Mantenanku

Apakah hidupku cukup menarik untuk diikuti? Mungkin tidak. Yang jelas bisa jadi pelajaran dan penguat batin bagi mereka yang tidak bisa dan/atau tidak mau meletakkan harga dirinya di kekayaan.

Kita mulai dari pernikahanku.

Pernikahanku adalah pernikahan lintas kelas. Baik bapak maupun ibuku berangkat dari keluarga miskin. Profesi Ayah sebagai perwira polisi merubah nasib keduanya. Ayah pensiun sebagai kolonel, ibuku dua kali naik haji dan ketiga anaknya berpendidikan tinggi. Adikku laki sarjana teknik dari ITS, adikku perempuan dokter keluaran Undip, aku sendiri sarjana politik dari Unair.

Suamiku punya latar belakang priyayi tapi kehidupan bapak-ibunya sendiri pas-pasan. Mereka pensiun tanpa penghasilan. Suamiku mulai bekerja tak lama setelah lulus STM. Ketika mengenalnya dia bekerja sebagai operator forklift di sebuah perusahaan swasta dan baru saja menyelesaikan kuliah D3-nya di sebuah akademi swasta yang jujur aja nggak pernah kudengar namanya sebelum kenal dia.

Ketika kami memutuskan menikah sekitar setahun setelah berkenalan, calon suamiku tak punya tabungan. Orang tuanya apalagi. Tiga-tiganya nggak nyangka; ‘Eh, ternyata ada juga jodohnya!’. Dia harus menjual motornya dan ngajukan pinjaman ke pabrik tempatnya bekerja. Dengan uang tabunganku kami bisa mengumpulkan 12 juta-an. Tabunganku sebetulnya lebih dari itu.

Pada saat yang sama dengan lamaran, seorang teman mengajakku patungan memulai kursus Bahasa Inggris franchise; cita-citaku sejak mulai mengajar Bahasa Inggris tahun 2004. Selama 7 tahun menyisihkan penghasilanku demi punya kursusan sendiri. Jadi begitu kesempatan datang, nggak mikir dua kali; 20 juta kutanam di kursusan franchise itu, 4,5 juta untuk sewa kamar di dekatnya selama setahun karena aku ingin keluar dari rumah setelah menikah.

Uang segitu uang kecil buat sebagian orang tapi pilihan menaruh 2/3 tabungan dengan resiko merugi, menjelang pernikahan dengan laki-laki yang bukan cuma tidak mapan tapi juga tidak bisa menabung, butuh nyali besar memang. Berapa orang yang mau mengambil resiko itu? Lebih-lebih perempuan. Pilihan yang membawa konsekwensi besar pada perayaan pernikahanku.

image

Ayah sudah pensiun saat itu. Kekayaan keluarga ada dalam kendali ibuku. Aku dan ibuku adalah dua kepribadian yang bertolak belakang. Aku berkeyakinan pesta pernikahan adalah tanggung jawab orang tua mempelai perempuan kecuali mereka tak mampu; ibuku berkeyakinan pesta pernikahan adalah tanggung jawab Ayahku dan calon suami. Kami berdua sama-sama tak mau mengalah. Atau berkorban.

Kebanyakan orang mungkin akan memilih berhutang dalam situasiku. Keteguhanku untuk tidak berhutang memaksaku membuat rangkaian pilihan yang menguji keberanian dan kecerdasan.

  • Berterus-terang pada ayah-ibuku untuk tidak mengharapkan uang dariku, dari calon suamiku atau kedua orang tuanya. Sebagai imbalan, aku tidak meminta resepsi seperti ketika adikku perempuan menikah 10 tahun sebelumnya. Cukup akad nikah dan acara makan-makan untuk keluarga dan tetangga-tetangga dekat pada saat akad nikah.
  • Uang dari hasil jual sepeda motor calon suamiku dan pinjaman dari pabrik tempatnya bekerja kuputar untuk keperluannya dan keluarganya, yaitu: pengajian di calon mertua, sewa mobil mbawa calon mertua ke rumahku di hari-H, mas kawinku, biaya KUA, uang transport untuk penghulu & Mudin, jamuan makan siang di rumah mertua untuk para pengiringku dan kartu undangan untuk tamu-tamu calon suamiku.
  • Pengeluaran yang nantinya akan kunikmati sendiri, yaitu seserahan atau peningset, kutanggung sendiri. Daripada aku menyulitkan calon mertuaku dengan bersikap masa bodoh dengan keadaan keuangan mereka, lebih baik dana seserahanku untuk bantu-bantu kebutuhan mereka mantu. Meski nggak ada ngunduh mantu, nggak mungkin kan mereka nggak ngeluarkan uang sama sekali?
  • Ketika pada akhirnya ibuku berkeras mengadakan resepsi dan calon suamiku berkeras menyebar 100-an undangan, aku memilih mengundang 25-an orang dengan menggunakan prinsip perwakilan ke akad nikah, bukan resepsi. Tanpa prinsip perwakilan, dengan 2 tempat kerja, 1 komunitas Bahasa Inggris dengan ratusan anggota dan lebih dari 1000 orang yang mengenalku sebagai guru/mantan gurunya (yang pada umumnya melihatku sebagai teman/mbak/anak setelah tidak lagi menjadi guru-murid) berapa yang harus kuundang? Orang-orang pentingku yang tidak kuundang kudatangi atau kutelpon satu-satu. Kujelaskan situasiku. Karena nggak mungkin semua yang kukenal kuhubungi satu-satu, banyak yang dengar pernikahanku dari orang lain setelah acaranya selesai. Ada yang sangat marah dan memutuskan pertemanan. Ada yang membalas dengan tidak mengundangku pada saat mereka menikah walau kami tinggal berdekatan. Cukup menyakitkan tapi itu harga yang harus kubayar untuk menolak tunduk pada kelaziman. Jadi kutelan aja.
  • Karena ibuku yang harus menanggung semua pengeluaran resepsi dan makan-makan di akad nikah, kubiarkan ibuku mengatur semua sesuai keinginannya kecuali satu: penata riasku. Yang menikah kan bukan ibuku. Tampil istimewa kan bukan kebutuhannya. Wajar kalau ibuku mencari perias manten yang nggak mahal. Akupun nggak minta yang mahal tapi buat ibuku pokoknya nggak mahal. Titik. Buatku ada syarat tambahannya: bagus. Demi memastikan tampilanku istimewa, biaya perias dan baju pengantin kujadikan tanggunganku.
  • Dengan danaku nggak mungkin pakai perias manten yang punya nama. Nggak ada gunanya survey di wedding exhibition atau ngumpulkan brosur. Aku konsentrasi di salon-salon dekat rumah. Yang kulihat kebaya yang dipajang. Yang cuma majang 1-2 kebaya: langsung kucoret. Yang kebaya pajangannya nggak pernah diganti: kucoret. Yang model kebayanya sederhana: kucoret. Aku hanya akan pakai kebaya sederhana di mantenanku kalau tampilanku seperti Dian Sastro Wardoyo. Dan syukur alhamdulillah aku nggak salah pilih. Dengan 1,7 juta untuk riasan dan baju sepasang pengantin di akad nikah dan resepsi, semua pangling.

image

Kalau aku menoleh ke belakang, merenungkan pilihan-pilihanku saat itu, ada beberapa yang akan kurubah. Mungkin menunda keinginanku punya kursusan sendiri, menyerahkan 25 juta itu ke ibuku dan menyebar 100-an undangan ke teman-temanku. Mungkin juga tetap memilih menginvestasikan 2/3 tabunganku tapi berusaha keras bermanis-manis ke ibuku agar aku bisa ikut ‘mengatur’ perayaan pernikahanku demi membuatnya menjadi life-event yang lebih berkesan. Aku terlatih untuk menghasilkan impression yang dalam tanpa menghambur-hamburkan uang, ibuku tidak.

Demikianpun, ada dua yang bisa kupastikan. Satu, aku tidak akan menunda pernikahanku demi mengumpulkan uang untuk resepsi. Dua, aku tidak akan menjatuhkan diriku dan suamiku ke dalam lubang hutang demi perayaan pernikahan. Aku tahu apa yang harus kuhadapi setelah menikah jauh lebih besar dan sulit. Aku nggak mau membuatnya menjadi semakin sulit dengan hutang.

Sebagai catatan: hutang di pabrik tempat suamiku bekerja bisa kami selesaikan di bulan kami menikah. Setelah melihat sendiri kehandalan calon istrinya memutar uang, suamiku akhirnya menemukan keberanian meninggalkan tempatnya bekerja selama 10 tahun demi tempat yang lebih baik. Simpanan wajib koperasi karyawan yang cair pada saat dia mengundurkan diri lebih dari cukup untuk menutup hutangnya.

image

Lupakan narkoba, miras, selingkuh dan olahraga ekstrim. Kalau merasa hidup kurang menantang, coba hidup tanpa bersandar pada uang.

Advertisements

7 thoughts on “Mantenanku

  1. saya suka dengan gaya bahasa-mu mbak…jarang-jarang baca blog dengan gaya bahasa seperti ini. benar-benar antimainstream.hihihihi

    -. “Ketika pada akhirnya ibuku berkeras…kutelpon satu-satu……..”
    koyone aku salah 1ne korban telepon iki.wkwkkkwk

    -. “Kalau merasa hidup kurang menantang, coba hidup tanpa bersandar pada uang”
    kata “utang” mungkin lebih tepat ya mbk

    well, congratulation atas kemampuan “lebih”-nya dalam memutar otak untuk memutar uang karena memutar uang itu dibutuhkan nyali yang besar untuk mengatakan TIDAK pada suatu hal yang amat sangat kita sukai (bukan impulse buying ya mbak)

  2. Hidup itu memang yg dibutuhkan kecerdasan dalam berstrategi dan dalam perencanaan kalo mbleset minimal ga jauh dari perencanaan..nice story Rinda bisa nambah wacana dalam kehidupan

  3. Your Marriage story is more impressive than mine, ini lebih ke strategi pemilihan vendor sama budgeting. Kebanyakan pernikahan yang dipaksakan secara finansial ntar bisa jadi Mbendol Mburi *pengalaman pribadi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s