Caraku Punya Home-Office Gratis

Mungkinkah bikin home office tanpa ngeluarkan uang sama sekali? Mungkin. Kalau bikin office tanpa ngeluarkan uang sama sekali? Nah, kalau yang ini aku nggak tahu. Belum pernah nyoba. Yang sudah kubuktikan sendiri yang pertama.

Home office yang memanfaatkan barang-barang yang sudah ada; nggak ada yang beli
Home office yang memanfaatkan barang-barang yang sudah ada; nggak ada yang beli

Ini caraku untuk punya home office yang nggak malu-maluin tanpa beli-beli.

1. Alami Sendiri

Mario Teguh pernah bilang, “Semakin kita menempel ke sebuah masalah, makin terang jalan keluarnya.” Kira-kira seperti itulah. Aku lupa kata-kata persisnya. Dalam konteks HomeOffice-0-Rupiah, untuk menghasilkan sesuatu tanpa mengeluarkan uang, syarat pertamanya adalah: uangnya memang nggak ada.

TIP: Buat project justru ketika uangnya nggak ada atau nggak cukup

Nggak bisa dengan nggak ada uang aja sih. Ada lagi: mengalami berpuluh tahun hidup di rumah besar yang sangat disorganized, nggak punya space untuk kerja dan filing. Aku ngalami sendiri mbongkar satu rumah buat cari Kartu Keluarga; ngetik di kasur, naik ke lantai atas buat nge-print, turun lagi ke bawah buat ngambil kertas, naik lagi, hadaaah; keliling lantai bawah buat cari pulpen dan kertas untuk nulis pesan telpon dan nggak nemu! Jadi ketika akhirnya aku keluar dari rumah orang tua, impian ngempet-ku adalah punya home office.

Mejanya meja makan, kursinya kursi makan dan kursi meja rias
Mejanya meja makan, kursinya kursi makan dan kursi meja rias

2. Tinggal Disitu Selama 6 Bulan

Sejak menikah aku dah tiga kali pindah kontrakan. Ternyata penataan rumah yang paling bagus, paling fungsional, paling pas, baru bisa kudapatkan setelah tinggal di rumah itu minimal selama 6 bulan. Enam sampai 12 bulan pertama wajib mau mutar-balik perabotan, harus uji coba untuk nentukan what works dan what doesn’t. Jangan berhenti di bersih dan rapi.

TIP: Rancang penataan yang streamlined (yang nggak maksa penghuninya bolak-balik atau keluar-masuk untuk melakukan sesuatu)

Karena dua rumah pertama terlalu kecil untuk bisa punya home office, begitu aku lihat rumah ketiga yang jauh lebih besar, aku dah merancang home office di kepalaku bahkan sebelum pindah. Di kamar nggak terpakai di lantai 2. It didn’t work. Aku tidak diciptakan untuk rumah 2 lantai. Aku manusia 1 lantai. Ruang gerakku ada dalam radius 2 meter dari kamar. Jadinya pun nggak bagus karena warna tembok dan warna perabotanku nggak saling meng-complement; ungu muda dan coklat tua.

TIP: Cat tembok netral terutama putih paling mengakomodasi padu-padan perabotan

Rak TV era 80-an untuk meja printer
Rak TV era 80-an untuk meja printer

3. Tulis

Semua upaya ngirit harus dimulai dengan proses berpikir yang dalam. Menulis memfasilitasi proses berpikir yang efektif, ada hasilnya, ngasih fokus dan arah. Jadi kutulis apa yang kumau, apa yang kubutuhkan dari home office dan fungsi-fungsi apa yang harus dilakukannya.

TIP: Banyakkan nulis, kurangkan ngomong

Aku ingin space yang streamlined; aku bisa nulis, ngetik dan nge-print di satu ruangan. Segala macam dokumen, nota, tagihan dan kertas tersimpan di ruangan itu. Target: pada saat suami dan ponakanku butuh dan aku nggak ada di rumah, mereka tahu harus cari dimana.

Karena posisinya di ruangan paling depan–yang pertama kali dilihat tamu–ada fungsi ekstra. Harus representatif untuk nerima tamu (tamu-tamu suamiku biasanya nolak masuk ke ruangan tamu yang ada di tengah). Mutlak clutter-free. Aku nggak mau tamu-tamuku lihat kabel laptop bergelimpangan di atas meja atau harus sibuk mindahkan tumpukan buku dan kertas yang berserak ke ruangan lain tiap kali ada tamu.

TIP: Makin terperinci yang bisa kita tuliskan, makin bagus.

Keranjang bekas parcel Lebaran buat nyembunyikan kabel laptop; kaleng buat nyimpan nota dan tagihan
Keranjang bekas parcel Lebaran buat nyembunyikan kabel laptop; kaleng jajan buat nyimpan nota dan tagihan

4. Smart Browsing

Aku bukan seorang desainer. Aku butuh ilmunya. Ilmu gratisan ya di Internet. Apa yang kutulis lah yang nuntun browsing-ku. Yang ku-download gambar-gambar home office yang bisa buat terima tamu, yang nggak jelas-jelas kelihatan seperti ruang kerja, yang barang-barang dan kelengkapannya nggak seperti beli dari Gramedia atau Gading Murni. Aku pakai keyword ‘creative home office’, ‘stylish home office’, ‘home office ideas’, ‘creative room’ dan ‘craft room’ di Google. Dari situ nyabang ke blog-blog dan papan Pinterest.

TIP: Pakai kata-kata Bahasa Inggris untuk keyword pencarian

Ini semua souvenir. Ada yang dari mantenan, tempat sampah mininya dari Ace Hardware. Vasnya dari botol bekas minuman
Ini semua souvenir mantenan. Tempat sampah mininya hadiah dari Ace Hardware. Vasnya dari botol bekas minuman

5. Temukan Feature Khas

Begitu banyak gambar yang ku-download. Terus gimana? Aku pernah baca tip: pilih 1-3 gambar yang paling kita suka. Aku punya caraku sendiri.

10 atau 1000 gambar buatku bukan masalah selama semuanya punya persamaan yang khas. Walau cuma dua gambar tapi kalau nggak ada persamaannya–satu penuh pernak-pernik, satu minimalis–malah bikin bingung. Aku menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk mengamati gambar-gambar yang ku-download.

TIP: Amati lekat-lekat setiap gambar minimal 3 kali (di 3 waktu yang berbeda) sebelum mendeletenya.

Tentukan apa yang bikin kita tertarik ke gambar itu, apanya yang luar biasa bagi kita. Setelah beberapa bulan dan ribuan gambar, aku bisa merumuskan feature khas home-office yang bikin aku jatuh hati. Diantaranya:

  • perabotannya mixed & matched, bukan yang satu set dari pabrik
  • majang satu lukisan/foto/poster/bulletin board/papan tulis ukuran besar
  • makai barang-barang yang nggak biasa untuk organizer seperti gelas, toples, ember galvanis, keranjang rotan, tangga
  • yang color palette-nya putih, hitam, coklat dan merah
Keranjang belanja ini buat nyembunyikan kertas hasil nge-print yang nggak terpakai; hiasan kembangnya dari kerudungku yang diikat dengan karet.
Keranjang belanja ini buat nyembunyikan kertas hasil nge-print yang nggak terpakai; hiasan kembangnya dari kerudungku yang diikat dengan karet.

6. Shop Your Home

Nggak beli berarti memanfaatkan yang sudah ada, memakai barang-barang yang kita punya.

TIP: Kumpulkan semua barang yang nggak terpakai di satu ruangan. Kelompokkan berdasarkan jenisnya.

Sebisa mungkin semua barang yang ada di rumah kita terlihat mata. Jangan disimpan di kardus atau rak tertutup demi memaksimalkan pemanfaatannya. Yang nggak kelihatan mata pasti terlupakan, nggak terpakai.

Aku tahu every single item di rumahku dan aku tahu dimana kusimpan. Minimal aku tahu barang X ada di ruang Y. Waktu aku lihat gelas jadi tempat pensil di foto yang ku-download, aku ingat punya banyak gelas souvenir mantenan nganggur; lihat ember jadi wadah kertas, aku ingat punya kaleng-kaleng nganggur; lihat wadah rotan, ingat punya keranjang nganggur. Aku nggak perlu beli karena aku tahu apa yang kupunya. Alih-alih ke toko, aku ke kamar nggak terpakai di lantai atas yang kujadikan sentra penyimpanan barang-barang nganggur.

Guci yang jadi dudukan pot dengan bantuan album foto mantenanku
Guci yang jadi dudukan pot dengan bantuan album foto mantenanku

Jadilah home office yang streamlined dan nggak malu-maluin dilihat tamu. Bukan cuma karena rapi tapi juga karena sedap dipandang mata meski nggak biasa; panci presto yang hilang tutupnya kujadikan wadah kertas-kertas masuk seperti brosur, leaflet, undangan, surat.

Wadah tanah liat buat ngeliwet jadi pot; baskom jadi dudukannya
Wadah tanah liat buat ngeliwet jadi pot; baskom jadi dudukannya

Yang harus kubuktikan berikutnya adalah apakah cara yang sama bisa kupakai untuk mendekor ulang rumah tinggalan orang tuaku di Pacet. Dekorasi yang bisa naikkan harga sewa dan occupation rate-nya. Tanpa beli-beli.

Ayo, tantang diri sendiri mbaguskan rumah tanpa uang. Atau mungkin dah pernah? Atau malah dah biasa?

Comment dong …

Advertisements

6 thoughts on “Caraku Punya Home-Office Gratis

  1. Maybe sekali kali aq harus jadi pemulung sampah/ barang bekas, karena kadang ada juga barang yg kita butuhkan untuk dekor, tidak selalu tersedia

    1. That’s the very idea, Gin: use what you have to substitute what you don’t have. Disitulah tantangannya. Aku dah lihat ribuan repurposing dan upcycling ideas yg sama sekali nggak terpikirkan olehku (dan kebanyakan orang kita). Coba kamu subscribe Hometalk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s