6 Cara Memanfaatkan Barang Nganggur

Kurasa aku lahir dengan otak laki-laki. Nggak sanggup disuruh multitasking. Konsep peran ganda perempuan bikin aku panik dan berkeringat dingin. Berhenti bekerja setelah menikah hanya bisa kutunda.

Setelah ada suami, almarhum bapakku ambruk karena stroke, ibuku bolak-balik masuk rumah sakit karena diabetes yang berkembang jadi gagal ginjal, aku jadi sangat lamban. Bekerja dengan pikiran terpecah-belah sangat menyiksaku. Jam ngajar yang sudah sangat jauh berkurang akhirnya kunolkan. Lalu keduanya meninggal.

Kuputuskan untuk nggak kembali ngajar. Aku terpukul dengan kematian dua-dua orang tua, ketitipan 2 ponakan dan–meski nggak pernah tegas melarangku kembali bekerja–itulah yang diinginkan suamiku.

Aku depresi selama berbulan-bulan.

Nggak bisa kupastikan mulainya kapan. Terjadinya pelan-pelan. Dari nangis >1 kali setiap hari, nggak nafsu makan, terus-terusan merasa letih sampai nyaris nggak pernah keluar rumah, seharian di tempat tidur, males ngomong, nggak mau ketemu orang selain suami/adik/ponakan/Mbak Tin.

Yang paling menyiksa adalah perasaan nggak berharga, nggak berguna dan takut sama masa depan. Aku masih berfungsi tapi tanpa semangat dan daya juang yang dulu dikagumi orang-orang di sekelilingku.

Persisnya kapan depresiku itu sembuh pun aku nggak tahu. Seperti mulanya, akhirnya juga terjadi pelan-pelan. Tapi aku yakin proses sembuh itu dimulai dengan menulis; bertukar pesan singkat di satu grup BBM yg terdiri dari 4 orang: aku, 2 sepupu berkebutuhan khusus yang menetap di Australia dan seorang polisi yang gajinya habis buat nyicil hutang 200-an juta di bank.

Dari situ merembet ke blog, kewarganegaraan aktif di Negara Facebook, page untuk usaha rental rumah liburan, garage sale online, akun Instagram–dan yang sekarang sedang kurintis–toko barang upcycle dan rental event rumahan. Kalau harus kurumuskan dalam dua kata, obat jiwaku adalah: Barang Bekas.

Ijinkan aku mengilustrasikan kebaikan dalam barang bekas di postingan ini.

Setelah ibuku meninggal, kuhabiskan waktuku bersih-bersih, nata perabotan dan mengorganisasi seisi rumah. Sisanya kupercayakan ke Mbak Tin. Kupilih yang paling hemat tenaga tapi impactful karena di umur 40 ini jatah energi fisikku setara dengan mbah-mbah 65 tahun.

Di tanganku, semua barang punya tempatnya sendiri. Kukelompokkan. Yang sampai aku tahu aku punya 30-an handuk. Akhirnya kuputuskan ngumpulkan semua yang jarang atau nggak terpakai di lantai atas yang sangat panas. Lihat segitu banyaknya barang nganggur, terlintas lah di kepala, “Kenapa nggak dijual aja ya?”

image

Strategi#1: Kumpulkan semua yang tidak atau jarang dipakai di satu tempat

Mulailah aku kerja. Barang-barang pribadi seperti baju, kerudung, aksesoris, tas, sepatu, handuk kubagi-bagi dalam paketan. Misal: 1 kerudung+1 aksesoris. Nggak kujual per item. Kupastikan keserasiannya, kukemas dengan sisa plastik kartu undangan mantenanku dan tas kertas/kain/plastik (bukan tas kresek) yang kukumpulkan sejak masih gadis. Per paketnya kujual Rp10.000 sampai Rp75.000. Kutitipkan teman yang tinggal di lingkungan kelas bawah. Barang-barang ini bukan barang-barang branded. Nggak laku di lingkungan sosialku. Sejauh ini sudah menghasilkan Rp770.000.

image

Strategi#2: Jual barang-barang kita yang nggak terpakai dalam paketan; kemas dengan tas kertas, kain atau plastik untuk nambah nilai jualnya.

Di antara barang-barang nggak terpakai itu ada juga barang baru. Saat akhir bulan ada undangan mantenan dari orang yang kukenal sambil lalu, kucari barang yang pantas-manfaat bagi manten baru yang hidup ngekos: dispenser air minum. Dan saat kertas kado yang kubeli ternyata nggak cukup, kutambal dengan kertas kado sisa setahun lalu. Biar nggak terlalu kentara tambalannya, kututup dengan bunga kertas yang kubuat sendiri. Juga dari kertas sisa.

image

Strategi#3: Jangan langsung ‘menyingkirkan’ barang baru yang kita nggak suka. Simpan dengan wadahnya. Bisa buat kado.

Tadinya aku ingin kreatif. Dispenser itu ingin kubungkus dengan kertas bekas yang bukan kertas kado. Tapi nggak cukup pe-de buat nyoba. Takut nggak pantes. Setelah lihat ide-ide bungkus non-kertas kado dari Pinterest, aku merasa: “Bisa jadi bagus ya ternyata.”

image

Strategi#4: Buat akun Pinterest, tempat terbaik untuk mencari ide dan inspirasi.

Bermodal kertas alas kaki dari tempat cuci mobil, tas berkatan dan pita/daun/manik yang kupretheli dari parcel Lebaran dan aksesoris rusak, aku bisa bikin 4 amplop berhias. Satu dah kupakai buat ngasih kenang-kenangan dudukan foto ke mantan muridku yang bimbang harus berhenti atau terus bekerja. Satu kupakai buat mbungkus jepit rambut yang kubawakan buat Gwen, gadis cilik anak Niken, teman baikku. Ada orang-orang yang sangat menghargai pemberian yang datangnya dari thoughtfulness dan kerja tangan, seperti Niken. Pastikan kita dikelilingi orang-orang seperti ini.

image

Strategi#5: Kumpulkan aksesoris rusak, hiasan kado/parcel dan segala macam kertas tebal/cantik darimanapun datangnya.

Lihat respon Niken, otakku kerja di level yang lebih tinggi. Mungkinkan barang-barang sampah jadi bungkus suvenir atau jajan yang dibagikan untuk acara-acara yang nggak terlalu besar? Aku belum berani memikirkan mantenan. Di negara kita, industri mantenan adalah industri trilyunan rupiah yang sebel lihat orang-orang ngirit-minded sepertiku. Kucoba bikin paperbag dari kertas kalender tebal.

image

Nggak smart lah bikin kalendar 12 lembar dari kertas setebal itu. Memproduksi untuk nyampah. Ini kalendernya sekolah prestisius di Surabaya. Pilihan-pilihan seperti ini nunjukkan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di lingkungan itu. Jangan bangga dulu bisa nyekolahkan anak di sekolah prestisius. Anak-anak ini kurang terekspos ide-ide progresif seperti sustainability.

Strategi#6: Dekati smart-progressive, jauhi prestige

Aku yakin dengan nambah jam terbang, barang bekas nggak cuma membantuku berhemat tapi juga menghasilkan uang. Barang bekas bisa menghasilkan barang-barang murah dan event rumahan yang sangat ramah anggaran. Aku hanya perlu memastikan derajat kemanfaatan dan faktor kerennya. In sya Allah.

Catatan Penutup: Sempat berniat bikin tutorial barang-barang yang fotonya ada disini. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, aku ragu sekali ada yang mau repot bikin. Apa yang bisa kubilang, beli memang jauh lebih praktis. Yang kubuat ini pun kujual @Rp1.000. Jadi kuurungkan niatku. Mungkin lain kali. Atau kalau ada yang memohon.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s