Lantai 2 Kontrakanku: Sebelum & Sesudah

Setelah noto 1 rumah petak sekotak korek, 1 rumah kontrakan 2 kotak korek di pinggir sungai, 1 rumah kontrakan tipe 45 dan 2 rumah tinggalan orang tua, akhirnya aku punya foto-foto sebelum dan sesudah.

Kalau bukan karena ngalami dan lihat sendiri, aku juga nggak akan percaya kalau tanpa renovasi, tanpa ngecat ulang, tanpa ganti perabotan, modal noto thok bisa ngasih efek sebesar itu. Ditambah faktor pencahayaan dan filter, efeknya dramatis.

Bagi tangan yang noto mungkin bisa disebut or-ganization-gasm. Satu dari beberapa momen ibu rumah tangga yang bikin aku pingin nyanyi I feel Good. Seriously, ibu bekerja dan ibu beranak <8 tahun nggak akan punya waktu untuk kerja organisasi serupa ini.

IMG-20160106-WA0014

IMG-20160106-WA0013

Aku pun harus dibantu Nita 1 hari, Pak Rosidi 1/2 hari. Yang kukerjakan sendiri, kalau dikerjakan selama 8 jam-an sehari, butuh 2 hari. Dengan stamina mbah-mbah-ku, aku butuh 2 mingguan.

IMG-20160106-WA0008

IMG-20160106-WA0010

Bayangkan:

Langkah#1: Mengamati barang apa aja yang sudah ada dan barang tambahan dari lantai bawah untuk bikin perencanaan space; apa ditaruh dimana.

Langkah#2: Mengosongkan separuh area untuk menyortir barang kecil.

Langkah#3: Menyiapkan kardus, container plastik, ember–apapun yang bisa kupakai untuk menyortir barang kecil per jenisnya.

Langkah#4: Mengeluarkan semua barang kecil, sedikit demi sedikit, sambil dipilah-pilah dalam wadah yang sudah kusiapkan.

Langkah#5: Menata barang besar–perabotan seperti rak dan meja–untuk jadi sentra penyimpanan barang kecil per jenisnya.

Langkah#6: Menata barang kecil di sentra-sentra yang sudah kusiapkan (jangan berharap sekali taruh langsung mapan disitu; harus selalu siap merubah rencana sembari nata).

Langkah#7: Mengulang lagi dari Langkah#1 untuk separuh space sisanya.

IMG-20160106-WA0009

IMG-20160106-WA0020

Untuk standar sebagian orang, lantai atasku sudah rapi dan bersih. Sayangnya rapiku nggak sama dengan rapinya kebanyakan orang Indonesia. Rapiku standarnya Amerika Utara. 

IMG-20160106-WA0007

IMG-20160106-WA0006

Buat ilustrasi, bagi suamiku, lantai atas sudah ‘rajin’. Standarnya untuk merapikan barang adalah: semua dijejal di kardus atau container plastik. Yang dipahami operator forklift cuma efisiensi volume; diatur sedemikian rupa supaya per wadah bisa menampung sebanyak-banyaknya.

IMG-20160106-WA0003

IMG-20160106-WA0002

Ada harga yang harus dibayar untuk kerapian ‘pokoknya tersimpan di wadah tertutup’ ala suamiku.

image

image

Awal kami menikah, semua barang dari kos-kosan masa joko-nya disimpan di 2 kardus sedang dan 2 kardus jumbo. Buku, tugas akhir yang terlantar, CD, instrumen listrik, spare-part komputer dan motor dicampur jadi satu.

2 tahun kami ngontrak di rumah petak itu, aku cuma 1 kali melihatnya mbongkar hartanya. Saat kunci gembok motor hilang.

Dia yakin punya kunci serep. Dia bongkar 4 kardusnya, makan 1 jam-an, nggak ketemu.

Putus asa, dia keluar untuk nyeret motor masuk ke parkiran karena dia nggak akan bisa tidur kalau motor masih di luar meski tergembok.

Saat dia ngangkat roda belakang, dia nemu kunci gemboknya, tergeletak di tanah.

IMG-20160106-WA0001

IMG-20160106-WA0000

Kalau mau tahu ilustrasi standar rapiku:

Kunci serep hilang. Cari di sentra penyimpanan kunci (kalau kuncinya banyak pasti kupilah-pilah lagi; kunci lemari sendiri, kunci pintu rumah sendiri, kunci kendaraan sendiri).

Kalau nggak ada berarti mbongkar 1 rumah pun nggak akan nemu. Semua kunci adanya cuma di sentra kunci.

Jadi nggak perlu buang waktu, cari di luar rumah atau tempat lain yang bukan di dalam rumahku.

Itulah bedanya standar Probolinggo dengan standar Amerika Utara.

IMG-20160106-WA0005

IMG-20160106-WA0004

Penataanku memang makan waktu, nggak bisa dibawa nang mari nang wis seperti maunya suamiku, tapi pikirkan keuntungannya:

  1. Nggak perlu mbongkar sak lantai untuk cari sesuatu, sekecil apapun itu. Kertas pun kupilah berdasar warnanya.
  2. Saat terpaksa, lantai ini tetap bisa ditiduri tamu atau dibuat ngobrol (syarat: setelah aku bisa memecahkan masalah panasnya). Nggak kelihatan seperti gudang meski dipakai nyimpan banyak barang.
  3. Barang-barang yang tertata di satu ruangan seperti ini bisa dijual ke teman, tetangga dan saudara. Memang nggak bisa buat cari untung, tapi buat seorang pengontrak sepertiku, bisa mangkas biaya boyongan sekaligus cari rumah yang lebih kecil.

Aku bukanlah seorang yang menghadapkan wajahku ke negara-negara Barat, but I know a good thing when I see one. Kemampuan berpikir mereka memang unggul. Bukan cuma orang; space dan barang-barang rumah pun mereka organisasikan. Meski orang kita bangun sebelum fajar dan patuh kepada orang tua, mereka lah yang dapat lebih banyak dari dunia.

Yang manfaat, akan kutiru, darimanapun datangnya.

Advertisements

4 thoughts on “Lantai 2 Kontrakanku: Sebelum & Sesudah

  1. Saat dia ngangkat roda belakang, dia nemu kunci gemboknya, tergeletak di tanah. – Rasanya kayak nemu harta karun gitu ya 😀

    1. Lebih tepatnya seperti pingin njambak rambut istrinya, Gin. Yang menghilangkan kuncinya aku! Wakakakakak..

      Alamat blogmu apa tho, Gin? Mau kusimpan di Reader. Kamu jarang-jarang nge-post ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s