The Pang Woman

Nihaal, muridku yang 1,5 tahun lalu kelas 4 SD internasional, bilang ‘pang‘ itu ‘gendut’ dalam Bahasa Mandarin. Mamanya yang keturunan India langsingnya seperti gadis meski dah beranak 2. Dan guru lesnya ini memang bener-bener pang.

image
Celana pensil kesayangan (2010)

Ekstra lemak yang kubawa kesana-kemari setara dengan 4 sack beras Cap Raja Tawon yang harganya 60 ribuan. Salah satu pertanyaan yang berulang-ulang kudengar, “Hamil ya?”

Jawabanku enteng aja, “Bukan. Itu lemak.”

Sama seperti kalau ada yang tanya, “Itu anaknya, Bu?”

“Bukan, itu suami saya,” jawabku [maksa] enteng.

Perempuan lain mungkin diet mati-matian. Aku memakai lemakku untuk nodong suamiku tampil seperti layaknya suami perempuan umur 40-an atau ‘Aku pergi sendiri lho, Mas!’.

Dia berhenti makai kaos/kemeja pressed-body dan jeans yang dia suka itu.

Sama aja lah dengan perempuan lain, aku ingin langsing. Seperti gadisku dulu. I miss my high heels. Baju ukuran XL di Matahari kini cuma bisa masuk sampai ke leherku, celana XL-nya berhenti di lutut. Padahal 8 tahun lalu ukuranku M, celananya L. Sejak awal 20-an sampai umurku 33 tahun, bobotku bertahan di 47 kg. Ibuku bilang dari bayi nggak pernah gendut. 4 sack lemak tadi kukumpulkan sejak tahun 2008 saat jam ngajarku nggak lagi tetap dan teratur. Hampir 3/4-nya adalah bonus jadi perempuan bersuami. Bahkan teman-teman lamaku yang gendut syok lihat perubahanku tubuhku.

Bapak-ibuku sendiri nggak percaya. Bunda berulang-ulang nyuruh aku tes lab; khawatir kenaikan dramatis bobotku ada hubungannya dengan turunan diabetic yang tersebar rata di keluargaku, dari pihak Ayah maupun ibu.

Apa artinya 20 kg tambahan lemak dibandingkan dengan hilangnya kemampuan mencukupi diri sendiri? Seperti butiran debu..

Jadi setelah fase ‘What has happened to me?!?‘ ke diri sendiri dan ‘What have you done to me?!!!‘ ke suamiku bisa kulewati, kuputuskan untuk berdamai dengan lemakku.

Ngerti aku, ini aneh; dari dulu aku suka lihat perempuan yang badannya ‘penuh’. Aku belum pernah ketemu perempuan gendut judes. Otakku mengasosiasikan gendut dengan sifat sayang keluarga, suka masak, murah hati dan lucu. Tapi hanya di perempuan. Kalau di laki-laki, aku jadi ingat sifat rakus, tamak dan loba. [Kok bisa gitu ya??]

Jadi, semua perasaan nggak menyenangkan karena kelebihan berat badanku datangnya bukan dari diriku sendiri (kecuali yang berhubungan dengan ngeluarkan uang demi beli banyak baju baru). Yang bikin sumpek tu cara orang menatapku, pegang-pegang lemak di pipi-lengan-perutku dan komentar mereka. Sekali dua aku menther, nggak ngefek, tapi berulang-ulang? Selama bertahun-tahun??

Untung aku nggak meletus.

Pandanganku tentang isu kekayaan lemak ini bisa dirumuskan dalam 4 kata: There’s More To It.

Seperti juga pandanganku ke profesi guru les, junk peninggalan orang tua, barang lungsuran, barang bekas, barang sampah, segala sesuatu yang gratisan, laki-laki nggak mapan–oke, sepertinya semuanya. Ada yang tersembunyi dalam semua yang kusebutkan tadi. Yang luput dari mata. Seperti bungkus kado yang kubuat dari kertas alas kaki tempat cuci mobil atau kembang dari tas berkatan atau barang lungsuran yang bisa kubaguskan. Kekayaan batin yang kurasakan setiap kali ‘nemu’ yang tersembunyi itu.

Mengingat tebalnya lemakku, mungkin butuh waktu agak lama untuk ‘nemu’ harta karunnya. Yang bisa kukatakan sekarang adalah: tubuh gendut memaksaku untuk kerja keras demi tetap bisa jadi perempuan yang menarik seperti saat langsing dulu. Jadi ekstra peduli sama aroma tubuh. Warna-warna apa yang bagus di kulitku. Sangat berhati-hati milih pakaian. Selamat dari impulse berpakaian yang nggak pantas untuk umurku.

Wajahku sekarang menghadap ke arah keindahan yang adanya di luar tubuhku atau perempuan lain. Seperti apa rumahnya? Is she good with children? Suaranya merdu? Kata-katanya santun dan terpilih? Makanan-minuman seperti apa yang keluar dari dapurnya? Tamu-tamunya terurus dengan baik? Gimana pengelolaan uangnya? Barang-barang seperti apa yang dia bawa dalam tasnya?

Semua yang lepas dari pasal berat badan.

image
Warnaku: kuning kunyit (2015)

Langsing atau gendut, semua perempuan sama menuanya. Makin keras kita berusaha bersaing dengan para gadis, makin nggak sedap dipandang. Perempuan anggun–mau gendut atau langsing, tua atau muda, putih atau gelap, fashionable atau nggak, cantik atau biasa-biasa saja–tetap enak dilihat. Kalau pilihannya Gendut-Tapi-Anggun atau Langsing-Tapi-Nggak-Ada-Anggun-Anggunnya-Blast, aku milih gendut.

Kita punya Hari Perempuan Gendut Nasional?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s