Kursus Gratis Tentang Blog Keren! Dari WordPress

Masih di Seri Ngirit Yang Jadinya Keren. Ini Bagian 5.

Dimana lagi kita bisa lihat motor bebek ngangkut bapak, ibu, anak sulung, anak tengah dan anak bungsu yang masih bayi? Dimana lagi motor bebek bisa punya ruang bagasi? Siapapun yang menemukan motor bebek pasti nggak ngira–di NKRI–ciptaannya bisa buat ngangkut kulak’an sayur buat seminggu sak mbonceng bakul-nya. Itulah orang-orang kita. Bukan bangsa penemu memang.

Kita bangsa pengguna yang tahu betul arti ‘menembus batas.’

¼ aja populasi kita punya blog, lihat lah gimana kita ‘menembus batas’ per-blogging-an.

Sebelum saat itu tiba, ada baiknya kita tahu apa-apa yang bikin blog jadi keren menurut orang-orang yang menciptakannya. Biar nggak ikut-ikutan ‘menembus batas’ yang bikin penemunya sakit panas.

Secara teknis para happiness engineer WordPress memang bukan penemu blog, tapi mengingat perusahaan ini bisa mengkomersialkan blogging lebih dari Google dengan Blogspot-nya, menurutku ajaran mereka tentang blogging perlu disimak.

Mendaftarlah aku ke Kursus Online Blogging 101. Gratis. Tahun lalu. Tiga bulanan setelah pos pertama Rumah Barang Tinggalan, yang semangatku dah kisut setelah pos ke-5, betul-betul nggak tahu blog ini harus dibawa kemana.

Percaya nggak percaya, setelah mempraktekkan pelajaran Blogging 101, mulai kudengar pujian. Sebelum Blogging 101 pun satu-dua ada yang memuji tapi itu lebih dialamatkan ke kekuatan karakter yang terasa sekali di tulisanku, bukan ke blognya.

Di pos ini akan kuceritakan apa yang kupelajari via e-mail selama tiga minggu kursus (yang aku butuh 8 bulan untuk menyelesaikan ke-15 tugasnya). Hanya yang pengaruhnya sangat besar bagiku dan blog ini yang kubagi di sini.

Hari#1: Tulis satu pos tentang siapa kita dan (dihubungkan dengan) mengapa kita bikin blog.

Jangan males meras otak, menghabiskan waktu 2-3 hari, mengedit sampai 51 kali untuk tugas ini. Begitu kita bisa menjawab pertanyaan ‘Mengapa bikin blog ini?’ dengan ‘Siapa Aku’ maka separuh kerja selesai. Bisa buat modal ngeblog sampai tahunan. Nggak lagi bingung mau nulis apa untuk pos-pos setelahnya. Itu yang kurasakan.

Kesimpulan: Semua orang punya kisahnya sendiri tapi seorang blogger tahu mengapa ia bercerita.

Hari#2: Edit nama blog dan tagline.

Nama pertama blog ini sama dengan alamat URL-nya. Uang Sedikit. Bikin tertekan. Di Maret 2015 dulu itu belum betul-betul tahu mau apa dengan blog selain belajar nulis artikel buat dikirim ke majalah. Waktu harus mutuskan nama, yang ada di kepala cuma keadaan tak punya penghasilan karena berhenti bekerja. Disini terasa manfaat tugas Hari#1. Nama Rumah Barang Tinggalan dan tagline “Ngirit yang jadinya keren” lebih tegas menunjukkan konteks dan isi blog secara keseluruhan seperti yang kutetapkan di pos Hari#1.

Kesimpulan: Merahkan benang yang menghubungkan nama blog, tagline dengan pilihan topik pos-pos kita.

Hari#4: Tulis satu pos dengan mengingat target audiens di kepala dan masukkan satu elemen yang belum pernah kita pakai sebelumnya.

Sampai pos ke-5, tulisanku berangkat dari keinginan bikin artikel yang menarik dan/atau informatif dari kehidupan pribadi. Blogging 101 mencuci otakku di departemen ini. Blogging pada prinsipnya adalah public writing; menulis untuk dibaca orang lain. Meski sah-sah aja cuma buat dibaca sendiri atau dokumentasi pribadi, bukan itu tujuan penciptaannya. Ketika kita bisa memutuskan ‘orang lain’ ini siapa, segala sesuatunya menjadi lebih gampang sekaligus bermakna. Posku untuk tugas Hari#4 ini beda jauh dari 5 pos sebelumnya yang kutulis tanpa tahu ‘orang lain’ itu siapa.

Kesimpulan: Blog yang keren menyiapkan dan membangun dirinya untuk dibaca orang-orang nggak saling kenal yang punya persamaan-persamaan penting.

Hari#5: Coba paling sedikit 3 tema; satu yang kita suka, satu yang kita nggak suka.

Perhatikan urutannya. Memilih satu dari ratusan tema jadi jauh lebih sederhana begitu kita tahu buat apa kita ngeblog, punya nama/tagline yang merefleksikan itu dan siapa yang kita inginkan membaca blog kita. Porsi besar blog ini adalah memanfaatkan barang bekas/lama/murah/gratisan/tak terpakai untuk mengurangi pengeluaran rumah tangga. Nggak cukup cuma modal kata-kata. Harus mengandalkan foto. Butuh tema yang sederhana, yang menonjolkan foto-fotonya. Karena itulah kuhindari tema yang rame warna dan hiasan.

Kesimpulan: Tema WordPress didesain untuk kebutuhan yang berbeda-beda. Pilih yang membantu isi blog kita berkilau.

Hari#6: Buat About Page lalu jadikan widget atau masukkan dalam menu.

Orang yang membaca lebih dari satu pos pasti ingin tahu lebih banyak tentang kita. Ada juga tipikal orang yang harus tahu dulu kita ini siapa untuk mau datang lagi. Pada umumnya orang akan menilai kita ini cukup kredibel nggak untuk menulis topik-topik pilihan kita. Itu tadi, blog yang keren siap dibaca orang-orang nggak dikenal. 100 pos nggak bisa menggantikan satu About Page.

Kesimpulan: About Page menyediakan informasi pribadi yang kontekstual, yang “mengesahkan” isi blog kita.

Hari#7: Buat dan unduh header sederhana, latar atau dua-duanya. Kalau sudah punya, coba widget.

Kuusahakan lay-out yang sesederhana mungkin demi menonjolkan foto. Jadi header dan latar kuabaikan. Berkat coba-coba tak terhingga, akhirnya bisa juga memanfaatkan widget. Di blog ini widget kupakai untuk versi yang lebih padat dari About Page karena separuh pembaca datang dari search engine. Aku yakin 300 kata kepanjangan buat mereka yang datang karena foto atau mencari sesuatu yang spesifik. Di blogku yang lain, widget kupakai untuk link ke free resources mengasah kemampuan menulis; sesuai dengan konteks blogku yang itu.

Kesimpulan: Widget bisa dioptimalkan untuk memudahkan pembaca dan mempertegas konteks blog, bukan sekedar aksesoris.

Hari#8: Tinggalkan komentar di paling sedikit 4 blog yang belum pernah kita komentari.

Ini salah satu beda penting blog dan diary. Menurutku lebih memperluas cakrawala pemikiran kalau salah satu tujuan kita berblogging adalah untuk membangun hubungan dengan para blogger yang tidak kita kenal tapi punya konteks sama. Yang dimaksud berkomentar di sini bukan sekedar berkata-kata, memuji, berbasa-basi. Yang harus diusahakan adalah komentar yang memperkaya pengalaman bersama. Lebih bagus kalau bisa kita follow up dengan pos di blog kita sendiri. Jangan lupa mencantumkan link ke pos yang kita komentari tadi.

Kesimpulan: Komentar yang memperkaya pengalaman bersama membantu blog kita dan blog lain tumbuh.

Hari#13: Pilih satu blogging event untuk diikuti.

Blogging event adalah kantong blogger yang punya konteks sama. Lewat Lendy dari Lendyagasshi, aku masuk dalam komunitas ibu-ibu rumah tangga muslim berpendidikan tinggi. Pengalaman bersama yang diciptakan komunitas ini dengan One Day One Post For 99 Days Challenge-nya menunjukkan hal-hal baru di diriku sendiri juga di ber-blogging. Nggak akan mungkin kutemukan dengan ber-blogging soliter. Bakatku mengolah ide sederhana menjadi artikel misalnya. Atau topik yang disukai audiens ibu rumah tangga.

Kesimpulan: Blogging event yang relevan dengan konteks blog kita membantu kita, blog kita dan komunitas blogging tumbuh.

Hari#15: Buat fitur reguler untuk isi blog kita. 

Pos yang khas blog kita. Yang terjadwal rutin. Itu maksudnya. Rasanya belum nemu blog Indonesia yang punya fitur reguler seperti Lazy Gal’s Guide-nya The Handmade Home atau Thistlekeeping-nya Thistlewood Farm. Sejauh ini sudah kucoba-coba lebih dari satu fitur. Seri Ngirit Yang Jadinya Keren ini salah satunya. Yang lumayan sukses yang pakai foto-foto dari Pinterest. Pinginku sih punya fitur tutorial kerajinan dari barang sampah. Masalahku: belum bisa menjadwal di hari yang sama sekali seminggu. Sekali sebulan aja belum tentu sanggup.

Kesimpulan: Fitur reguler memang nggak gampang tapi ndongkrak bobot blog kita. Harus betul-betul tahu dulu apa mau kita bikin blog. Itu butuh waktu, nulis >10 pos, feedback dan self-review yang dalam.

Nggak rugi lah ikut Blogging 101.

Di Bagian 6 seri ini akan kubagi e-book gratis yang bicara tentang bagaimana menjadi blog yang dilirik di antara ribuan blog lain. Belum bisa sepenuhnya kupraktekkan tapi menurutku layak dipertimbangkan saat kita bikin Kalender Editorial [menjadwal postingan dan tentang apa–di depan] seperti yang dianjurkan Blogging 101.

Kesimpulan terakhir: Blog keren nggak nunggu mood; yang kita tulis bukan semata-mata apa yang kita rasakan saat itu. Semua direncanakan dengan matang, dipikir masak-masak. Berangkat dari siapa kita, pergi ke arah yang kita tetapkan di pos pertama.

1218
Mungkin sungkan asal posting kalau Kalender Editorialnya setembok–di depan komputer lagi–seperti ini (Foto dari Country Living)

Kupadatkan lagi.

CHECKLIST BLOG KEREN

  1. Satu pos tentang siapa kita dan alasan bikin blog
  2. Nama blog dan tagline mencerminkan isi blog sekaligus catchy.
  3. Pos-posnya ditulis untuk audiens yang spesifik.
  4. Menggunakan elemen pos yang bervariasi (teks, foto, link, video)
  5. Pilihan tema WordPress mengilaukan isi blog.
  6. About Page di widget/menu “mengesahkan” isi blog.
  7. Header menarik dan kontekstual.
  8. Widget menarik dan bermanfaat bagi pembaca.
  9. Terus membangun hubungan dengan blogger-blogger tak dikenal
  10. Berkomentar dan mem-follow up yang memperkaya pengalaman bersama
  11. Berpartisipasi dalam blogging event
  12. Punya fitur reguler
  13. Kerja berpedoman pada Kalender Editorial

Mari kita coba!

Kalau ada yang bisa kubantu, pertanyaan yang bisa kujawab, jangan sungkan.

Advertisements

16 thoughts on “Kursus Gratis Tentang Blog Keren! Dari WordPress

    1. Sama-sama, Mbak Irna. Coba deh ikut. Sangat kurekomendasikan. Nggak ada deadline, tanpa tekanan apapun, kecuali yang kita buat sendiri. Juga nggak harus menyelesaikan ke-15 tugasnya. Semua terserah kita..

      1. Iya Mba? Berarti bener-bener komitmen kita ya..
        ODOP aja masih hutang banyak inih T_T
        Ada linknya yang bisa saya kepion dulu gak Mba? 😀

      2. Info tentang kursus-kursus WordPress, yang pendaftarannya lagi dibuka, termasuk pendaftarannya bisa dilihat di Blogging University.

        Bisa juga dengan langganan The Daily Post, newsletter-nya WordPress. Ambil pilihan untuk dikirim ke e-mail kita. Tiap buka pendaftaran kursus baru diworo-woro di Daily Post. Link ke proses registrasi juga disediakan di edisi woro-woronya. Tinggal klik.

        Kursusnya 3 minggu. Yang lain kulihat ya pada menyelesaikan 15 tugasnya dalam 3 minggu itu. Aku butuh 8 bulan. Nggak sanggup kalau harus rampung dalam 3 minggu seperti yang lain. Nggak apa lelet selama kita sungguh-sungguh. Pakai Prinsip Belajar Kura-Kura Mabuk aja: seberapa banyak yang bisa kupraktekkan, bukan seberapa cepat.

        😀

  1. Murah tanpa menjadi murahan nya dihapus ya, padahal itu kata2 yg terngiang2 tiap kali merenungkan blog mba rinda hehehe ngena banget.
    Betul sih, kalo tau alasan apa kita ngeblog bikin kegiatan blogging jadi ngalir gitu aja, setaun pertama mungkin berat, tahun kedua lebih berat, tahun ketiga wes ga mikir. Lebih ringan hehehehe

    1. Menurutku itu juga aku sekali, tapi bener kata mantan muridku. Dia bilang, “Melas yo?” Wakakakakakak..

      Cynthia ini dari Cinta Resep, Teman-Teman. Jam blogging-nya dah tinggi.

      Eh, Cyn, kamu bikin blog baru ya? Kenapa?

  2. Aku tadinya sempat nggak habis pikir gimana blog-blog Amerika favoritku bisa dibaca sampai ratusan ribu orang per bulannya padahal itu kan kerja satu orang; beda dengan majalah atau koran atau acara TV. Setelah ikut Blogging 101 baru aku bisa “Ooo, gitu ya.” Ternyata kerja bloggingnya memang berat, sungguh-sungguh; profesional lah.

    Maksudku bukan ngasih bukunya. Sama yang nulis digratiskan kok. Maksudku berbagi pelajarannya. Di pos berikutnya.

    Judulnya “The Beginners’ Guide to Building an Audience” dari Jeff Goins. Kalau pingin tahu isinya sekarang, download di situsnya. Nggak tebal kok.

  3. Suka sekali dg post nya mb. Baru belajar ngeblog yg rada serius tp bingung harus mulai dr mana. Sungguh senangnya baca blog ini. Apalagi tema nya aku banget…

    Salam kenal mb Rinda… 😊😊

    1. Halo, Nina.

      Saranku nggak usah kebanyakan mikir di depan. Tema/content/gaya tulisan termasuk fitur yang khas kita nggak akan ketemu hanya dengan mikir. Mau nggak mau memang harus nulis, posting, dapat feedback, mempelajari blog orang lain; muter kesana-kemari dulu. Dalam kasusku: harus “dihajar” sama masalah hidup dulu 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s