7 Pajangan Irit

Alm. bapakku pensiunan kolonel polisi yang teguh memegang prinsip. Salah satunya:

“Kalau tidak laku dijual lagi dengan harga lebih tinggi, jangan beli baru, beli bekas!”

Sepanjang hidupnya, kalau ditotal, Ayah 6 kali beli mobil. Nggak ada yang baru, bekas semua. Barang-barang elektronik seperti TV atau kulkas juga nggak mau beli baru.

Bagaimanapun aku ini anaknya. DNA mana yang kuambil dari bapakku kan bukan aku yang milih. Jadi prinsip Ayah yang satu itu nggak cuma jadi prinsipku juga tapi kunaikkan ke level yang lebih tinggi:

“Kalau nggak laku dijual lagi, nggak usah dibeli!”

Suatu hari adik perempuanku nunjukkan tas Guess barunya. Dia nyuruh aku hati-hati mbawanya sambil bilang, “1.5 juta ni, Kak!” Komentarku, “Kalau dijual lagi laku berapa?”

Demikian pun tetap ada aja lah saat-saat aku nggak bisa nahan diri; beli sesuatu yang aku tahu nggak bakal laku kujual lagi. Seperti menjelang Valentinan kemarin. Aku nggak kenal apa itu Hari Kasih Sayang, nggak pernah merayakan. Lihat mawar di Empat Penjuru Mata Angin, dimana-mana, hatiku ini yang nggak tahan. Ku-SMS lah suamiku di tempat kerjanya.

‘Mas, pulang nanti belikan aku mawar. Nggak merah nggak apa. Pokoknya mawar.’

Jawaban suamiku.

‘Buat apa?”

Jengkel.

‘Buat kukunyah. Kok buat apa sih, Mas?!’

Di Kayoon, suamiku SMS.

‘Mawarnya ada yang putih, ada yang merah. Yang mana?’

DNA bapakku keluar.

‘Yang harganya lebih murah yang mana?’

Suamiku pulang bawa dua-duanya.

image

Rp45.000 untuk 9 tangkai mawar. Bertahan 3 hari. Lha, kalau aku ngotot harus selalu ada mawar hidup di rumahku, itu dah Rp450.000/bulan. Hampir sama dengan gajinya Mbak Tin padahal mawar-mawar ini kan nggak bisa cuci baju, setrika dan masak. Jadi that’s it, nggak lagi. Beli bunga maksudku. Rumah indah tetap harus diusahakan. Otak ngiritku pun berputar.

Mulai dari depan rumah kontrakanku. Ada satu tanaman yang mau mati. Upayaku dan Mbak Tin untuk menyelamatkannya nggak berbuah. Tetap aja mau mati. Daripada mati nganggur, daunnya kuambil, kutaruh di vas. Tak lama kemudian aku dikasih rambutan sama tetangga, tangkainya kumasukkan sekalian di vas itu.

image

Aku sangat puas dengan tampilannya, waktu aku beli kelengkeng, tangkainya nggak kubuang.

image

Tangkai-tangkai kering dapat dari depan rumah kukumpulkan.

image

Aku mulai bersemangat cari-cari tanaman buat ganti mawar, yang nggak pake beli. Lebih bagus lagi, yang nggak ada matinya, nggak butuh air. Salah satu rumah tinggalan orang tuaku ada di Pacet. Berbulan-bulan nggak pernah didatangi karena ibuku sakit. Waktu aku datang setelah Bunda meninggal, dipenuhi semak-semak tinggi. Kukumpulkan, kutaruh di guci gede, biar dramatis.

image

Ada 2 guci berisi semak kering seperti ini. Nah, yang satu kutaruh di ruang tengah, kulihat-lihat kok kebesaran-kegemukan dibanding ruangannya, jadi kelihatan nyesek-nyesek’i. Akhirnya semaknya kugunduli, kusisakan di ujung-ujungnya.

image

Toh, pada akhirnya, tangkai kering tetap tak bisa menggantikan bunga. Jadi waktu aku lihat bunga-bunga cantik ini di dekat loket PDAM Waru, aku tolah-toleh memastikan nggak ada yang lihat, kupetik cepat-cepat terus kabur.

image

Pas minggu kemarin nengok rumah tinggalan di Pacet, lihat bunga-bunga liar ini di samping garasi.

image

9 tangkai mawar Rp45.000 tadi nggak kubuang. Kukeringkan, kupajang lagi seperti waktu segarnya. Want not; waste not..

image

I love my home!

Uang sedikit?

Pakai bunga liar, tangkai dan semak buat pajangan. Rumput juga bisa. Cari wadah yang nggak biasa buat vas. Aku pakai mulai dari guci sampai gelas dan botol bekas. Makin nggak biasa, makin ngangkat tampilan pajangan irit kita tadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s