5 Keputusan Finansial Pintar Saat Gadis

Di umur 40 ini–5 tahun setelah menikah–aku ada dalam posisi keuangan yang bener-bener mbleset dari perkiraanku. Usaha kursusan dengan seorang teman merugi dan tutup setelah 4 tahun. Jangankan punya rumah, tabungan buat DP pun ludes. Nggak punya penghasilan dan harus sangat berhemat dengan gaji suami yang <5 juta per bulan demi njaga rumah tanggaku dari hutang.

Situasi yang sebetulnya bisa kuhindari.

Aku ingin yang masih gadis, bukan PNS, bukan karyawan perusahaan bonafide dan nggak lagi nunggu-nunggu suami kaya, belajar dari pengalamanku.

1. Buka reksadana atau tabungan berjangka minimal 10 tahun begitu punya penghasilan sendiri

Aku bisa nabung. Sejak masih kuliah pun punya tabungan. 14 bulan jadi sekretaris dengan gaji 800 ribu, bisa nyisihkan 1,8 juta. Itu kerja bawa mobil, pulang-pergi lewat tol. Dengan ngajar di kursusan kecil lalu jadi guru dan interpreter freelance, bisa nyicil motor, bayar asuransi dan ngumpulkan 30 jutaan dalam 7 tahun. 7 tahun juga bawa mobil; perawatan dan pajaknya kutanggung. Andai sejak mulai kerja bawa motor, tabunganku bisa 3x lipatnya.

Sekarang aku tahu, bisa nyisihkan penghasilan aja nggak cukup. Yang harus diusahakan itu nyisihkan untuk mencapai jumlah yang besar, cukup buat DP rumah atau mbangun sendiri, DP mobil baru atau beli bekas, biaya pendidikan tinggi anak-anak, biaya mantu dan dana pensiun. Itu minimal. Lebih bagus lagi kalau bisa buat naik haji.

Tabungan yang bisa ditarik sewaktu-waktu akhirnya jadinya ya ditarik sewaktu-waktu. Kupakai buat bayar pajak mobil, menghilangkan penyok dan tanda mata keserempet, ngutangi teman dan saudara, beli barang perempuan yang sekali beli habis ratusan ribu, jalan ke mal, traktiran, ikut 2 konferensi yang makan jutaan, beli peningsetku, bayar perias manten; semua yang kecil sekali–kalau nggak bisa dibilang nggak ada–kontribusinya bagi keuangan rumah tanggaku

2. Bangun Credit Score yang terpuji dengan satu bank

Baiknya jangan berasumsi bisa punya rumah, mobil atau usaha tanpa bantuan bank atau lembaga pembiayaan lain. Sedikit sekali yang bisa seperti itu. Jadi bangun credit score (angka kesanggupan mbayar hutang) di bank yang sekiranya mau ngasih kita hutang. Jangan banyaknya ATM atau hadiah buka rekeningnya yang dijadikan patokan milih bank.

Ini yang seharusnya kulakukan dulu-dulu:

  • Mempertahankan 1 rekening di bank yang nggak ngeremehkan pekerja freelance sepertiku
  • Memastikan kelancaran aliran keluar-masuk uang di rekening itu
  • Kalau memang nggak bisa terus nambah jumlah saldonya, ngusahakan untuk nggak kurang dari 1-3 juta
  • Buka tabungan berjangka atau deposito di bank itu
  • (Ada yang nyarankan ambil kartu kredit. Aku nggak suka kartu kredit)

Seingatku aku pernah punya rekening di BNI, BCA, Bank Niaga, Bank Mega dan Bank Muamalat. Sekarang di Commonwealth Bank. Pernah punya deposito di Bank Mega dan Muamalat. Pernah buka tabungan berjangka di Bank Niaga tapi bertahan hanya 3 bulan. Keputusan-keputusan semburat yang sama sekali nggak ada untungnya buatku. Dulu nggak, apalagi sekarang.

3. Koleksi perhiasan emas

Ini kukasih tahu: Penggadaian dan toko emas adalah sahabat perempuan yang nggak punya penghasilan atau penghasilannya nggak tetap. Peluang terbesar ngumpulkan emas-emasan adalah saat gadis. Lebih baik daripada ngoleksi tas/sepatu/aksesoris.

Setelah nikah aku baru sadar sesadar-sadarnya kalau yang harus kupikir bukan cuma tagihan bulanan dan uang belanja. Yang lain masih buanyaaak. Transportasi dan uang bensin bukan cuma buat pulang-pergi kerja, ada mertua yang harus disambangi, ada acara keluarga di luar kota. Kontrakan, mobil, motor, handphone, laptop bisa rusak dan harus diperbaiki atau diganti. Ada perabotan dan peralatan elektronik yang harus dibeli atau diperbaiki. Ada sakit yang butuh dokter, obat dokter, laboratorium dan rumah sakit. Ada Lebaran. Ada mertua yang harus dibantu. Ada keluarga/kerabat yang nikah, mantu, melahirkan, opname dan meninggal. Dan kita nggak bisa selamanya numpang di rumah orang tua, ngekos atau ngontrak. Ini belum kebutuhan anak.

Jangan berharap uangnya pasti ada saat butuh. Juga jangan ngandalkan suami. Uang tunai, meski disimpan di bank, cenderung habis untuk pengeluaran rutin. Koleksi emas-emasan = jaring pengaman bagi perempuan menikah dan rumah tangganya.

Yang sangat tolol dalam kasusku: sebagian perhiasan emasku kujual saat masih gadis karena aku nggak suka perhiasan apalagi emas. Hampir nggak pernah kupakai. Waktu itu kupikir, lebih baik kuuangkan, buat beli yang lain, yang pasti kupakai.

Pure, genuine idiosyncrasy.

4. Tetapkan hati untuk kerja di rumah atau kerja keahlian atau membangun corporate career seawal mungkin

Sepertinya ini kesalahan terbesarku. Aku milih jurusan Hubungan Internasional tanpa tahu apa yang kuinginkan setelah lulus. Kuliah asal lulus. Nggak cari kegiatan yang bisa ngasih aku nilai tambah setelah lulus. Resign dari kerja sekretarisku sebelum dapat pekerjaan lain. Nganggur 1,5 tahun. Ngajar di kursusan kecil saat umurku dah hampir 30 tahun dan terlena dengan kerja freelance yang jelas-jelas nggak bisa kulakukan sampai tua.

Sekarang aku tahu kritisnya menetapkan pilihan karir sebelum menikah atau sebelum umur 30. Tergantung mana yang duluan. Menekuni sesuatu yang dipandang remeh seperti ketrampilan rumah tangga selama 10 tahun lebih menghasilkan dibanding melakukan sesuatu yang besar tapi berganti-ganti atau on and off. Hari ini karyawan kontrak. 3 tahun berikutnya jualan segala macam barang sambil coba tes PNS. Karena nggak ada hasil, jadi karyawan lagi. Belum setahun, pindah ke perusahaan lain. Belum 3 bulan, pindah perusahaan lain lagi. Dapat setahunan nganggur lagi. Dalam 10 tahun apa yang bisa kita dapatkan?

Aku nggak sebodoh itu tapi sayang nggak cukup pintar. Sejak ngerasakan jadi sekretaris, aku tahu pekerjaan kantoran bukan untukku. Berhenti lah aku ngejar corporate career. Meski telat, aku nemu pekerjaan yang kucintai: ngajar Bahasa Inggris. Dapat 3,5 tahun ngajar, sudah kutetapkan hati: kerja keahlian. Yang nggak kuperhitungkan 8 tahun lalu adalah: kerja keahlian berbasis freelance butuh jam kerja panjang (nggak mungkin dengan suami yang emotionally-insecure), stamina Hercules, network luas dan marketing skill yang handal. Aku nggak punya semuanya. Pilihan yang lebih menguntungkanku adalah nambah kompetensi dan kualifikasi demi bisa dapat posisi tetap di kursusan yang bisa membayarku mahal atau akademi & perguruan tinggi yang bisa ngasih keuntungan jangka panjang.

5. Buat investasi-investasi kecil yang bisa ngasih pemasukan rutin

Kursusan pertama tempatku ngajar menjual saham sebagian cabangnya kepada para pekerjanya. Aku membeli saham di 3 cabang. Bukan jumlah besar tapi mengingat itu kubeli dengan honorku yang waktu itu 700-800 ribuan per bulan, prestasi lah. Kesalahanku adalah menjual semuanya ketika aku resign. Pelajarannya: kalau memang ngasih penghasilan tambahan, meski kecil, pertahankan.

Nggak harus naruh modal di orang lain. Aku punya sepupu yang terima kreditan segala macam barang dari lingkungan tetangganya. Aku punya beberapa teman yang buka kursusan di rumahnya. Adik temanku terima pesanan kue kering dan jual jajanan anak SD di depan rumahnya. Mantan muridku terima job merias dan jualan kosmetik. Sekarang makin banyak orang yang dapat uang tambahan dari toko online. Kemungkinannya banyak. Yang harus disiapkan hanyalah konsistensi untuk menjalankannya dalam jangka waktu lama.

Investasi-investasi kecil seperti ini mungkin nggak ada artinya ketika kita gadis dan bekerja. Merasa dengan bayaran dari pekerjaan sudah lebih dari cukup. Percayalah, besar sekali artinya buat perempuan setelah menikah. Berfungsi sebagai Plan B ketika Plan A kita (contoh: tetap bekerja setelah menikah atau punya suami mapan) harus kita abort karena satu dan lain hal.

IMG_8951
Foto dari Better Homes & Gardens

Yang ingin kukatakan adalah: suka nggak suka, ruang gerak perempuan jadi sempit setelah menikah. Karena egoisnya laki-laki, tugas biologis untuk melahirkan dan menyusui, dan yang diajarkan Islam, karena tanggung-jawab dan kepemimpinannya atas domain domestik.

Bekerjalah untuk kebaikan rumah tanggamu sejak gadismu.

Nggak perlu nunggu ketemu jodoh.

Jangan nunggu kepepet.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s