Cerita Permak Kursi Teras Lungsuran

Saat kukatakan seisi rumahku barang tinggalan dan lungsuran, itu sungguhan. Yang beli cuma spring mattress (tanpa bed), rak lepas pasang dari besi, kipas angin, printer dan beberapa barang dapur yang bisa dihitung jari. Kompor gas pun nggak beli.

Ada dua lagi kategori barang yang ngisi kontrakanku: barang hadiah dan barang sampah. Contoh barang hadiah adalah suvenir manten, oleh-oleh atau hadiah promosi. Barang sampah ya sampah, yang sama orang normal dibuang. Contoh: kardus jajan, tas tahlil, wadah Pringles, toples kopi/creamer/selai, botol sirup, botol You C-1000, kaleng snack, tas kresek, kartu undangan mantenan, wadah plastik yang tutupnya hilang, hiasan parcel. Pemulung-minded bukan? 

Topik ini kusimpan untuk post lain.

Kali ini aku ingin membagi caraku menyulap kursi lungsuran yang aku sendiri Wow! lihat hasil akhirnya. Sayangnya kondisi awalnya cuma bisa kugambarkan dengan kata-kata. Nggak terpikir untuk ambil gambar karena nggak kelihatan potensinya saat pertama kali lihat. Joknya menguning dan penuh bercak, rangka besinya menghitam dan lapisan bawah jok terburai. Masih kuat, tampilannya yang jelek.

Begitu uangnya ada, kukirim ke Pak Gufron, tukang bekleed dekat rumah dengan kursi tamu panjang, 6 kursi makan besi, 3 kursi makan kayu dan mejanya untuk ganti jok dan plitur. Habis Rp2.900.000. Aku minta material jok warna putih dan coklat. Polos. Dua warna itu, polosan, di mataku kelihatan elegan; kesan yang kucari dari segala bentuk desain. Mulai dari desain interior sampai fashion.

Setelah ganti jok, kelihatan mendingan, tapi belum “Keren!” untuk standarku.

Setelah ganti jok

Di Tahap 1 nata kontrakan–0 sampai 6 bulan pertama–kupasangkan dengan kursi panjang tamu dari kayu. Ada kalau 4-5 kali pindah posisi. Suamiku cuma bisa geleng-geleng. Ditambah bantal pun masih belum ngangkat.

Seingatku ini posisi pertamanya sekitar setahun lalu

Lepas itu kupindah ke teras karena tamu-tamu suamiku nggak ada yang mau masuk ke ruang tamu yang adanya di tengah rumah. Mereka milih duduk di atas motornya, di depan rumah. Bikin si nyonya rumah jadi nggak enak hati dan mengevaluasi penataannya.

Kurang lebih di saat ini lah aku mulai masuk Tahap 2 dari penataanku. Aku mulai mengusahakan ruang-ruang rumah yang lebih fungsional, dengan minimal satu Faktor Wow. Aku mulai merasa sangat nggak puas di sekedar bersih dan rapi.

Beberapa minggu dua kursi dan mejanya itu di teras, terpikir untuk mengganti rangka mejanya dengan guci kayu.

Ilham kedua datang beberapa minggu kemudian, yaitu: ngganti warna rangka kursi dan mejanya dengan cat. Langsung dapat tanpa mikir: warna tembaga. Di kepalaku ada tiga warna yang elegan untuk bahan logam; emas, perak dan tembaga. Kupilih yang paling bisa ‘berbaur’ dengan elemen kayu. Menurutku itu tembaga.

Baru selesai dicat. Aku minta Pak Rosidi untuk ngecat satu lapis saja. Hasil akhirnya lebih natural (kalau warna dasarnya hitam) dibanding 2-3 lapisan cat.

Setelah berwarna tembaga, aku mulai merasa puas dengan tampilan kursi lungsuran ini–juga tampilan teras kontrakanku–tapi tetap merasa ada yang kurang. Nggak tahu apanya.

Faktor Wow baru kudapat setelah sarung bantal kursi kuganti.

Tadinya sarung bantalnya putih dengan aksen ungu yang putihnya masih terlihat baru, bahannya halus, aksennya cantik. Kuganti dengan sarung bantal warna coklat pucat (bahannya dari serat Enceng Gondok) yang tampilannya nggak menarik mata tapi kok ya malah mem-wow-kan kursi sekaligus terasku.

Setelah ganti jok, pindah ke teras, ganti kaki meja, dicat tembaga dan ganti sarung bantal

Dibandingkan kondisi awalnya, ini bukan lagi kasus refinish meski cuma ganti jok dan cat. Ini dah layak disebut makeover. Kemampuan menciptakan makeover serupa ini yang aku kepingin punya. Nggak bisa hanya dengan ngoleksi foto memang. Satu-satunya cara harus nambah jam terbang.

Ada yang mau kubantu nata rumah? Atau terasnya mungkin? Atau cari ide me-makeover perabotan? Disini ada desainer amatir yang harus nambah jam terbang dan sudah belajar ngecat dari Pak Rosidi, tukang serba-bisa langganannya dan almarhum ibunya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s