10 Pelajaran Dari Garage Sale-ku: Bagian 1

Garage/yard sale nggak umum di Indonesia. Seperti apa konsep ini di negara asalnya, boleh baca di sini. Aneh aja kalau diterapkan di Perumahan Rewwin, Sidoarjo, Jawa Timur. Belum pernah kulihat orang nggelar barang-barang bekas/ngganggurnya di halaman/garasi rumah buat dijual. Yang pernah kudengar dari muridku sih seisi rumah dijual karena pemiliknya mau hijrah ke luar negeri. Jadi nggak perlu digelar di depan rumah. Cukup open house buat kerabat.

Papa muridku itu pulang bawa kulkas 4 pintu dengan harga njungkir.

Di post kali ini aku ingin berbagi tip yang kupelajari dari 1,5 tahun njuali barang rusak, bekas dan nganggur. Kulakukan dengan mengkombinasikan toko rumahan dan online shop.

Tolong diingat ini bukan jualan cari untung. Delapan jutaan rupiah yang kukumpulkan sejauh ini bahkan nggak sampai 5% dari total harga barunya. Meski harus kuakui uang itu yang membantuku mengosongkan 2 rumah dan membaguskan kontrakan.

10 tip ini berasumsi yang kita jual ada banyak dan rupa-rupa. Kalau cuma 1-2 baiknya kumpulkan dulu. Orang lebih tertarik beli saat mereka punya banyak pilihan.

Tip#1: Buat inventaris barang yang ingin kita jual

Buat paling nggak catatan mental tentang apa saja yang ingin kita jual, jumlah dan kondisinya. Lebih bagus kalau punya tempat penyimpanan khusus. Inventaris ini yang akan membantu kita memutuskan mana yang kita jual dulu, menentukan harga dan bikin penawaran.

Dulukan menjual barang bekas cepat laku (pengalamanku: rak, lemari, sprei-bedcover, jam tangan) atau barang yang jumlahnya lebih dari satu.

IMG-20160106-WA0000
Rak lah yang pertama dibeli dan pertama habis di garage sale-ku

Contoh: ada 8 rak yang ingin dijual. Bisa mulai dengan menawarkan yang paling bagus kondisinya. Pasang harga tinggi kalau memang masih baru (paling tinggi 50% dari harga barunya; bisa lebih tinggi kalau masih dalam kardusnya, belum dibuka). Kalau calon pembeli masih merasa kemahalan, sebelum nurunkan harga, bisa tawarkan rak lain yang lebih kecil atau yang kondisinya di bawahnya. Selain membandingkan dengan harga barunya, orang akan membandingkan ukuran dan kondisi antar ke-8 rak.

Kalau mereka merasa harga kita murah-murah, pasti ingin lihat barang-barang lain.

Inventaris juga mencegah kita menjual barang ke orang yang salah dengan harga yang salah. Saat menjual isi 2 gudang, aku nggak mau repot menginventarisnya dulu. Lewat teman, langsung kucari penadah rombengan, mereka datang ke rumah, kujanjikan semua yang ada di dalam gudang. Aku sepakat di harga 1,35 juta.

Sewaktu ngasih harga itu, si penadah ini tanya apa aku yakin mau jual semuanya. Besoknya saat dia ngangkuti barang, dia tanya lagi. Pak Rosidi yang mbantu aku ngosongkan rumah juga ngingatkan. Di situ aku baru sadar, ada barang yang terlalu berharga buat rombengan: pintu dan jendela, baru, kualitas kayunya tinggi. Untunglah bisa kutarik lagi meski harga diturunkan jadi 1,2 juta. Tolol aja kalau 2 pintu dan 2 jendela itu kulepas seharga 150 ribu.

Ada juga mesin cuci yang harusnya kucoba dulu sebelum kulepas ke penadah rombengan. 

Selalu mulai dengan menginventaris jenis barang, jumlah dan kondisinya.

Tip#2: Kenali pasar barang bekas

Kebanyakan orang Indonesia gengsi pakai barang bekas. Garage sale sembarang kalir seperti garage sale-ku bukan untuk diiklankan di Facebook, ditawarkan dari rumah ke rumah atau secara acak, telpon teman satu demi satu, diangkut dengan pick-up terus dijual di pinggir jalan atau dibuatkan brosur terus disebar dari helikopter.

Beda barang, beda pasar.

Pasar perabotan bekas: mereka yang mulai usaha dan calon manten/manten baru/pasangan muda yang rumahnya kosongan. Singkat kata, mereka yang harus beli banyak perabotan sekaligus.

Pasar segala jenis macam barang bekas non-branded: kelas bawah. Mereka ini yang beli kursi plastik, baju, sprei, handuk, barang pecah belah, jam tangan mati, kerudung, aksesoris, tas, mainan, CD, buku anak-anak; aku nggak ingat semuanya

Ada orang-orang yang mengumpulkan barang elektronik rusak seperti AC dan komputer. 2 AC rusak ibuku dihargai 400 ribu sama tukang AC yang datang ke rumah buat masang AC. Pesan singkat dari +62823188119812 mengklaim ngasih harga tinggi untuk laptop dan proyektor rusak. Nggak ada salahnya dicoba sebelum njual laptop rusak kita ke rombengan.

Ada juga orang-orang dari kelas bawah yang mau membeli barang elektronik rusak seperti TV, kulkas, kipas angin dan mesin cuci untuk diperbaiki dan dipakai sendiri.

Pasar barang rongsokan dari logam, kertas dan beling: saudagar rombengan. Kalau jumlahnya banyak seperti dalam kasusku, jual ke penadahnya, lebih efisien. Mereka yang nanggung ongkos angkat dan angkut. Dijual dikit-dikit ke tukang rombeng keliling mungkin bisa dapat lebih banyak uang, tapi makan waktu dan merepotkan.

Barang collectible seperti:

11659555_1097336883628650_25299073270973121_n
Cup tinggi coklat ini tergolong collectible.
  • barang pecah belah dari tahun 70-an ke bawah
  • perabotan mid-century (contoh-contohnya lihat di Temu Kangen Vintage Store)
  • figurine film atau serial terkenal atau klasik seperti Popeye dan Star Wars
  • album penyanyi/band yang karirnya panjang seperti The Rolling Stones
  • semua barang yang umurnya >50 tahun (contoh-contohnya lihat di @the_barangjadoel)

punya pasar sendiri. Kalau males cari kolektor atau pembeli pengguna (mereka ini yang mau beli dengan harga tinggi), cari komunitas penadahnya di Facebook.

Terakhir, ada golongan manusia yang memang senang berburu barang murah. Yang ku-share di Instagram direspon cukup banyak orang. 99%-nya nawar. Kalau niatnya bikin garage sale rutin, baiknya perhitungkan pasar hagglers ini. Saranku: naikkan harga 10-20% dari harga terendah kita.

IMG-20160124-WA0008
Yang seperti ini 75 ribu, masih ada aja yang nawar.

Aku pribadi lebih suka menjual ke lingkungan kelas bawah dan teman-teman baik. Mereka biasanya nggak nawar dan beli lebih dari satu barang. Mungkin karena mereka lihat sendiri barangku bagus-bagus dan tahu aku bukan jualan buat cari untung.

Tip#3: Pakai lebih dari satu metode jualan

Beda pasar, beda cara jualannya.

Dan dalam kasusku, karena aku lebih suka menjualnya ke teman, keluarga dan lingkungan kelas bawah, nggak bisa hanya dengan nge-post foto barang yang kujual di Facebook atau Instagram lalu bertransaksi di WhatsUp atau Line. Kuulangi lagi:

  • Barang rongsokan kujual ke penadah rombengan. Teman kerja laki-laki yang tampilannya seperti preman yang carikan (aku merasa penadah rombengan lebih respek ke laki-laki). Sengaja dia carikan yang dekat rumah supaya mereka mau datang ke rumah untuk menginspeksi rongsokannya dan mau nanggung ongkos sewa pick-up.
  • AC rusak kujual ke tukang AC. Aku tahu sendiri dia menjualnya ke orang lain. Dari pembicaraan mereka di telepon, sepertinya dijual ke penadah AC yang terima AC bekas yang rusak atau masih berfungsi. Jadi kalau bisa njual langsung ke penadahnya, kita bisa dapat harga lebih tinggi.
  • Barang elektronik rusak kutawarkan ke saudara-saudaraku dari kampung dan tukang yang membantuku ngosongkan rumah. Orang-orang dari kelas bawah biasanya handy dan resourceful. Aku punya sepupu yang mau beli kipas rusak buat dia perbaiki sendiri lalu dia jual lagi. Harganya lebih bagus dari harga tukang rombeng.
  • Barang bekas non-branded kutitipkan sepupuku di kampung dan seorang teman yang bertetangga dengan saudara-saudaranya di lingkungan kelas bawah. Sepupuku kukasih hak prerogatif untuk nentukan harga dan milih barang buat dia beli sendiri. Temanku–selain hak milih untuk dibeli sendiri–kukasih komisi 10-25% dari total uang yang bisa dia kumpulkan; makin banyak ngumpulnya, makin besar komisinya.
  • Perabotan kutawarkan ke teman-teman dekatku terutama pasangan muda. Ada yang via Messenger, yang sangat prospektif kutawarkan lewat WhatsUp dengan foto-foto barangnya. Tujuannya bukan untuk bertransaksi tapi ngabari kalau aku bikin garage sale, ngasih gambaran barang-barang seperti apa yang kujual, supaya mereka mau datang ke rumah buat lihat-lihat sendiri.
  • Barang baru, barang bagus, barang mahal yang memperindah rumah, ku-share foto-fotonya di Facebook dan Instagram. Sebagian lengkap dengan deskripsi dan harga tapi kebanyakan cuma buat nunjukkan aku punya barang bekas yang bagus-bagus yang kujual jauh dari harga toko atau supermarket sekelas Giant.

Andai yang kujual lebih terspesialisasi–perabotan bekas saja misalnya–dan bisa kujadikan usaha jangka panjang, kurasa cukup dengan cara online.

Dibanding Facebook, Instagram lebih menjanjikan bagi barang bekas.

Tip#4: Jual dalam paket dan perhatikan kemasannya

Ini caraku menjual barang-barang bekas yang kecil-kecil. Sejauh ini sangat efektif di lingkungan kelas bawah. Satu kerudung paris kujual paketan dengan satu kalung/bros. Barang kecil yang dikelompok-kelompokkan lebih menarik mata daripada barang kecil yang berdiri sendiri-sendiri.

Keserasian warna sangat kuperhatikan waktu nentukan paket-paket ini. Tas batik hitam-coklat kupasangkan dengan kalung hitam berbandul merah, kemeja coklat dan sepatu hitam. Barang-barang murah yang warnanya serasi lebih menarik mata dibanding yang warnanya tabrak-lari meskipun kualitasnya lebih bagus.

Per paketnya kukemas dalam plastik transparan, tas kain atau tas kertas. Tetap memperhatikan keserasian warna. Paket dominan hijau kutaruh di tas warna kuning hadiah dari Viva. Demi dapat perhatian mata.

image
Dijual dalam tas-tas seperti ini nambah daya tariknya.

Ada yang kujual per paket, nggak terpisah. Ada yang per item kukasih harga tapi kubuat harga per paketnya jauh lebih murah. Cara ini, selain menambah daya tarik, menghalangi pembeli memilih yang bagus-bagus saja. Barang yang bagus harus bisa nutupi atau ngangkat barang yang nggak bagus. Memastikan semuanya terjual.

-Bersambung-

921350_861229660659137_7067900112149256939_o
Mantan muridku beli 2 koper ini seharga Rp85.000 dari garage sale-ku (foto dari Creativa Photography)

Tujuan garage sale memang untuk decluttering jadi harus putar otak demi bisa menjual sebanyak-banyaknya. Nggak cukup hanya dengan menjual murah.

6 tip sisanya bisa dilihat di post berikutnya. Ke-6 tip itu caraku menambah daya tarik barang-barang yang nggak bisa kujual sangat murah dan mendorong teman-temanku datang ke rumah untuk lihat-lihat. Cocok buat mereka yang nggak suka direct selling atau jualan agresif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s