10 Pelajaran Dari Garage Sale-ku: Bagian 2

Nggak semua orang bisa jualan meski jualannya sangat murah; nggak semua orang sudi pakai barang bekas meski kualitasnya tinggi.

Di Bagian 2 ini aku ingin berbagi caraku mengatasi dua kendala itu. Tolong diingat aku ini mantan guru Bahasa Inggris yang mendadak jadi pimpinan proyek massive decluttering di rumah ibuku. Jualan bukan keahlianku.

Tip#5: Keluarkan Modal Untuk Membaguskan Sebagian

Pilih beberapa yang bisa dibaguskan dengan plitur dan catYang rusak, perbaiki. Yang nggak kuat, kuatkan. Kadang cuma butuh paku atau lem. Bisa kita kerjakan sendiri. Kalau dananya ada, bawa kursi dan sofa ke tukang bekleed. Ingat ini garage sale. Harga kita harus murah. Modal mbaguskan harus serendah mungkin. Saranku pilih yang nilainya tinggi seperti perabotan kayu atau yang bisa kita pakai sendiri.

IMG-20160127-WA0007
Kursi coklat diganti jok, raknya diplitur, kursi merah hasil ganti warna cat.

Aku harus jujur kalau aku habis banyak untuk modal.

  • Tukang bekleed ±3 juta
  • Upah tukang dan bahan (cat, plitur, triplex, paku) ±3 juta
  • Bingkai cermin dan hiasan dinding Cendrawasih ±300 ribu

Upah tukang dan belanja bahan yang 3 jutaan itu termasuk ndandani kontrakan. Bagian teras dicat, taman pot di depan rumah disegarkan; tanahnya diganti, tanamannya ditambah.

IMG-20160127-WA0005
Kusuruh Pak Rosidi nambah triplex di bagian belakang rak biar kuat. Dicat oranye biar serasi dengan warna raknya yang coklat tua.

Yang harus kutekankan adalah: tampilan kontrakan dan perabotan apa adanya nggak mungkin menarik teman-temanku datang, lihat-lihat dan beli. Menjual apa adanya sepertinya harus mengandalkan pasar kelas bawah. Masalahnya harga >50 ribu nggak terjangkau di pasar ini. Saudara-saudaraku di kampung bayar dengan nyicil. Belajar dari pengalamanku, jangan nunggu-nunggu cicilan ke-2.

Tip#5: Pekerjakan Media Sosial Untuk Membangun Profile Bakul Terpercaya

Aku nggak bosan mengulang-ulang: jangan cuma ngandalkan harga murah kalau pasar kita bukan kelas bawah atau hagglers. 1/3 barang di garage sale-ku nilainya lumayan tinggi seperti perabotan kayu, perabotan kayu serbuk dan barang seni. Harus kujual ke kelas menengah. Target pasarku: teman sendiri.

Modal menjual ke teman adalah kepercayaan.

Pasar teman butuh percaya kita punya ‘wewenang’ menjual yang kita jual. Mau beli produk fashion dari seorang teman yang tampilannya itu-itu saja? Atau beli produk make-up dari seorang teman yang selalu polosan ke kondangan sekalipun? Harus jadi pengguna barang bekas kelas tinggi dulu untuk bisa menjual banyak barang bekas ke teman.

IMG-20160127-WA0009
Ruang tamu yang dari barang bekas semua.

Disini Tip#5 sangat terasa manfaatnya.

Akun Facebookku kupakai untuk nunjukkan kalau seisi kontrakanku adalah barang bekas. Membagi cara bikin barang bekas jadi bagus. Mem-post ide-ide repurpose yang memaksimalkan barang bekas. Ide-ide berhemat dengan barang bekas. Lebih dari separuhnya ide yang kuterapkan sendiri, sisanya cuma kulihat di internet.

IMG-20160124-WA0013
Foto ini dapat 30-an Like di Facebook. Juga dari barang bekas semua.

Tip#7: ‘Korbankan’ Beberapa Barang Untuk Membuka Jalan

Setelah 6 bulanan membangun profile dibarengi ngontak teman-temanku secara pribadi belum juga menghasilkan penjualan (tanya-tanya thok), aku ambil 2 tindakan:

  • Mem-post sprei dan bedcover yang kujual per set seharga 75 ribu di Instagram. Harga kucantumkan. Kupilih sprei-bedcover karena ada >1 (supaya yang berikutnya bisa kunaikkan harganya), ukurannya besar (bikin harga 75 ribu jadi luar biasa murah), di foto terlihat sangat bagus dan nggak kupakai karena warnanya nggak serasi dengan yang lain.
  • Nitip barang kecil yang bisa kujual 10-20 ribuan ke teman yang tinggal di kelas bawah. Barang-barang itu ku-post di Instagram untuk nunjukkan barang mulai terjual, menciptakan sense of urgency: siapa cepat, dia dapat.
IMG-20160124-WA0009
Yang ini kujual 150 ribu; semuanya. Sarung bantal dan bedcover motif Bali. Yang suka barang etnik yang bisa menghargainya.

2 tindakan itu kuulang kali berikut respon pasar terasa lesu. ‘Korban’ kedua adalah satu set sarung bantal kursi tamu dan taplak meja tamu yang terus terang aku sendiri berat melepasnya seharga 50 ribu. Kupilih karena kupunya >1, dan meski sangat bagus, warnanya nggak serasi dengan perabotan ruang tamuku.

Sekarang aku lagi cari cara lain untuk ngganti strategi mengorbankan barang bagus. Nggak mungkin aja terus-terusan. Mau coba kasih diskon 50% buat yang mau beli langsung di rumah di tanggal yang kutetapkan.

Tip#8: Buat display yang sedap dipandang mata di rumah

Seperti yang sudah kubilang di Tip#3, yang kulakukan secara online bukan untuk bertransaksi tapi menarik teman-temanku datang ke rumah untuk lihat-lihat. Nggak masalah kalau setelah itu transaksi dijadikan via WhatsUp/Messenger.

Jadi pajang barang-barang yang kita jual sebagus mungkin di meja atau rak terbuka. Sebagian kupajang di ruang paling depan, sebagian besarnya kutata di lantai atas kontrakanku. Tiap kali ada teman datang–khusus untuk lihat atau keperluan lain–kuajak ke lantai atas. Minimal mereka lihat-lihat yang kupajang di ruang depan sementara kutinggal shalat atau bikin minum.

IMG-20160124-WA0012
Nggak sulit bikin display seperti ini. Kelompokkan berdasar keserasian warnanya.

Ini caraku untuk meminimalkan tawar-menawar, memperbesar peluang menjual dalam jumlah banyak dan mendistribusikan barang rusak atau barang yang susah njualnya. Seorang teman yang beli rak kukasih printer Canon yang menurut suamiku bisa difungsikan lagi dengan ganti cartridge. Temanku itu senang nerimanya. Seorang teman lain yang cinta barang etnik kukasih taplak etnik, tas etnik, kotak perhiasan etnik, pouch etnik dan dompet etnik. Kukasih banyak karena dia juga beli banyak.

Tip#9: Ambil Foto Dan Tulis Caption Yang Menarik Untuk Facebook/Instagram

Aku nggak ahli dalam berjualan. Kelemahan ini kukompensasi dengan men-staging item yang kujual. Kucari/kubuat backdrop yang ngangkat warna dan bahannya. Contoh: meja kayu warna mahogani bagus buat backdrop barang dari beling. Kufoto dengan prop yang warnanya serasi.

IMG-20160127-WA0004
Latar belakangnya pakai taplak meja makan rajutan warna putih; prop-nya semak kering. Ini yang dijual tasnya.

Nggak perlu kamera mahal, studio, app canggih atau keahlian fotografi profesional. Semua foto kuambil dengan kamera IPhone 4. Studionya rumah kontrakanku. Kucari spot yang cukup dapat sinar matahari. Staging dan prop pakai barang-barang yang aku punya. Aku senang pakai barang sehari-hari seperti buku dan botol You C-1000. Untuk filter kuandalkan feature Edit di IPhone, Instagram dan Photogrid. Makan banyak waktu dan energi tapi sepadan dengan hasilnya.

IMG-20160127-WA0010
Ada yang tanya-tanya kipas anginnya setelah lihat foto ini di Instagram.

Dan lumayan peras otak untuk nulis caption. Aku nggak banyak bicara soal detil seperti ukuran/dimensi dan bahan pembuatnya. Informasi yang kusediakan biasanya kondisinya, cacatnya dan keistimewaannya. Atau, informasi yang menambah nilainya. Contoh: untuk tas bordir motif khas Aceh kutulis kalau kerajinan tas Aceh sempat masuk The Oprah Show, dan di sebuah situs, tas yang mirip punyaku, dijual seharga US$100.

Prinsipku dengan foto dan caption adalah: mereka yang nggak minat beli pun sukarela ngikuti postpost-ku, suka lihat foto-fotonya dan senang baca caption-nya. Sebisa mungkin tiap post kubuat jadi eye-candy [=nyenangkan mata], informatif, bikin penasaran atau bikin tertawa.

Tip#10: Manfaatkan Strategi Marketing Word-of-Mouth [Bukan Mouth-to-Mouth!]

Ini strategi yang bukan cuma murah tapi juga sangat efektif. Kelemahannya adalah: bukan buat penjual yang butuh jual cepat atau yang nggak sabar nunggu.

Aku sangat jujur dengan cacat barang-barangku. Kalau toh nggak kelihatan di foto, kupastikan calon pembeli tahu dari caption atau saat mereka datang ke rumah untuk lihat. Kupastikan juga mereka tahu kekuatan barang. Yang cari rak kuingatkan ‘rak ini nggak bisa untuk yang berat-berat’. Yang cari lemari, ‘lemari ini nggak bakalan lama umurnya; kalau memang uangnya ada mending kamu beli lemari baru’. Taplak yang ada nodanya kutunjukkan, kukasih tahu kalau nggak bisa dihilangkan dengan Bayclin.

Aku juga terbuka dengan patokanku ngasih harga. Kebanyakan pembeli cuma bisa lihat ukuran barang. Mereka protes taplak meja tamu sulaman tangan kukasih harga lebih tinggi daripada taplak meja makan print-print-an. Harus mau bicara panjang lebar menjelaskan nilai barang bukan cuma besar-kecilnya. Ada variabel harga beli, kondisi, kelangkaan, tingkat kesulitan bikin, susah-gampang njualnya termasuk daya beli calon pembeliku yang harus kuperhitungkan. Yang merasa dari kelas menengah jangan minta harga sama dengan kelas bawah. Itu hukum pasar.

Yang kuharapkan nyebar dari mulut ke mulut ada 3. Satu, barangku bagus-bagus. Dua, harganya murah-murah. Three, my garage sale is a helpful place.

IMG-20160127-WA0002
Butuh semalaman untuk bikin ini. Hanya untuk nunjukkan barang bekas pun bisa bagus.

*****

Di tangan seseorang yang lebih ahli, 10 tip ini mungkin bisa jadi bisnis online yang menguntungkan. Sejauh ini aku cuma bisa memanfaatkannya untuk ber-garage sale tanpa dipandang aneh sama tetangga dan orang lewat.

Untuk bahan pelajaran lebih jauh dan dalam, kusarankan mem-follow blog Prodigal Pieces dan akun Instagramnya @prodigalpieces.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s