8 Home Office Keren

Learn the rules like a pro, so you can break them like an artist.

-Picasso

Home office pertamaku nggak jelek. Mengingat aku desainer amatir tempa’an kepepet dan kengangguran. Yang mengangguku adalah: barang yang kupakai untuk kantor rumahanku itu barang pilihan. Sendiri-sendiri pun dah bagus. Meja, kursi, rak, cermin lawasan dan wall-art Cendrawasihnya hasil plituran, ganti jok dan ganti bingkai. Andilku cuma di penempatan.

Otak dan hati kecilku nggak bisa berhenti menuntut lebih.

Tantangan sesungguhnya bagi gaya hidup ngirit nggak murahan-ku ada di menambah nilai barang yang dihargai murah, menjadikannya keren, dengan sesedikit mungkin uang.

Nah, aku ada meja, rak dan pernak-pernik yang kalau berdiri sendiri-sendiri nggak akan dilirik orang. Sudah beberapa bulan ini aku cari cara nambah nilainya. Yang bisa kupikirkan saat ini cuma menyatukan mereka semua untuk melayani fungsi kantor rumahan seorang ibu rumah tangga sepertiku.

Seperti yang kubilang di home office gratisanku, semua upaya menambah nilai yang low-cost harus dimulai dengan proses berpikir yang dalam. Postingan ini adalah proses berpikirku.

KANTOR PUTIH

Tiga kata. Bersih, kontemporer, profesional. Jadi ingat temanku Irene, seorang master manajemen waktu yang juga academic par excellence.

image
(Foto dari sumber yang nggak kucatat atau kuingat via Google)

Bukan kantornya mereka yang suka main warna. Hanya ada 1 warna dominan–putih–dan 1-2 warna aksen–salah satunya pasti hitam. Putihnya meraja dari warna tembok, lantai, plafon sampai perabotannya sedangkan porsi warna aksennya kalau nggak sangat kecil, sangat timpang. Contoh: hitamnya mencolok karena jadi warna satu sisi tembok, warna aksen satunya dibatasi di pernik thok, nyaris nggak kelihatan.

image
(Foto dari sumber yang nggak kucatat atau kuingat via Google)

Menurutku faktor stylish-nya bukan di warna tapi di pilihan pernak-pernik yang minimalis dan nggak lazim. Nggak ada desk organizer, nggak ada tumpukan buku atau kertas, nggak ada map atau folder. Permukaan mejanya clear. Yang dipakai buat pernik malah selimut bulu buat alas kursi, ranting pohon buat hiasan dinding, spare-part buat pajangan di rak.

image
(Foto dari sumber yang nggak kucatat atau kuingat via Google)

Perabotannya sepertinya harus beli semuanya di home center seperti Ace Hardware.

Keberatanku dengan kantor seperti ini:

  • mendorong kita untuk berpikir efisien (bukan berpikir kreatif)
  • nggak bisa nyimpan banyak barang (butuhnya ibu rumah tangga bukan cuma ngetik)
  • gampang dan cepat terlihat kotor dan dekil (anak kecilnya harus diisolasi dimana?)
  • menonjolkan bopeng dan retak di tembok, keramik lantai yang cuil dan noda air hujan di plafon (bayangkan rambut rebonding di wajah yang bopeng-bopeng karena jerawat atau yang struktur wajahnya nggak indah)
  • perabotannya harus baru (sulit buatku mbayangkan perabotan bekas di ruang putih bersih seperti ini)

KANTOR NYENI

Kantor ini ngingatkan aku ke Iwan Fals; berantakan, asal tapi mengagumkan. Jauh sekali dari kesan kantor karena order-nya nggak menculek-culek mata.

image
(Foto dari sumber yang nggak kucatat atau kuingat via Google)

Coba perhatikan. Perabotannya comot sana-sini. Pernak-perniknya bukan khas kantor, nggak dijual di Gramedia atau Gading Murni. Warnanya cenderung suram. Warna terang hanya ada di 1-2 perabotan.

Ini lebih pantes jadi studionya artis daripada kantor ibu rumah tangga.

KANTOR CRAFTY

Jelas-jelas kantornya perempuan. Warnanya warna pastel dan ramai. Pernak-perniknya juga ramai, buatan tangan. Niatnya memang buat dijejali barang.

image
(Foto dari Better Homes & Gardens)

Kantor serupa ini yang aku pingin punya.

Mungkin lebih pas disebut craft room atau craft corner. Tempat aku bisa nyimpan koleksi sampahku. Kalau lagi sumpek bisa duduk di situ, ambil gunting, ambil kertas lalu mulai kerja tangan. Nggak dibereskan pun nggak bikin sumpek karena justru ‘ramai’-nya itu yang bikin hidup. Dipakai ngetik bisa apalagi buat corat-coret jurnal. Puas hati nulis dan menghias jurnal dengan spidol warna, kertas cantik, paper-clip yang dipermak dengan kain dan pita.

KANTOR VINTAGE & DO IT YOURSELF

Aku punya perhatian khusus untuk gaya vintage karena gaya ini yang paling mengakomodasi ngirit. Perabotan bekas harganya kebanting. Bisa juga memanfaatkan perabotan lama yang ada di rumah orang tua. Pasti ada yang bisa dipakai.

image
(Foto dari Better Homes & Gardens)

Kekuatan kantor-kantor ini ada di:

Satu: perabotan yang dicat ulang, di-customized, jadi kesannya collected, nggak semburat, meskipun mixed and matched. Generasi di atas kita suka warna aman seperti kuning gading, coklat, biru tua; dunia bisnis suka warna dasar seperti hitam dan biru tua. Hindari warna-warna itu. 

Dua: pernak-perniknya yang jadul, barang sehari-hari atau barang buatan sendiri. S-e-m-u-a bisa dijadikan pajangan dan pernik sama gaya vintage. Radio dan TV rusak pun bisa. Nggak perlu beli.

image
(Foto dari liagriffith.com via Better Homes & Gardens)

Yang agak menyulitkan dengan gaya ini adalah harus all-out. Kalau vintage-nya setengah-setengah, terbatas di 1-2 perabotan, lainnya perabotan baru, jadinya ganjil.

Kalau memang vintage semuanya nggak memungkinkan, bisa dicoba formula ini:

Vintage+Repurposed+Do It Yourself=Stylish

image
(Foto dari Better Homes & Gardens)

Itulah yang ingin kucoba dengan home office keduaku.

Yang mungkin lebih dekat ke craft corner daripada kantor rumahan.

Karena di posisi ibu rumah tanggaku sekarang ini, kerajinan tangan ternyata bisa membebaskan, meringankan dan memberdayakan.

Catatan: Foto-foto yang ku-download via Google kudapat dengan keywordstylish home office‘ dan ‘creative home office‘. ‘Home office‘ saja nggak akan menampilkan foto-foto seperti yang bisa dilihat disini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s