3 Trik Ndandani Kamar Anak Gadis

Perempuan itu istimewa. Sebagai guru dan budhe aku melebihkan anak perempuan. Sebagai anak aku melebihkan ibuku (walaupun aku lebih berat ke bapakku). Ke orang yang lebih tua, aku melebihkan ibu-ibu dan mbah-mbah putri. Ke yang jauh lebih muda pun aku melebihkan yang perempuan. Ke teman sebaya yang nggak; laki/perempuan kuperlakukan sama.

Paling terlihat dalam nadaku bicara dan derajat ketegasanku yang sangat terkenal itu. Di kelas-kelas young learners aku selalu mendengung-dengungkan “Orang-orang yang beriman dan beradab antri; girls first! ketika bel pulang bunyi. Kebijakan yang membuatku sangat ‘ngetop’ di kalangan muridku yang laki-laki.

Kebijakan Lebihkan Perempuan ini kubawa dalam menata rumah. Dua keponakan sempat tinggal beberapa bulan di kontrakanku. Perempuan satu, masuk umur remaja. Kamar kusiapkan untuk dia padahal dia berbagi kamar dengan adiknya yang laki-laki. Sayangnya dia kesulitan menjadi pribadi yang rapi. Jadi aku membatasi upayaku ndandani kamarnya di masangkan sprei dan selambu yang cantik. Buat pribadi disorganized, makin banyak barang kita masukkan dalam space-nya, makin berantakan jadinya.

Setelah tak lagi tinggal denganku, aku punya kesempatan menata ulang kamar itu. Dan di postingan ini aku ingin nunjukkan inilah yang sebenarnya ingin kusiapkan untuk seorang anak gadis.

Pertama, go for pink. Bukan penggemar pink tapi harus kuakui warna ini sepertinya diciptakan untuk anak perempuan dan gadis. Andai barang-barang yang kupakai ndandani kamar ini harus beli baru semuanya, bisa pink semua kecuali temboknya. Tapi karena–tahu sendiri–aku nggak suka bela-beli, kuusahakan mix & match warna yang paling masuk dengan pink.

Jangan merendahkan warna pink.

Kedua, pakai standar Barat. Standar mereka jauh lebih fungsional sekaligus lebih sedap dipandang. Bisa dipecah dalam 3 elemen penting:

  • Focal Point

Ini konsep yang baru kutahu sejak belajar dekorasi dan desain interior dari internet setahun ini. Artinya pusat perhatian, harus ada satu di tiap ruang. Biasanya headboard [=papan vertikal di bagian kepala tempat tidur] yang dijadikan focal point. Foto dan lukisan berukuran besar atau kain dan karpet yang digantung juga bisa.

  • Bedding

Standar mereka berlapis-lapis. Mulai dari bed skirt, sprei, selimut, duvet sampai throw. Bantal aja 3-4 deret, totalnya minimal 5 biji. Tapi setelah kuputuskan untuk mendekati standar mereka, jadinya memang bagus. Kucoret selimut dan throw. Buat apa, ini negara tropis. Hotel yang kulihat kaku manut standar negara 4 musim.

  • Nightstand

Ini juga konsep yang baru aku tahu setahun terakhir ini. Standar kita kan lemari, bukan nightstand. Sampai umur 39, tiap kali bangun tidur, aku mesti mbolak-mbalik bantal buat cari ikat rambut, HP atau kacamata. Kok ya nggak kepikiran naruh meja kecil di samping tempat tidur buat naruh barang-barang itu saat sudah ngantuk supaya gampang carinya pas bangun? Kurasa inilah maksud ayat Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa agar kita saling mengenal. Biar tololnya nggak nemen-nemen.

Nggak harus meja. Aku dah lihat mulai dari koper, batako, kursi, tangga, gentong sampai buku yang ditumpuk buat dijadikan nightstand di internet. Kemungkinannya nggak terbatas. Yang kupakai disini rak sepatu.

Rak sepatu bisa nampung lebih banyak barang daripada meja kecil.

Ketiga, tambahkan aksesoris. Kamar ini kecil, nggak mungkin dimasuki meja belajar, rak buku dan lemari. Jadi nightstand-nya harus merangkap storage. Makin banyak muatnya, makin bagus. Rak sepatu bisa buat naruh banyak buku dan kotak. Sebisa mungkin kucari yang masuk dengan pink meski harus minjam barang-barang dari dapur.

Kotak yang kupakai mbungkus seserahanku 4,5 tahun lalu. Nampan buat naruh barang-barang kecil seperti HP, charger dan kacamata.

Perubahan-perubahan kecil pun bisa membawa dampak besar. Yang kulakukan hanya mengeluarkan rak buku, menggantinya dengan rak sepatu dan menambahkan beberapa barang–nggak satupun beli. Semua orang bisa.

Aku meyakini bahwa ketika seorang anak perempuan tumbuh besar dengan keyakinan bahwa ia istimewa karena ia perempuan (bukan karena ia cantik dan pandai menarik perhatian lawan jenis), ia mampu menghindari situasi dan orang–terutama lelaki–yang hanya akan memanipulasinya.

Yang punya anak perempuan, tolong dicoba. Jangan cuma didandani dengan baju-baju lucu dan pita; diajari untuk menarik perhatian. Ruang yang kita ciptakan untuk anak-anak kita membentuk kebiasaan dan kemampuan berpikir mereka. Seperti soal nightstand tadi.

Jangan kalah dengan uang yang sedikit. Jadikan anak-anak perempuan kita berbahagia terlahir sebagai perempuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s