Saat Perempuan Pintar Berhenti Bekerja

Berhenti bekerja adalah keputusan sulit. Kita tak bisa mendapatkannya kembali. Lebih-lebih bila yang kita tinggalkan adalah posisi di perusahan bonafide. Pada umumnya, sekali kita menarik diri dari dunia profesi, itu berarti selamanya.

Sebagaimana keputusan sulit lain seperti menikah, memulai usaha, berganti karir; makin kita hitung-hitung “harganya”, makin besar kekhawatiran kita. Sebagian besar orang akan terus menundanya. Ada yang dengan niat membuat sebaik-baik persiapan, ada yang membeli waktu berharap Faktor X datang tiba-tiba (seperti bertemu kandidat suami lain yang lebih baik), ada juga yang tidak akan pernah memutuskan.

Yang harus kita sadari adalah: untuk semua keputusan sulit, kita tak akan pernah benar-benar siap. Siap menghadapi yang sulit sebetulnya tak ada. Yang mungkin adalah terbiasa menghadapi keadaan sulit.

Ada yang lebih baik daripada menghitung-hitung “harga” keputusan sulit kita di atas kertas.

Mencari cara-cara menjadi nilai lebih bagi rumah tangga kita. Kita sendiri pasti senang pulang ke rumah yang indah dipandang, yang tanah kosongnya dipenuhi tanaman dan bunga, yang masakan rumahannya enak, yang selalu menyediakan baju bersih dan tersetrika rapi, yang anak-anaknya bahagia dan terawat.

1107
Bisa memakmurkan rumah dengan taman (Foto dari Better Homes & Gardens)

Tak perlu bekerja keras di semua bidang itu karena tidak mungkin semuanya dibebankan ke satu orang; ibu rumah tangga tidak, pembantu apalagi. Butuh kerjasama seluruh anggota keluarga terutama suami. Pilih saja paling tidak satu yang akan menjadi titik pusat waktu dan tenaga kita.

Kalau anak-anak masih usia balita, tentu lebih baik berkonsentrasi merawat mereka dan mengusahakan lingkungan rumah dimana mereka bisa tumbuh bahagia. Kalau anak sudah masuk usia sekolah, mungkin bisa konsentrasi di peran sebagai family chef. Yang tidak menikmati masak, bagaimana dengan peran family stylist atau desainer interior?

IMG_4520
Bisa menikmati setiap detik pertumbuhan dan perkembangan bayi (Foto dari Better Homes & Gardens)

Ini sama sekali bukan anjuran untuk mengabaikan tugas rumah tangga yang lain. Bila kita memilih menjadi nilai lebih di perawatan dan pendidikan anak, tak perlu risau dengan rumah yang tak pernah rapi atau tanaman yang kering semua atau harus makan menu makanan yang kid-friendly setiap hari.

Ini semata-mata tentang membuat skala prioritas agar kita bisa strategis memanfaatkan waktu dan tenaga kita di rumah. Memberi kita hasil yang bisa kita lihat agar bisa lebih tahan di dunia rumah tangga yang sangat jauh berbeda dengan dunia kerja.

Mencari cara mengasah keahlian di rumah atau belajar keahlian baru. Yang ideal tentu terus mengasah keahlian profesional yang kita dapat dari pekerjaan kita walaupun tidak lagi bekerja.

Yang mantan guru mungkin bisa mempertimbangkan homeschooling untuk anak-anaknya sendiri. Yang mantan wartawan mungkin bisa mulai menulis buku. Yang mantan orang keuangan mungkin bisa menjadi konsultan pribadi di kalangan keluarga besar, teman dan tetangga. Begitu juga dengan mantan dokter. Prinsipnya adalah: tak ada keahlian yang sia-sia. Mereka yang ahli di bidang pekerjaannya, akan terus menjadi manfaat meskipun di rumah saja.

231
Bisa mengorganisasi seisi rumah (Foto dari Better Homes & Gardens)

Bila tidak memungkinkan–atau pekerjaan yang kita tinggalkan tidak memberi keahlian khusus–pertimbangkan untuk mempelajari keahlian baru di rumah. Tidak harus keahlian di bidang domestik. Kita harus berhenti berasumsi semua perempuan menikmati kehidupan domestik. Atau take it for granted bahwa semua perempuan harus ahli di bidang domestik. Bahasa, keuangan, kepemimpinan, bisnis, teknologi informasi adalah sebagian dari bidang-bidang yang tetap menguntungkan untuk dikuasai meski tidak kita komersialkan. Pilih satu.

IMG_1291
Bisa belajar berbagai teknik membuat perabot lama tampil baru (Foto dari Better Homes & Gardens)

Dan sama sekali tidak harus ambil kursus atau kuliah lagi. Dunia maya adalah teman baik ibu tidak bekerja. Kita bisa belajar dengan mengikuti situs, blog dan papan Pinterest, berlangganan newsletter, bergabung dengan grup dan komunitas minat, mengunduh e-book dan video atau mengambil kursus online dan boot camp. Semuanya ada yang gratis. Syaratnya satu: bisa bahasa Inggris. Yang kendalanya di bahasa bisa lihat di Seri Ngirit Yang Jadinya Keren yang kumulai besok.

Ibu rumah tangga yang punya keahlian lebih mudah merasa aman dalam pernikahannya dan dalam lingkar sosialnya meski tidak punya status profesional atau penghasilan sendiri.

Merintis kerja sampingan berbasis rumahan. Menjalani kehidupan berumah-tangga hanya dengan satu penghasilan memang bisa membuat orang normal ketar-ketir. Terutama mereka yang hidup di kota besar. Sebaiknya kita tidak memulai rintisan kerja sampingan ini dengan harapan tinggi mengganti penghasilan yang hilang karena berhenti bekerja.

1561
Bisa memulai rentetan inovasi di dapur; sambung-menyambung menjadi satu buku resep atau blog makanan (Foto dari Better Homes & Gardens)

Semua orang yang berhenti bekerja/memulai usaha/berganti karir pasti melalui masa paceklik yang menakutkan memang. Anehnya, pernah dengar orang yang mati kelaparan karena berhenti bekerja/memulai usaha/berganti karir? Karena masa paceklik ini pasti akan berlalu, bukan karena adanya penghasilan baru atau laba, tapi karena kita mulai bisa menyesuaikan diri dengan berkurangnya penghasilan. Jangan lupa bahwa manusia diciptakan dengan kemampuan luar biasa untuk beradaptasi dan perempuan dirancang untuk tahan dalam situasi sulit.

434
Bisa mulai membangun usaha rumahan dari hobi (Foto dari Better Homes & Gardens)

Saat merintis, anggap saja kita mengisi waktu luang di rumah. Bisa dengan mencoba 2-3 jenis kerja sekaligus sambil melihat mana yang paling prospektif dalam jangka panjang. Mungkin berjualan kosmetik sambil terima kerja merias sekaligus menyewakan kebaya pesta (tanpa perlu membuka salon). Atau membuka tempat les pelajaran untuk anak-anak SD di sekitar rumah sambil buka warung jus. Atau memulai blog, menulis buku dan membuat kursus online.

IMG_1183
Bisa (bekerja lebih keras) meraih cita-cita terpendam menjadi penulis (Foto dari Better Homes & Gardens)

Terima pesanan kue atau nasi kotak yang terspesialisasi sepertinya ide bagus. Misalnya: spesialis nasi kotak bebek goreng istimewa, spesialis kue tart tematis untuk pesta anak-anak, spesialis lasagna tapi yang sudah sangat disesuaikan dengan lidah kebanyakan orang Indonesia.

Sesuatu yang kita mulai tanpa banyak pertimbangan, tapi kita tekuni selama bertahun-tahun dengan kesungguhan yang makin hari makin dalam, seringkali memberi hasil yang tak disangka-sangka.

198
Berlaku juga bagi ibu rumah tangga (Foto dari Better Homes & Gardens)

Berhenti bekerja bukan mimpi buruk bagi perempuan pintar dan ahli. Bisa jadi malah keadaan yang membuka pintu ke kehidupan baru. (Hampir) Sama seperti ketika pendiri Microsoft dan Dell memutuskan untuk drop-out dari pendidikan tingginya.

-Rinda-

Advertisements

6 thoughts on “Saat Perempuan Pintar Berhenti Bekerja

    1. Coba aja pakai tema ini, Len: Revelar. Aku sudah coba lebih dari 20 tema. Revelar yang menurutku paling bagus buat blog visual; yang banyak menampilkan foto. Cuma ya itu, harus kerja ekstra di foto Featured Image dan judul, harus bikin orang penasaran.

      Aku suka tampilan blogmu yang baru. Widget-nya juga sangat membantu pembaca. Aku sempat pakai tema itu tapi nggak lama karena targetku dari dulu tema yang hanya menampilkan foto dan judul di Home..

  1. Halo. Salam kenal. Saya blogger juga, lihat link blog ini dari blognya Monik.

    Artikelnya bagus. Saya juga pernah nulis 2 artikel tentang masalah yang kurang lebih sama. Istri saya lulus cum laude dari ITB. Sempat kerja di BUMN besar. Tapi saya minta berhenti untuk ikut saya yang sedang S3 di Belanda. Sempat sudah dapat beasiswa S2 di Belanda, tetapi harus pending karena hamil. Setelahnya, malah tidak bisa sekolah, karena anak kami lahir spesial.

    Menurut saya tidak masalah kalau memang perempuan tidak bisa bekerja lagi. Kodrat seorang istri, langkahnya tidak sepanjang suami. Malah bisa dapat privilege, kalau berhasil mendidik anak-anak menjadi manusia-manusia unggul, reward nya lebih besar dari karir di kantor manapun. Soal uang, alhamdulillah selama ini tidak pernah kekurangan, berlebih malah.

    1. Sejujurnya, Mas Rully, waktu nulis ‘perempuan pintar’ di pos ini yang kubayangkan bukan sarjana summa cum laude alumnus ITB pekerja BUMN besar penerima beasiswa S2 di Belanda. Wow! Nggak bisa kubayangkan respon teman/rekan/keluarga atas pilihan Mas Rully-istri. Belum semua orang bisa lihat dampak luar biasa yang dibawa perempuan berpendidikan tinggi di tingkat rumah tangga. Andai orang tuaku masih hidup dan sehat, mereka pasti keberatan anaknya berhenti bekerja. Lebih-lebih suamiku nggak mapan.

      Aku cuma bisa bilang rizki Si Kecil terlahir dari bapak-ibu sepintar Mas Rully-Istri. Keponakan dan 2 sepupuku berkebutuhan khusus. Aku sudah lihat sendiri crucial-nya Faktor Orang Tua dalam perkembangan anak-anak seperti mereka.

      Sepertinya harus ngikuti blog Mas Rully nih.

      1. Iya Mbak Rinda. Yah, kalaupun orang lain ngomongin, kan kita yang ngurus hidup kita sendiri, toh, hehe.

        Saya setuju. Orangtua kami tidak lulus SD, harta tidak punya, dan lingkungan sekitar tidak mendukung. Tapi kalau bukan karena Ibu yang amat telaten mengasuh anak-anaknya, rasanya tidak bakal bisa kami berempat bersaudara bisa kuliah di PTN yang bagus, dan setelahnya punya kehidupan yang lebih baik. Kalau dengan seorang Ibu yg tidak lulus SD saja bisa begitu, apalagi jika anak dapat asuhan penuh oleh seorang perempuan yang berpendidikan tinggi.

        Terima kasih sudah follow. Saya juga sudah follow juga blog mbak Rinda. Banyak tips yang menarik. Nice blog. My compliment 🙂

      2. Kesulitan mencari kata-kata kalau yang muji laki-laki. Seperti lagi nunggu-nunggu kiriman Mie Pangsit depan perumahan tapi yang datang Spaghetti naik pesawat dari Italia. Hahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s