Rencana Menghemat THR Live Like You Are Rich

Waktunya Bagian 4 Seri Ngirit Yang Jadinya Keren.

Pencapaian blog Live Like You Are Rich tergolong fenomenal. Kurang dari setahun, blog Anita Fowler ini, perempuan kulit putih yang menikah dengan laki-laki Indian, dikunjungi 800 ribu orang per bulan. Mungkin itu bukan angka rata-ratanya sekarang. Nggak penting. Yang kukagumi dari Anita adalah konsistensinya menggarap tema dan manfaat yang dia tawarkan bagi penganut gaya hidup hemat.

Anita menghasilkan paling sedikit 3 pos per minggu termasuk saat melahirkan anak kedua. Nggak berhenti di postingan. Dengan adiknya dia menulis buku tentang menjadi ibu rumah tangga yang bahagia. Tapi yang akan kubagi disini adalah 31 Step Financial Fitness Boot Camp Course-nya. Hanya 7 hari pertama kursus yang bisa kubagi. Itu yang gratis. 23 hari sisanya harus bayar 40 dollar.

Sudah 5 Lebaran sejak aku menikah. Setiap kalinya selalu lebih besar pasak daripada tiang. Padahal hanya di bulan itu penghasilan suami bisa 2 kali lipat. Setelah berhenti ngajar, besarnya biaya Lebaran ini jadi masalah pelik. Pola ini harus kuputus. Harus bisa nyisihkan.

Untuk tujuan itu, 7 hari pertama boot camp kumodifikasi. Urutan langkahnya kurubah. Dua langkah kukeluarkan karena nggak relevan. Kutambah 4 ideku sendiri dan 3 ide yang kudapat dari Komunitas Blogging Ibu-Ibu Profesional. Kalau ingin tahu versi aslinya, langsung aja ke Live Like You Are Rich dan berlangganan. Aku ditawari 7 hari gratisannya lewat e-mail rutin untuk para pelanggan.

160
(Foto dari Better Homes & Gardens)

Rencana Kerja Menghemat Lebaran

Langkah#1: Tetapkan tujuan jangka pendek (untuk dicapai selama Ramadhan, Lebaran plus waktu tunggu ke gajian berikutnya).

Tetap bisa menyisihkan penghasilan meski pos pengeluaran ekstra seabreg.

Langkah#2: Tetapkan jumlah uang (bisa dalam persentase atau nominal) yang ingin kita sisihkan dari prakiraan penghasilan di bulan Lebaran. Putuskan mau disimpan dimana atau dalam bentuk apa yang kita nggak tergoda membelanjakannya.

Uang yang dirupakan logam mulia hilang dari ingatanku. Jadi 50% uang THR akan kumasukkan ke Tabungan Emas Penggadaian begitu terima. Disimpan di rekening tabungan Bank Mandiri atau BCA suami yang ATM-nya dimana-mana tidak membantu blast.

Langkah#3: Buat daftar pengeluaran dan jumlah uang keluar per posnya selama Ramadhan-Lebaran tahun lalu. Cermati pengeluaran kecil seperti camilan, uang parkir dan pungutan toilet selama perjalanan mudik-balik. Perhitungkan juga biaya makan dan njajan yang pasti membengkak. Pelajari pos-pos mana yang bisa dihilangkan, mana yang bisa ditekan termasuk mana yang harus ditambah.

Pernah kuhitung, total pungutan toilet selama perjalanan pulang-pergi naik bis Surabaya-Bandung sampai 50 ribuan! Ke Probolinggo naik bis, beli-beli camilan/mainan anak dari pedagang asongan di atas bis habis 20 ribu. Itu bisnya belum jalan!

Tahun ini mau mudik bermobil. Harus kutetapkan anggaran yang meng-cover cuci mobil, bensin, tiket tol, Polisi Cepek, pengemis dan uang parkir. Bukan cuma selama perjalanan mudik-balik tapi juga selama di Probolinggo. Pasti keliling. Silaturahmi tahunan ke keluarga besar alm. ibuku di Gresik dan Mojokerto akan kutunda di bulan setelah Lebaran. Biar dibiayai penghasilan bulan berikutnya; mengurangi beban THR.

Harus sangu makan dan camilan buat mudik. Buah tangan juga harus dipikir masak. Nggak mau kejadian seperti tahun kemarin. Seharian masak Opor Ayam dan Lontong Sayur. Niatnya buat makan-makan Hari Raya di rumah mertua. Belanja habis hampir 200 ribu. La da lah, adik ipar juga nyiapkan opor.

Tahun ini akan kupastikan membawa hanya yang disukai atau dibutuhkan. Ibu mertuaku suka Tahu Sutra yang kubeli di tetangga. Bapak mertuaku sepertinya suka roti-rotian. Kucoret kue kering, sembako dan kebutuhan bulanan dari daftar oleh-oleh. Mengingat yang kudapat malah pertanyaan, “Gawe opo? Wis Ono.”

Ada baiknya sangu lauk half-processed. Acara unjung-unjung menguras waktu dan tenaga. Harus ada lauk siap goreng. Tetap akan kusiapkan dana untuk 2-3 kali beli Sate Ayam, Gado-Gado, Rujak atau Nasi Goreng buat dimakan di rumah. Mertuaku senang bisa makan di luar atau makan masakan beli.

Tambahan#i: Buat daftar orang yang akan kita kunjungi selama Lebaran. Tentukan siapa saja yang akan kita beri uang tunai sebagai sedekah (aku pribadi lebih suka menyalurkan Zakat Profesi/Fitrah/Maal melalui Badan Amil). Pertimbangkan hadiah berupa barang/makanan untuk menekan biaya.

Ibuku punya koleksi batik sutra dan barang rumah yang bisa jadi hadiah, tapi kerabatku lebih membutuhkan uang. Hadiah uang untuk kerabat anak-anak sudah kuhentikan sejak menikah. Kubatasi hanya untuk orang tua, mertua dan saudara kandung/ipar ibuku. Golongan terakhir ini 50 ribu per orang. Mungkin dengan parcel kebutuhan dapur bisa 40 ribu per orang. Akan kujajagi kemungkinannya.

Langkah#4: Ingat-ingat paling sedikit 2 pembelian makanan dan 2 pembelian non-makanan selama Ramadhan-Lebaran tahun-tahun lalu. Coba pikir apa yang mendorong kita membeli. Apakah karena betul-betul membutuhkannya atau dipicu sebab emosional seperti pingin atau ikut-ikutan? Kenali gejala pembelian yang dipicu emosi. Selama Ramadhan dan Lebaran nanti, tiap kali akan membeli sesuatu, tanya diri sendiri: Ini butuh atau nuruti perasaan?

Penyakitku: paling nggak bisa bilang “Nggak dulu deh” ke saudara/teman/mantan murid yang jualan. Tahun kemarin beli baju yang jelas-jelas nggak pantas untukku dari adik ipar. Beli jajan coklat yang nggak kemakan dari mantan murid. Beli kue kering dan sirup dari 2 teman kerja yang juga nggak kemakan-keminum. Total 230.000.

Satu lagi: nggak bisa lihat barang murah. Malam Lebaran 2014 jalan-jalan ke Pasar Bandeng di Gresik. Pulang bawa kerudung 25 ribu dan tas 35 ribu. Dua-duanya nggak kepakai sampai sekarang.

Rambu kuning: dagangan teman/saudara/mantan murid dan barang-barang murah.

Rambu merah: beli-beli yang tidak kurencanakan, di tempat yang tidak biasanya, yang lama masih ada (tidak rusak).

Tambahan#ii: Rencanakan sajian Lebaran jauh-jauh hari. Baik masakan, kue maupun minumannya. Pastikan yang disukai keluarga dan orang banyak (meski nggak umum buat Lebaran) agar habis termakan.

Kapok beli kue Lebaran. Tamuku bisa dihitung. Lebih baik bikin camilan dan minuman gampang begitu ada tamu. Tempe Mendoan dan Bala-Bala panas-panas lebih menggugah selera. Teh Tong Tji daun favorit Mbak Tin, kopi Good Day favoritku, Es Milo favorit Azka dan Es Tomat favorit suami lebih baik daripada Sirup Marjan. Kalau memang harus beli snack, kupilih Wafer Richeese, Pringles, Kacang Atom Garuda, Tic-Tac, Danish Butter Cookies, Stik Bawang, Emping Melinjo dan Rengginang Madura. Pasti habis!

Tambahan#iii: Siapkan pakaian Shalat Ied dan paling sedikit 3 kostum unjung-unjung untuk tiap anggota keluarga termasuk tas, sepatu dan perhiasannya. Bila harus membeli, tuntaskan sebelum Ramadhan.

Selama ini membeli baru padahal nggak butuh sering cuma buang-buang uangku. Banyak nggak kepakainya. Rasanya nyaman aja mengenakan sesuatu yang sudah sering kupakai. Sama sekali nggak tertarik berganti-ganti baju, tas, sepatu dan aksesoris. Lebih suka memadu-madankan barang-barang lama dan memaksimalkan yang sudah kupunya.

Catatan: Padu-padan barang lama sangat membantu berhemat, tapi hanya kalau kita berani mencoba kombinasi yang berbeda-beda. Jadi mesti disiapkan jauh-jauh hari dan dites dulu.

Langkah#5: Buat daftar paling sedikit 5 masakan, 5 camilan dan 5 minuman gampang-cepat-disukai keluarga. Usahakan dibuat dari bahan-bahan yang selalu ada di kulkas. Tempel di kulkas.

Kalau kutelusuri, pemborosan di biaya makan dan njajan berasal dari perbendaharaan resepku yang terbatas dan lamanya waktu yang kubutuhkan untuk menyiapkan masakan, camilan dan minuman sendiri. Jadi saran Anita yang satu ini pas buatku.

Aku nggak perlu jadi ahli masak dulu. Yay!

Olahan cepat dan gampang favoritku dan suami selama ini: Oseng-Oseng Ikan Peda Suwir, Cah Cumi, Sop; apalagi ya?

Waktu 3 bulanan ini harus kumaksimalkan untuk bikin daftar menu favorit sahur dan daftar camilan-minuman berbuka yang bikin suami dan ponakan semangat berbuka di rumah. Lauk dan sayur berbuka kuserahkan Mbak Tin. Kemampuannya berhemat dalam belanja dan masak jauh di atasku.

Berikut adalah kumpulan strategi belanja dan masak yang kudapat dari Rumah Balitaku dan Cermin Tania yang akan menjagaku dari malas masak karena kelamaan.

  1. Buat rencana menu 7 hari tiap minggu. Siapkan bahan-bahannya half-processed di kulkas.
  2. Pastikan Bumbu Dasar selalu tersedia di kulkas selama Ramadhan, Lebaran dan H+7.
  3. Atur jadwal belanja satu mingguan ke pasar setelah rencana menu siap. Urutannya jangan dibalik.
  4. Lakukan belanja bahan-bahan makanan untuk Lebaran plus H+7 di pasar paling tidak 3 hari sebelum Lebaran.

Poin 4 belajar dari Lebaran 2014 dan 2015. Beras Cap Raja Tawon di mana-mana habis di malam Lebaran. Harga supermarket selisih hampir 20 ribu dari harga minimarket langganan. Terpaksa beli beras merk lain yang harganya sama, mutunya anjlok.

Maksud hati nyetok lauk buat persiapan selama pasar dan tukang sayur libur. Belanja di warung mlinjo langganan sehari sebelum Lebaran. Kesiangan pula. Daging, ayam, udang, jeroan, penthol, sosis habis semua. Yang masih tersisa jadi rebutan. Ya harus mengandalkan masakan orang dan minta tolong PT Indofood untuk tetap bisa makan sampai H+7.

Gimana jalannya rencana ini–sukses atau gatot–kusiapkan untuk pos pertama setelah Lebaran. Kita lihat apakah kemampuanku berhemat naik setelah turun ngajar.

Harusnya iya.

Advertisements

5 thoughts on “Rencana Menghemat THR Live Like You Are Rich

    1. Itu bikin dari wadah bekas lho, Mbak. Seperti wadah Blue Band tapi transparan. Dalamnya dilapisi kertas kado. Aku juga pingin bikin tapi nggak yakin jadinya bisa rapi gitu. Ngelemnya pakai apa ya? Nggak bisa lem kertas. Terutama yang bagian tutup..

      1. Haaaaahhhhh ga nyangka…. Nita biasanya pakai dobble tipe biar rapih, kalau misalnya di dalem gtu,,,,*eeeemmmmhhhh mikir dulu

        Apa ya mba ? Heheheh

  1. perhitungan yang ruwet,tapi super keren…kalu bisa ngadop sedikit saja. trus mantan ku mau nerapin..bakalan jadi sesuatu banget …perlu di coba some day…

    1. Small things add up. “Kesalahan-kesalahanku” di Lebaran tahun kemarin aja, kalau tahun ini bisa kukoreksi, bisa menghemat sampai sejuta loh!

      Kalau toh sejuta itu akhirnya kepakai juga, dengan perencanaan yang ruwet ini, nggak bakalan mubazir. Daripada 200 ribu buat masak Lontong Sayur & Opor yang nggak kemakan, lebih baik buat bensin mudik atau kukasihkan mertua.

      Sedih kalau ingat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s