Rumah Barang Tinggalan

Tahun lalu aku kehilangan bapak-ibu; Ayah Maret, Bunda Agustus. Rumah induk 2 lantai-9 kamar-3 gudang jadi hak adikku laki. Dia pribadi minimalis–tak suka perabotan–dan ingin menjual rumah itu termasuk isinya. Rumah adikku perempuan bahkan tak cukup untuk barang-barangnya sendiri.

Nuruti nafsu ngirit gitu kujual aja semua. Uangnya dibagi tiga. Bisa buat tambahan DP rumah. Tapi: bapak-ibuku mengumpulkan barang-barang rongsokan s/d barang-barang nyeni itu sepanjang 40 tahun pernikahan mereka yang berulang-ulang diterjang badai; hidup berpindah-pindah keliling NKRI demi Ayah yang perwira polisi. Each piece tells a story. Mana anak tertuanya ini tega. Kuputuskan untuk ngerumat barang-barang tinggalan orang tua.

image

Setelah kerja otak dan kerja kasar selama hampir 1/2 tahun dan kehilangan 3 kg berat badan, baru tugasku bisa dibilang selesai. Dengar komentar mereka yang tahu rumah ibuku lalu masuk rumah kontrakanku lah yang mendorongku memulai blog ini.

Mulai dari ‘Mbak Rinda pinter nata rumah‘ s/d ‘Barange Kakak apik-apik thok!‘. Komentar yang paling sering: ‘Ini dulu ada dimana, Kak?’. Bahkan Mbak Tin, asisten rumah tangga part-time yang lebih dari 10 tahun kerja di rumah ibuku, heran. Dia tahu SEISI rumahku barang tinggalan dan lungsuran, tapi nggak ada mirip-miripnya dengan dekor rumah ibuku semasa hidupnya dulu.

image

Aku nggak punya rahasia atau bakat ndekor. Pada prinsipnya, ada 4 hal yang kulakukan saat menata rumah kontrakanku. Ibuku dan perempuan segenerasinya nggak kenal 4 konsep ini. Empat-empatnya harus kutulis dalam bahasa aslinya karena aku nggak nemu padanan yang pas. Memang asing dan aneh buat orang-orang kita.

SATU: DECLUTTER

image

Alm. bapak-ibuku nggak bisa ngelepas barang-barangnya meski rusak. Di antara barang-barang tinggalan mereka adalah 2 TV rusak, 2 AC rusak, 2 mesin cuci rusak, 1 kulkas rusak, 6 radio/radio-tape rusak, 3 HP rusak dan seterusnya. Kalau kita nggak bisa ngelepas barang, yang ada bukan menata rumah tapi menumpuk barang dalam rumahClutter itu artinya tumpukan; tidak tertata.

image

Yang kubawa barang-barang tinggalan pilihan:

  1. Semua barang dari kayu dan upholstery (bekleed) meski bentuk dan rupanya dah nggak karuan
  2. Semua barang seni meski rusak
  3. Semua barang koleksi seperti koleksi kain etnis dan selendang ibuku
  4. Untuk barang sama, yang jumlahnya lebih dari satu seperti bantal atau tea-set, kubawa yang paling bagus kondisinya atau yang paling lengkap.
  5. Semua barang yang harga beli barunya mahal seperti karpet dan korden

Sisanya kubagi-bagi untuk keluarga besar dan kujual buat modal mbaguskan perabotan kayu dan bekleed. Yang kusebut dengan SISA ini ada kalau separuh dari semua barang tinggalan.

DUA: COLOR PALETTE

image

Bapak-ibuku nggak kenal sama konsep color palette. Cat tembok selalu warna putih, cat kayu selalu coklat, cat pagar selalu hitam; baju modelnya satu tapi 24 warna; ubin selalu putih kecuali ubin teras, oranye; kamar mandi 3, keramiknya satu putih, satu biru, satu hijau. Sak karepe.

image

Color palette nyuruh kita mbatasi diri di 4-5 warna: 2 warna dominan, 2-3 warna aksen. Karena banyak barang tinggalan yang dari kayu, kupilih palette coklat/putih/merah/emas. Jadi untuk semua kursi, bekleed-nya kuganti warna nuansa putih-coklat. Kalau nggak gitu ya chaotic. Ini kan barang-barang yang dikumpulkan selama 40 tahun, bukannya beli sekaligus di satu toko.

TIGA: EYE-PLEASING ARRANGEMENT

image

Coba masuk ke kamar tidur rumah-rumah Indonesia. Kasurnya lak dimepetkan tembok; meski sempit pasti ada lemarinya. Semua rumah yang pernah kutinggali dengan bapak-ibuku kamar tidurnya gitu semua. Jadi yang dijadikan patokan nata rumah bukan enak nggaknya dilihat mata; maksimal nggaknya pemanfaatan space yang ada.

image

Aku cari penataan yang paling nyenangkan mataku meski Pak Rosidi/Pak Edi/suamiku yang mindah-mindah perabotan harus ngelus-ngelus dada dan geleng-geleng kepala karena si mastermind ini bola/ik bilang ‘Aku berubah pikiran, Pak. Coba dipindah ke atas’. 15 menit kemudian ‘Wah, jelek, Mas. Taruh lagi di bawah‘.

EMPAT: REPURPOSE

image

Orang-orang kita ni dididik untuk nurut, manut. Jadi kalau bapaknya bilang ini meja makan, jadi barang tinggalan pun tetap jadi meja makan. Kalau si anak nggak butuh meja makan, begitu bapaknya meninggal, kalau nggak dijual ya dikasihkan orang. Meja makan kenapa nggak bisa dijadikan meja kerja?

Pada hakikatnya meja kan permukaan berkaki. Meski tujuan pembuatannya bukan buat meja, peti kan juga bisa dijadikan meja; punya permukaan, punya kaki, meski nggak sama dengan kaki meja. Ada bonusnya malah; bisa buat nyimpan barang sekalian. Kalau aku cuma mikir perabotan/barang yang aku butuh, nurut sama definisinya toko atau tujuan beli bapak-ibuku, 99% dari barang tinggalan bapak-ibuku nggak akan kepakai.

image

Kehilangan dua orang tua dalam selisih waktu 18 minggu adalah pukulan berat. Apalagi melihat penderitaan mereka di bulan-bulan terakhir karena sakit; Ayah stroke, Bunda gagal ginjal. Secara mental aku ambruk. Ngerumat barang-barang tinggalan mereka, menata dan memanfaatkannya di rumahku adalah terapiku. Meski untuk itu aku harus ngorbankan tabungan DP rumah demi mencari kontrakan yang lebih besar. Kontrakanku yang lama nggak bisa nampung segitu banyak barang.

Uang sedikit?

Jangan pandang sebelah mata barang-barang peninggalan orang tua terutama barang-barang upholstery dan semua yang terbuat dari kayu. Meski tampilannya kuno, bisa di-upgrade dengan diganti bekleednya, dicat ulang dan diplitur. Ditambah sedikit kerja otak dalam penataan dan pemanfaatannya, jauh lebih murah dan impressive timbang beli baru.

Advertisements

One thought on “Rumah Barang Tinggalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s