Toko Insta: Solusi Ketika Hemat Tak Lagi Cukup

Bukan. Ini bukan bagian ke-6 dari Seri Ngirit Yang Jadinya Keren seperti yang kujanjikan di pos terakhir hampir 2 bulan lalu.

Antara hutangku yang mencapai 40-an pos di One Day One Post Challenge, janjiku nge-print dan ngirim Jurnal The Handmade Home ke Sang Petualang dan Lendyagasshi, ngurus persyaratan adopsi yang bikin aku merasa jadi bola ping-pong, kontrakan yang habis 4 bulanan lagi, seabrek barang kecil yang nggak bisa kubawa pindah karena tempatnya nggak ada, harus cari dana 30 juta untuk merenovasi garasi dan teras rumah warisanku di Pacet supaya bisa tetap kusewakan sambil kutinggali dan rencana keuangan uji nyali yang sudah kujalani 3 bulanan ini,

… I honestly couldn’t care less about what Jeff Goins has to say about blogging.

Dua bulan ini aku putar otak cari uang tambahan.

Aku ada dalam situasi klasik: Ketika Hemat Tak Lagi Cukup.

Bisa jadi judul lagu..

Setelah hampir 2 tahun berkomitmen berhenti bekerja, aku (terpaksa juga) terima terjemahan, ambil kelas jangka pendek di kursusan dekat rumah, demi memastikan Rencana Keuangan Koboi-ku jalan. Tapi yang akan kuceritakan di sini adalah kerjaku buka toko di Instagram.

I’m a reader of potentials.

Aku melihat potensinya yang luar biasa buat ibu rumah tangga. Bukan cuma untuk dapat penghasilan tambahan tanpa meninggalkan rumah atau sambil momong batita. Toko Insta melatih entrepeneurship. Pikir sendiri, gimana kita bisa jualan dengan modal foto kalau nggak kreatif? Kalau produk kita nggak menawarkan nilai? Jangan bayangkan olshop yang jual produk fashion branded dengan harga njungkir karena bekas atau KW. Bayangkan jualan barang-barang rumah tangga, non-branded, bekas pula.

Dan nggak perlu modal besar. Aku malah nggak modal apapun kecuali barang-barang yang sudah kupunya! Selotip, kertas, tas plastik, plastic wrap buat ngirim barang yang laku pun sudah punya. Sebagian besarnya tinggalan orang tua. Ibuku ninggal ada kalau 25 isolasi berbagai jenis dan ukuran.

image
Wadah permen dari plastik yang kuhargai Rp10.000 ini langsung laku begitu kupos.

Toko Insta-ku memang belum bisa menghasilkan laba. Baru bisa menguangkan barang-barang tak terpakai, memanfaatkan barang-barang sampah, membuatku merasa berguna; memberiku kekuatan menjalankan Rencana Keuangan Koboi yang bisa digambarkan dengan “menabung lebih penting daripada makan“. Bulan lalu membukukan penjualan senilai Rp707.500 dari barang-barang yang sebagiannya aku sendiri nggak nyangka, “Ada ya yang mau.” Saat dompet sudah kosong seminggu setelah gajian, uang segitu artinya bisa dapat asupan karbohidrat dari nasi dan protein dari hewan selama sebulan.

Tapi aku bisa lihat toko Insta rintisan ini pelan-pelan berevolusi. Biar kugambarkan prosesnya sampai sejauh ini di pos nyalahi omongan sendiri ini.

Pra-Toko: Menyalanya Bola Lampu

Akun Instagramku umurnya hampir setahun. Waktu itu kubuat karena upayaku menjual barang-barang bekas tinggalan orang tua ke lingkungan teman lewat Messenger, WhatsApp dan page Facebook jalannya seret. Sepi respon. Kubuat masih dengan pasar teman-teman dekat di kepala. Pos-posnya campur aduk antara barang-barang yang kujual, gimana barang-barang itu kupakai di rumahku, barang-barang yang bisa kubuat dengan koleksi sampahku, foto ponakan, foto mantenan yang kudatangi, foto kontrakan; lebih pas disebut akun pribadi daripada akun toko. Ada yang bisa laku terjual dengan akun nggak fokus gini tapi bukan yang seperti ini yang kumaksud dengan Toko Insta.

Dari Insta aku kenal toko-toko kecil–toko betulan–di Amerika yang jualan junk (kurang-lebih sama dengan barang-barang 2 gudang yang kurombeng setelah ibuku meninggal), perabotan bekas yang diperbaiki dan dibaguskan (biasanya dicat), barang repurpose (seperti pintu yang dijadikan hiasan dinding), barang buatan tangan (seperti lilin) dan barang vintage. Toko-toko ini tipikal. Kecil, yang punya biasanya 1 orang, semuanya dikerjakan sendiri. Ada yang sewa tempat, ada juga yang rumahan. Yang dijual biasanya sedikit-sedikit dari semua yang kusebut tadi.

image
Toko nggak harus terlihat seperti Indomaret; barangnya, juga display-nya. Di Instagram banyak yang seperti ini. (Foto dari @thevintagecompanyno7)

Senang lihat gimana mereka nata jualan yang semburat macamnya di ruang kecil. Kursi ditaruh di atas meja. Kursi digantung di tembok. Piring, selimut, lampu ditata di atas meja yang juga dijual. Laci dan mesin jahit pun bisa jadi pajangan sekaligus dijual. Campur-aduk tapi nyeni.

Nah, dari akun-akun toko ini aku terpikir untuk menjadikan ruang depan kontrakanku yang nganggur jadi toko. Kenapa? Untuk membangun sense of ownership. Tanpa itu nggak akan jalan. Tokonya harus dibuat terlihat mataku dulu. Setelah kelihatan mataku baru bisa kuupayakan terlihat mata orang lain di Instagram. Daganganku kan bukan barang-barang berharga. Aku yang harus kerja membuatnya jadi berharga.

Set-up: Semua Rumah Bisa Jadi Toko, Semua Barang Bisa Dijual

Kita cuma perlu berpikir dalam kerangka ini: barangmedia pajanggaya memajang. Ijinkan aku menjelaskannya dengan apa yang kulakukan langkah demi langkah.

Langkah#1: Tata media pajang

image

Kukumpulkan semua yang bisa ditumpangi barang-barang kecil. Rak buku, lemari kaca, meja, bangku, ember, peti, kotak palet, rak piring, rak sepatu; semua yang punya permukaan. Prinsipnya semua barang harus terlihat mata. Karena ruangannya sempit, semua kurapatkan tembok. Media pajang yang lebih kecil kutumpangkan di atas yang lebih besar. Selain untuk efisiensi ruang, juga untuk mengangkatnya ke eye-level. Mata lebih senang melihat tanpa menunduk atau mendongak. Itu prinsip penataan supermarket; barang diletakkan di eye-level supaya cepat laku. Dalam kasusku, untuk membuat otakku berputar setiap hari hanya dengan sekilas memandang. Ya bayangkan aja, tiap kali masuk rumah yang pertama kali kulihat barang dagangan.

Langkah#2: Kumpulkan semua yang bisa dan/atau ingin dijual di Collecting Point

image

Aku punya ruangan khusus untuk barang-barang tidak/jarang terpakai. Sudah mulai kukumpulkan sejak setahunan lalu. Karena September kontrakan habis, mau pindah ke rumah yang jauh lebih kecil, aku keliling lagi ke sepenjuru rumah mengumpulkan barang-barang yang nggak akan kubawa pindah. Nggak pakai kebanyakan mikir barang itu bakal laku atau nggak. Kutumpuk gitu aja semuanya jadi satu di meja makan di dapur. Wis, kumpulkan aja. Ini hebatnya Toko Insta: s-e-m-u-a bisa kita jual. Soal ada yang beli atau nggak itu lain lagi.

Langkah#3: Tata barang dagangan di media pajang

image

Nata nggak mungkin sekali jadi. Untuk kali 1-3 pastikan aja semua barang terlihat mata. Jangan pusing dengan bagus atau nggaknya display. Kelihatan seperti gudang pun nggak apa. Percayalah, secara alami penataan kita akan semakin membaik seiring dengan semakin seringnya kita mencoba. Nggak terhitung berapa kali sudah aku merubah display. 50 kali mungkin ada. Anggap aja proses membuat inventaris mental barang dagangan kita; macamnya, jumlahnya, kondisinya, kualitasnya, warnanya.

Langkah#4: Organisasi barang dagangan berdasarkan jenisnya

image

Saat sudah lebih kenal barang daganganku sendiri, mulailah kutata berdasar jenisnya. Barang plastik di satu sudut. Pecah-belah di sudut lain. Yang jumlahnya sedikit atau nggak punya teman kutaruh di tempat yang agak tersembunyi. Di bagian bawah rak misalnya. Organisasi ini yang membantuku menentukan harga, memutuskan barang-barang apa yang dijual dulu untuk menarik perhatian, yang digratiskan atau jadi bonusan, yang dijual dalam paket. Juga membantuku meladeni pertanyaan peminat. Nggak sedikit yang minta pilihan. Organisasi membantuku meladeni orang-orang seperti ini.

Langkah#5: Pisahkan barang-barang premium

image

Barang-barang yang sekiranya bisa kujual dengan harga tinggi (untuk standar garage sale: 30-50% harga barunya) kutata di rak terpisah. Yang termasuk dalam barang -barang ini adalah barang baru, belum pernah kupakai, lama tapi terlihat baru, impor, harga belinya tinggi atau bermerk terkenal. Makin tinggi jam terbangku di Insta, ada satu kategori lain yang kumasukkan dalam barang premium. Semua yang bisa membedakan tokoku dari toko lain kugolongkan sebagai barang premium. Untuk sementara ini koleksi premiumku adalah barang-barang murah yang bisa kubaguskan dan bungkus kado yang bisa kubuat dari koleksi sampahku. Belum banyak sih.

Langkah#6: Siapkan satu spot untuk memfoto barang dagangan satu demi satu

image

Bulan-bulan pertama buka akun dulu, kucoba menghasilkan foto yang bagus dengan latar yang bervariasi. Setelah berbulan-bulan mengikuti toko-toko Insta dari Amerika, Australia dan Inggris, ciri kuat dari semua toko Insta ini adalah foto-foto yang senada, kompak, dalam hal latarnya, paduan warnanya dan styling-nya. Belakangan baru kutahu ini ada hubungannya dengan branding. Mak, segitunya ya orang-orang Barat. Langsung kutiru. Spot-ku yang pertama meja yang catnya kuning gading, kurapatkan ke tembok yang Alhamdulillah juga kuning gading. Sempat kualasi taplak putih, tembok kututup kertas kalender bekas yang kubalik demi dapat warna putihnya karena pingin latar yang putih bersih. Sekarang aku puas dengan latar kayu palet. Meski hasilnya nggak bagus untuk barang-barang yang harus kufoto dalam posisi berdiri atau yang ukurannya agak besar.

Toko Insta: Rutinitasnya

Set-up toko tadi cuma alat bantu untuk menjalankan rutinitas harian. Rutinitas yang semua orang tahu mungkin mempos foto-foto barang dagangan. Yang banyak orang nggak tahu, posting foto ini harus setiap hari dan punya pola. Ini nggak berlaku untuk mereka yang jualan produk fashion/kecantikan branded bekas dan produk bayi-anak bekas. Juga nggak berlaku untuk garage sale perabotan. Toko-toko seperti ini modalnya cukup harga semurah-murahnya dan hashtag yang tepat. Nggak perlu jiwa enterpreneur. Caption pun cukup copy-pasteNo defect, recommended” atau “Harga nego tapi jangan sadis“.

Apa aja rutinitasnya kusimpan untuk pos berikutnya.

Semoga nggak ada kali kedua untuk pos menyalahi omongan sendiri.

Advertisements

2 thoughts on “Toko Insta: Solusi Ketika Hemat Tak Lagi Cukup

  1. ID IG nya donk, coba di share disini, nanti aq follow. Klo Villa di pacet aq pengen kesana, lihat2 dulu, ada nomor yg bs dihubungi ?

    1. Ada link-nya di bawah sendiri; “Project Serba 10.000 di Instagram”. Klik ja salah satu fotonya. Akun dengan nama sama: @rumahbarangtinggalan.

      Yang kupasrahi njaga dan ngelola rumahku itu Pak RT. Pak Kamto 082229242222. Bilang kalau kamu temanku. Asal jangan Lebaran/Tahun Baru/long weekend, ada harga khusus untuk teman-temanku.

      Rumah-rumah disana nggak bernomor tapi bernama. Kurang-lebih 100 m dari pertigaan Ubalan, di sisi kanan jalan, persis di sebelah masjid, cari Villa Wijaya 8.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s