Manajemen Waktu Early to Rise

Betul. Ini bagian kedua dari Seri Ngirit Yang Jadinya Keren.

Dari segitu banyaknya kekuranganku, yang paling bikin ampun-ampun adalah ketidakmampuan mengelola waktu. Datang ke undangan, mesti telat paling nggak 30 menit. Masak apapun, mulai jam berapapun, matengnya beduk Dhuhur. Ngajar, datang tepat waktunya cuma sampai pertemuan ke-3. Rental VCD langgananku harus ngasih penghargaan”Pembayar Dana Denda Terbesar.” Lha iya, tiap ngembalikan VCD mesti setor paling nggak Rp10.000 buat dendanya.

Dan harus berjuang untuk bisa ketemu sama yang namanya deadline.

Aku sudah lari-lari mumet di empat penjuru mata angin internet demi nemu cara merubah kebiasaanku dengan waktu. Karena tanpa pekerjaan, tanpa anak, ibu rumah tangga yang nggak bisa mengelola waktu sepertiku bisa-bisa tua di kasur sebagai jamaah Facebookiyah.

Kerennya Early to Rise berangkat dari kenyataan bahwa situs majalah ini punya tip manajemen waktu untuk segala macam bentuk kecacatan DNA disiplin diri. Ada lho orang-orang yang nggak perlu berusaha mengelola waktunya. Secara genetis mereka diprogram untuk itu. Ayah contohnya. Almarhum bapakku langsung mengerjakan apa yang harus atau ingin dikerjakannya begitu waktunya masuk atau ada, tanpa kebanyakan mikir, tanpa kebanyakan mulut, seperti Nike: Just do it.

Cara yang ditawarkan Early to Rise untuk anak Ayah:

(Skrip paparan video YouTube berjudul The Power of Goal Setting dari Craig Ballantyne, editor Early to Rise, yang jadi dasar post ini bisa dilihat di sini)

Memulai Dari Akhir

Maksudnya adalah mengelola waktu untuk mencapai dua tujuan besar. Jadi urutannya: menetapkan dua tujuan besar dulu, baru memikirkan apa yang harus kita lakukan setiap harinya. Biar kutunjukkan betapa besar manfaat formula ini untuk kerja rumah tangga.

Saat masih mengajar, tujuan-tujuanku ditetapkan oleh kursusan dan klien-murid yang membayarku. Aku dipakai lagi atau nggak tergantung kemampuanku mencapai tujuan-tujuan mereka membayarku. Semua yang kulakukan di dalam dan di luar kelas ya demi mencapai tujuan-tujuan itu karena sebagai freelance penghasilanku tergantung padanya. Begitu pekerjaan itu kulepas untuk duduk di rumah, mendadak aku nggak punya tujuan. Aku nggak bisa disuruh menyelesaikan pekerjaan rumah tangga hari demi hari semata-mata hanya karena pekerjaan-pekerjaan itu harus diselesaikan.

Coba pikir, mengapa begitu banyak orang meremehkan pekerjaan rumah tangga? Karena kita diajari untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang nggak ada habis-habisnya itu tanpa tujuan yang jelas di kepala selain to get it done. Masak, cuci-setrika, bersih-bersih dan beres-beres, mandikan dan ngirim anak ke sekolah, pokoknya selesai. Gugur kewajiban. Sudah. Besok diulangi lagi. Terus seperti itu. Jarang sekali yang melihat pekerjaan rumah tangga sebagai porsi harian demi mencapai tujuan besar. Itupun biasanya berkaitan dengan kehidupan akhirat.

Jadi kutetapkan dua tujuan besar–satu tujuan jangka panjang, satu tujuan jangka pendek–untuk kerja rumah tanggaku.

Visi 10-Tahun & Rencana 90-Hari

Visi 10-Tahunku: Rumah tangga kelas menengah yang mempromosikan gaya hidup hemat yang bermutu, usaha rumah liburan cantik-unik yang menyediakan fasilitas pesta kebun low-budget dan toko online yang menjual barang-barang repurpose dan upcycle.

Early to Rise bilang tak perlu menyiapkan rencana 1 atau 2 tahunan. Setelah dapat Visi 10-Tahun maka langkah berikutnya adalah menetapkan prioritas untuk digarap selama 90 hari. Bila visi kita sebening kristal, dan kita bisa menetapkan rencana 90-hari, nggak perlu khawatir dengan 3.560 hari sisanya. It will take care of itself. Akan selalu berubah-rubah tergantung prioritas kita saat itu. Tak perlu khawatir berubah-ubah tanpa arah yang jelas karena tujuan akhirnya tetap sama, yaitu: visi 10-tahun tadi.

Rencana 90-hariku sudah lebih dari satu karena formula ini sudah kupakai (secara pelan-pelan dan bertahap) lebih dari setahun. Membaguskan kontrakan dengan barang tinggalan. Mulai menyewakan rumah warisanku di Pacet. Mempromosikannya di Facebook. Bikin blog. Bikin garage sale. Rencana 90-hariku saat ini masih garage sale tapi dengan mengoptimalkan blog, akun Facebook dan Instagram. Pinginnya sih semua kulakukan via pekerjaan rumah tangga; bersih-bersih, beres-beres, masak, ngopeni kebun pot, menjamu tamu, momong ponakan. Tapi aku sendiri masih kesulitan membayangkan teknisnya.

 …

Dengan visi 10-tahun dan rencana 90-hari terpatri di kepala, nggak perlu khawatir meski kita tidak melakukan rutinitas yang sama setiap harinya. Cukup tanya ke diri sendiri, “Kalau aku ngerjakan ini, mendekatkanku ke tujuanku nggak?” Jadi andai aku menghadapi dilema ngepel-nggak-ngepel-nggak, cukup berpikir dalam kerangka itu. Juga nggak perlu sangat bingung hari ini harus ngapain. Cukup tanya ke diri sendiri, “Apa yang bisa kulakukan hari ini yang masuk dalam prioritas 90-hariku?” Ini sangat membantu saat harus memutuskan apa yang ku-post di media sosial atau topik untuk postingan blog.

Semua yang kita lakukan jadinya punya kontribusi langsung terhadap tujuan besar kita. Termasuk hal remeh-temeh seperti komentar-komentar yang kita tulis di Facebook dan Instagram. Atau percobaan Puding Milo yang jadinya Puding Blurik.

Tulis Dan Bagikan

Yang terakhir, penting sekali untuk menuliskan dua tujuan kita tadi. Biar bisa mengingatkan diri sendiri setiap hari. Lebih bagus kalau kita mau membaginya dengan orang-orang yang positif yang dengan senang hati mendukung. Jangan kaget kalau ada yang malah memberi jalan. Inilah fungsi utama blogging bagiku.

Sejak awal blog ini bukan mediaku untuk mengekspresikan diri atau menyalurkan hobi menulis. Blog ini seperti stetoskop bagi seorang dokter, buku teks bagi seorang guru, forklift bagi seorang operator forklift. Ini alat bantu kerjaku yang merapikan my train of thoughts. Jadi waktu yang banyak sekali kuhabiskan untuk berpikir nggak percuma, betul-betul bisa membantuku menentukan apa yang harus kulakukan demi mencapai tujuan dan memecahkan masalah.

image
(Foto dari The Magnolia Homes)

Bekerja tanpa struktur organisasi formal seperti kerja ibu rumah tangga butuh ketahanan dan dukungan. Dari suami saja sangat tidak memadai. Andai aku nggak “kencang” menyuarakan visiku di Facebook, suamiku nggak akan tahu aku punya bakat terpendam dengan barang bekas dan barang sampah. Dia lihat sendiri hasil garapan tanganku mbungkus peningsetku sendiri hampir 5 tahun lalu, tapi baru-baru ini aja dia tahu istrinya kreatif.

 …

Di Bagian 3 seri ini akan kutunjukkan sumber daya gratisan yang bisa menjadikan sifat dan kegemaran kreatif kualitas unggul kita sebagai ibu rumah tangga (meski kita tergolong dalam ibu rumah tangga yang nggak kreatif-kreatif amat).

Advertisements

4 thoughts on “Manajemen Waktu Early to Rise

  1. Miss….
    Munculin emot kaya gitu gimana caranyaa…?

    Lucuuu…

    Bdw,
    bermanfaat banget miss sharing nya….aku coba beberapa.
    Tapi asal gagal, kadang ada pembenaran dalam diri…akibatnya gak maju-maju, malah mundur beberapa langkah ke belakang lagi…

    Duuh…beratnya menjadi konsisten yaa….

    1. Ada di bawah tool bar. Mestinya form blog postmu punya 2 deret khusus sticker yang namanya motitags. Seingatku sih nggak pernah download. Jadi mestinya dah ada dari dulu.

      Aku juga nggak bisa kalau cuma ngandalkan istiqomah, Len. Yang bisa kuandalkan: passion. Makanya aku pilih tujuan yang bisa menyalakan passionku. Bangun strategi dari kekuatan dan kelebihanmu.

      Kamu kan ada anak 2, nggak ada pembantu pula, jadi kurangi tujuanmu. Pilih yang hasilnya kelihatan mata supaya kamu terus semangat.

      Kalau aku jadi kamu aku akan pilih yang berhubungan dengan perkembangan anak-anak aja. Bisa diintegrasikan dengan blogmu yang spesialis ilmu parenting. Bisa saling memperkaya. Yang lain-lain jangan jadikan tujuan atau prioritas dulu. Ikut prinsip “Not everything worth doing worth doing well.” Yang memang bisa disingkirkan, nggak apa, singkirkan aja dulu..

  2. Yang kayak gini yang bikin daki ga betah id ibu rumah tangga dan akhirnya balik kerja, padahal dalam hari kecil pinginnya di rumah menjadi ibu dan guru untuk anak2. Tapi setelah di coba 2 tahun ternyata, rumah lebih rapi saat bekerja, anak malah sakit2 an saat diriku dirumah saja, yang pengennya menjadi kreatif malah banyak menghabiskan waktu dgn tidur. Butuh komitmen dan kekuatan hati untuk menjadi ibu rumah tangga. Semangat Mbak Rinda raihlah mimpiku. Ayuuk kita saling mengingatkan.

    1. Bisa kumengerti. Kita harus berhenti berasumsi semua perempuan seharusnya bahagia di rumah. Mungkin anak-anak sakit-sakitan karena mamanya tertekan. Banyak tidur juga salah satu gejala depresi. Suamiku sampai sempat nyeletuk, “Sampeyan kepingin kerja lagi?” Kalau badanku kuat pasti nggak kusia-siakan kesempatan untuk balik ngajar.

      Aku berhenti ngajar bukan cuma demi memenuhi harapan suami. Aku bolak-balik kena infeksi sejak menikah. Staminaku turun tajam. Jadi kupikir udahlah.

      Syukurlah depresinya sudah kulewati. Sekarang noto-nya. Blog ini sungguh-sungguh membantu.

      Makasih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s