @vephoria.id). Yang bisa kukatakan: kalau tujuan kita buka toko Insta adalah untuk dapat penghasilan yang sifatnya rutin jangka panjang maka pilihannya cuma tiga:

  1. Barang dagangan kita nggak gampang didapat; atau
  2. Harga barang dagangan kita di bawah harga pasar; atau
  3. Kerja kreatifnya keras (lihat @folksymagazine)

Toko Instaku kusiapkan untuk pemasukan jangka panjang. Meski sekarang yang kujual barang-barang bekas, masih mengandalkan harga murah soro, aku harus melatih diri dengan kerja kreatifnya.

Kenapa?

Supaya begitu barang-barang tinggalan orang tuaku habis, toko Instaku nggak serta-merta buyar.

Semoga bermanfaat.

Jangan sungkan untuk tanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s