Dapur Hemat 30 Menit

Kalau ditodong bikin blog makanan, aku milih ngunyah rumput. Minder soro di kerja dapur. Mungkin karena almarhum ibuku jagoan masak tapi nggak telaten ngajari anaknya. Tiap kali disuruh mbantu di dapur, adaaa aja yang salah, yang bagi ibuku yang a natural, gifted cook, “Gitu aja kok nggak bisa sih, Kak?!?”

Sampai umur 25-an aku masih gugup tiap masuk dapur. Nggoreng kalau nggak gosong ya nggak mateng, ujung telunjuk tersayat waktu ngirisi bawang, punggung jari-jari ikut terparut pas marut kelapa. Apalagi kalau ada ibuku di situ; mesti ada yang tumpah, jatuh atau pecah. Gugupku itu baru sembuh setelah aku nemu keahlianku sendiri: Bahasa Inggris. Butuh hampir 30 tahun …

Syukur alhamdulillah nggak lantas anti sama dapur dan masak. Meski sampai sekarang tetap nggak pede kalau harus masak selain buat suami dan ponakan. Apalagi masak di dapurnya orang. Mending disuruh ambil TOEFL iBT.

IMG_5426
Buka puasa hari pertama. Nggak sanggup bikin menu meriah seperti alm. Bunda. Make do dengan Tongseng Daging sisa kemarin, Sosis Gulung Roti Tawar, Es Teh & Milo.

Karena sejak masih gugupan dulu pun aku dah tahu: masak adalah life skill yang sangat bermanfaat bagi laki-laki dan perempuan di sepanjang hidupnya. Sama seperti keahlian nyetir dan bela diri.

Juga mutlak bagi gaya hidup hemat dan tingkat tabungan tinggi. Mbak Tin dan Mbak Titik–pembantu dan sepupu yang juga mentorku dalam kerumahtanggaan–nggak kuat hati makan di luar, meski ditraktir. Mereka nggak sanggup aja lihat harga-harganya. Di tangan mereka, harga satu porsi Nasi Bebek warung pinggir jalan cukup buat lauk 3 kali makan sekeluarga.

Itulah ajaibnya perempuan yang hidupnya diabdikan untuk rumah tangganya.

Maka sejak sebelum menikah–dengan kecepatan kura-kura mabuk–aku dah mulai belajar masak. Sendiri. Nggak berani minta ajari Bunda. Beraniku cuma tanya-tanya. Tiap kali ingat masakan Bunda yang sangat mengesankanku jaman sekolah dulu (seperti ikan asin berdaging tebal yang dikasih kuah santan sewaktu di kami tinggal di Papua atau oseng-oseng tahu kuning berkuah waktu di Lembang), aku tanya, “Bumbunya apa, Nda?”

Penyesalan terbesarku adalah nggak sempat belajar bikin Rendang ala Bunda. Padahal Bunda asli Jawa. Belum nemu Rendang seperti punya ibuku. Buatan orang Padang atau Aceh sekalipun.

Jauh di sudut otakku, meski pingin, aku tahu nggak akan bisa seperti Bunda. Bakat masaknya nggak turun ke anak sulungnya. Jadi nggak tertarik praktek rupa-rupa resep. (Nggak paham kenapa banyak ibu-ibu senang bikin makanan yang tingkat kesulitannya tinggi dan jadinya sangat cantik seperti Puding Ikan Koi. Waktu lihat fotonya di grup Facebook Langsung Enak, aku mbatin: “Ini buat dimakan??”)

Fokusku adalah keahlian masak yang bisa membantuku berhemat dengan mengurangi acara makan di luar, bikin suami-ponakan senang dan menjamu tamu.

Untuk tujuan itu, dalam skala 1-10, keahlian masakku ada di titik 3¼. Mengingat kecepatan kura-kura mabukku, nggak tahu lah kapan bisa sampai titik 10 …

 …

Tapi: aku nemu beberapa cara kitchencooking-dining-related yang bisa nutupi yang 3¼ tadi.

Perhatikan Detil Dapur

Usai sudah orde dimana dapur dan kamar mandi jadi tempat paling asal dan paling kotor di rumah. Itu ordenya generasi yang nganggap enteng kerja rumah tangga, yang pekerjanya bukan perempuan berpendidikan tinggi.

Dapur yang nggak cuma sekedar rapi tapi juga sedap dipandang bikin seluruh anggota keluarga lebih menghargai kerja dapur, mendorong kita untuk kreatif dengan tugas memasak dan obat penawar rasa jenuh menjalani rutinitas masak.

image
Stasiun cutlery dan sendok sayur, suthil, pisau, saringan, parut; persis di antara kompor dan bak cuci piring supaya naruh dan ngambilnya gampang.

Nggak perlu mugar dapur atau beli kitchen-set rancangan desainer. Tanaman dah bikin segar. Lebih bagus kalau perantinya terorganisasi dengan baik. Tanyakan ke diri sendiri: andai ada orang masuk dapurku untuk masak Sayur Bening, bisakah dia menemukan alat dan bumbu yang dibutuhkannya sendiri tanpa bengak-bengok nanya atau disangoni peta?

Ahli Di Resep <30 menit

One thing to make all the difference: varied, favorite menu. Wajib tahu bahan makanan dan tipe racikan bumbu yang disukai anggota keluarga. Variasi menu dibangun dari sini, bukan dari tingkat kesulitan masakan atau berapa banyak resep masakan yang kita kuasai. Bagiku, lebih baik mumet di 4 variasi masakan dan penganan dari kol daripada mumet belajar bikin roti sendiri. Aku nggak cukup sabar, berbakat atau tertarik.

IMG_6522
Lasagna Roti anti-gagal dapat dari Facebook. Buat Mbak Tin enak (karena dia jarang makan daging).

Suami dan ponakanku yang paling kecil suka segala sesuatu dari daging. Buat suamiku, semua yang ketumpahan saos tiram dan kecap: enak. Ponakanku tadi nggak suka masakan Jawa yang tajam bumbunya. Lidahnya lebih bisa terima bumbu ringan seperti dalam masakan Barat.

2 ponakan yang sempat tinggal denganku jarang sekali makan masakan rumah. Bagi mereka semua yang keluar dari dapur rumahan: enak. Tiap kali aku berdiri di depan kompor, ponakanku yang perempuan selalu tanya, “Budhe bikin apa?” dan nunggu-nunggu aku selesai.

IMG-20151029-WA0007
Daun dan kembangnya dapat dari kebun pot di depan kontrakan. Nggak perlu ilmu merangkai bunga, asal masukkan, jadi.

Wajahku kuhadapkan ke masakan yang:

  1. Bikinnya bisa sambil merem (saking gampangnya)
  2. Nggak makan umurku (jadi dalam 30 menit per masakan, mulai dari motong-motong sampai masaknya)
  3. Bahan, bumbu dan cara bikinnya bisa kuhapal (nggak perlu bolak-balik lihat resep)
  4. Bahan dan bumbunya bisa kudapat dari tempat-tempat dalam radius 1,5 km dari rumah
  5. Pasti kemakan (menghindari semua yang eksperimental)

Sempat langganan newsletter Everyday Food, salah satu acara masak di bawah brand Martha Stewart. Resep-resepnya punya 5 ciri di atas (kecuali No.4). Sayang itu masakan Barat. Untuk lidah Indonesia coba ikuti blog Cinta Resep. Cynthia jago bikin masakan gampang tapi istimewa dari bahan sehari-hari.

Aku pribadi meyakini ibu rumah tangga tetap harus punya waktu untuk kerja non-rumah tangga. Jangan sampai tua di dapur.

Buat Tampilan Masakan Istimewa Dan Tata Mejanya

Masih setia dengan cara-cara sederhana. Yang paling gampang adalah meletakkannya di peranti saji yang manis. Aku lebih suka mencetak agar-agar di gelas suvenir mantenan daripada di cetakan atau cup-cup plastik. Teh atau kopi ya di cangkir atau mug, bukan di gelas. Minuman dingin di gelas tinggi. Goreng-gorengan di piring lonjor, bukan piring makan. Dapurku nggak punya piring plastik kecuali piringnya Azka.

11027494_1178254315536906_9062948497871316586_n
Puding Milo yang harusnya jadi 3 lapis warna: coklat-putih-coklat. Di dapurku jadinya blurik.

Kalau udhel lagi minggir, bisa dicoba naruh daun dan kembang di meja makan. Dari kecil batinku protes tiap kali lihat meja makan yang ditutupi taplak plastik terus masih ditutup lagi dengan plastik transparan. Kalau takut taplak kotor, nggak usah ditaplak’i. Meja kayu yang bare malah lebih bagus. Kalau bisa jangan jejali meja makan dengan barang meski itu peralatan makan.

Satu hal yang kulihat luput dari ibuku, Mbak Tin dan Mbak Titik, mereka asal naruh. Sayur di mangkok putih, lauk di piring makan beling, sayur di wadah plastik warna ungu, kerupuk di kaleng Khong Guan. Orang-orang visual sepertiku sangat memperhatikan keserasian warna. Satu beling bening, semuanya beling bening. Kalau harus mixed & matched, nggak segan mutar otak.

IMG-20151030-WA0013
Pertanyaannya adalah: terus ini makanannya harus ditaruh dimana??

Masih jauuuh jalan yang harus kutempuh di dapur. Ambisi dapurku sekarang ini: bisa nyiapkan jamuan makan enak untuk 5-10 orang, sendirian, modal menu murah. Makannya Cah Kangkung dan Ayam Panggang/Ayam Goreng Lengkuas. Minumnya Es Timun. Buahnya pepaya lokal. Jajannya Pie Susu resep turun-temurun di keluarganya Yaya, teman lamaku, yang belum kupraktekkan juga sampai sekarang.

Yaya ngajarinya dah 5 tahun lalu.

Well, yang penting resepnya dah kucatat.

Karena pernah juga lah masakanku dipuji. Mbak Tin tanya resep Ayam Kecapku. Azka bisa 3 kali minta tambah nasi dengan Cah Daging ala Hokben-ku. Bahkan Bunda yang master dapur rumahan itu pun pernah 1 kali muji Oseng-Oseng Pare-ku.

Buat suamiku: nggak ada yang bisa masak masakan Jawa seenak ibunya. Untuk semua masakan yang nggak biasa dimasak ibunya, nggak ada yang seenak buatanku.

Semoga Pie Susu resep keluarganya Yaya bisa masuk barisan menu andalanku.

Advertisements

3 thoughts on “Dapur Hemat 30 Menit

  1. Ini tadinya mau cepet2 komen, tapi liat ada nama cintaresep koq jadi malu2 kucing jadinya. Buyar mau komen apa. Hihi..aku suka rapihnya. Dirumah ga sempet rapi2 kalo uda masak. Udah cape, bawaannya pingin rebahan. Kalo meja makan ku rapi itu artinya ga masak wkwk..
    Dulu waktu msh belajar masak, jariku juga sering terbelah, kalo darah uda banjir, aku pasti langsung teriak minta dibawa ke rumah sakit. Pernah sekali waktu sampe disuntik tetanus abis 200 rb saking parno sama pisau. Cuma pisau ya ampun. Keparut juga sering, selalu nyesel kenapa ga pake sarung tangan dulu sebelumnya. Keciprat minyak ke seluruh tubuh juga sering, makanya kalau masak aku selalu pakai kacamata, minyak selalu ngincer mataku. 🙂

    1. Wakakakakakakakakakakakakakakakakak…!

      Belum bisa praktek resep-resepmu nih, Cyn. Sekarang urusan masak kupasrahkan Mbak Tin, jauuuuh lebih hemat. Niatku nanti kalau dah pindah ke Pacet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s